Walau tidak sepenuhnya bersih dari noda, namun ia lebih dicintai rakyat daripada pejabat yang jujur; masyarakat tak henti-hentinya memujinya. Meski selalu bersikap santun dan lembut, kelicikannya melampaui pejabat korup, dengan mudah mempermainkan lawan-lawannya. Ia tak pernah membentuk klik atau mencari keuntungan pribadi, namun pengaruh dan jaringan pertemanannya jauh melampaui kelompok mana pun, sahabat lamanya tersebar di seluruh jajaran pejabat sipil dan militer. Ia melawan pejabat berkuasa, menghukum pejabat korup, mendorong pertanian dan peternakan, serta memajukan perdagangan dan industri, dengan lincah berkelit di antara pejabat sipil, bangsawan, dan lingkungan istana, posisinya pun begitu terhormat. Mulai dari jabatan kecil sebagai bupati kelas tujuh, ia melangkah dengan hati-hati dan mantap, melewati berbagai badai hingga akhirnya memegang kendali negara. Ia menggabungkan keahlian sipil dan militer, memperluas wilayah, menundukkan bangsa-bangsa di sekeliling, dan membangun kejayaan besar di masa Dinasti Ming.
Dalam gelap yang tak berujung, Li Yuntian merasa tubuhnya melayang ringan, seperti sehelai bulu tanpa bobot yang terombang-ambing di udara. Ia tidak tahu berada di mana. Suasana di sekelilingnya sunyi senyap tanpa satu suara pun, membuatnya merasa tertekan dan ketakutan. Ia ingin berteriak agar ada yang memperhatikan, namun tenggorokannya seolah tersumbat kapas, sama sekali tak bisa mengeluarkan suara.
Yang paling membuatnya menderita adalah kemunculan dua potong ingatan di benaknya, yang kerap kali saling bertabrakan, seolah ingin menelan satu sama lain, membuat kepalanya terasa seperti hendak meledak, hingga ia berharap bisa membenturkan kepala sampai mati. Walaupun kedua ingatan itu terputus-putus, namun semuanya terasa nyata, seperti ia benar-benar mengalaminya, sampai-sampai ia tak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang semu.
Satu potongan ingatan berasal dari abad dua puluh satu. Ia adalah seorang presiden perusahaan investasi keuangan internasional ternama, memiliki kekayaan miliaran dolar, sukses dalam karier, dan penuh percaya diri. Suatu ketika, dalam sebuah pertemuan kalangan atas, ia terlalu gembira karena perusahaan mencetak rekor laba tertinggi, hingga menenggak beberapa gelas minuman. Ia berbaring di sofa ruang istirahat untuk memejamkan mata sejenak, namun saat terbangun, ia sudah menjadi seperti sekarang.
Potongan ingatan yang lain berasal dari abad kelima belas. Sejak kecil ia menuntut ilmu dengan tekun, melewati berbagai ujian, dan akhirnya berhasil menempati peringkat menengah pada ujian istana. Ia tidak hanya meraih gelar jin