Waktu berlalu tanpa jejak, perjalanan menuju keabadian bagaikan dunia persilatan. Dari seorang pemuda yang polos dan tak mengerti apa-apa, menjadi ahli strategi yang cerdas, pendekar yang menghunus pedang untuk membunuh, lalu seorang pecinta yang terjerat dalam benang tak berkesudahan antara kasih dan dendam. Hidup pada akhirnya adalah sebuah perjalanan yang penuh warna, dengan kasih dan benci yang sulit dipisahkan. Aku hanyalah anak desa biasa, namun beruntung bertemu makhluk suci, mengangkat pedang untuk memutuskan segala urusan hati!
“Kapan aku bisa menikah dan punya istri?” Itulah pertanyaan pertama yang muncul di benak Chutian ketika ia tiba di dunia ini, sebab keluarga tempat ia dilahirkan sangat miskin. Selain kedua orang tuanya, ia juga memiliki seorang adik laki-laki dan dua adik perempuan. Melihat mereka semua kelaparan, sementara dirinya sendiri baru berusia enam atau tujuh tahun, ia benar-benar ingin bertanya pada ayahnya, mengapa tidak bisa menjaga agar keluarga ini tidak bertambah banyak.
Suatu kali, ia mendengar dari dalam kamar bahwa ayahnya tidak berniat menikahkannya. Malahan, dalam waktu dekat ia akan dikirim ke biara untuk menjadi biksu, supaya setidaknya tidak kelaparan. Dengan kata lain, yang penting bisa tetap hidup. Mendengar itu, bagaikan petir di siang bolong, Chutian langsung menangis meraung-raung di tempat. Namun, tangisan seorang anak kecil tentu saja tidak bisa mengubah keputusan orang dewasa. Sepanjang tahun itu, ia sering murung, dan hari untuk menjadi biksu pun semakin dekat.
Saat Chutian sedang bermain lempar batu di tepi sungai, seorang wanita muda menghampiri sambil membawa sebuah penggiling adonan, mengejarnya dengan wajah kesal, menunjuk hidung Chutian dan memarahinya, “Dasar bocah malas, tiap hari di rumah cuma bermalas-malasan. Lihat saja Wang Hu di rumah sebelah, sudah bisa ikut ayahnya ke gunung menebang kayu.”
Itulah ibunya di kehidupan ini. Chutian sendiri sangat menghormati orang tua dan guru, menganggap langit, bumi, raja, dan guru harus dihormati. Namun, ada beberapa hal yang ia enggan akui, jadi ia langsung membantah, “Jangan bohong, kem