Bab 1: Kukira Kau Seorang Jagoan
"Bangun, jangan tidur lagi, giliranmu jaga malam."
Dalam tidurnya, Mu Jiangli merasa tubuhnya ditendang. Dia mengira ketua tim proyek memergokinya sedang malas-malasan saat lembur dan datang untuk menegurnya. Namun saat membuka mata, dia melihat seorang pria berbadan tegap dan kekar dengan bekas luka panjang di wajahnya sedang menatapnya dari atas sambil memanggul sebilah golok.
"Lihat apa? Minggir, minggir," pria kekar itu memberi isyarat agar dia bergeser.
Mu Jiangli berdiri dengan linglung, lalu melihat pria kekar itu duduk di bawah batang pohon yang baru saja disandarinya, mendekap goloknya, dan langsung tertidur.
Embusan angin sepoi-sepoi bertiup, membuat Mu Jiangli menggigil. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di kedua sisi jalan tanah di tengah hutan, tampak banyak orang tidur malang-melintang. Masing-masing mendekap senjata di tangan mereka. Ada juga beberapa orang yang terjaga, mengawasi keadaan sekitar dengan waspada.
Di tengah tempat semua orang beristirahat, dua kereta kuda terparkir di jalan. Kereta-kereta itu membawa beberapa peti besar yang tersegel rapat, tampak misterius.
Mu Jiangli merasa otaknya kosong. Dia memegang dahinya, berusaha keras untuk memahami situasi saat ini.
Dia tahu betul namanya adalah Mu Jiangli, berusia 22 tahun, baru saja lulus dan bekerja di sebuah perusahaan gim. Saat lembur di malam hari, dia sempat mengobrol seru dengan seorang rekan kerja wanita yang cantik. Rekan kerjanya itu bahkan memujinya tampan dan memiliki nama yang bagus, sangat cocok untuk proyek bertema kuno di perusahaan mereka, bahkan bisa dijadikan model karakter untuk menjadi NPC penting di dalamnya.
"Jangan-jangan ucapannya jadi kenyataan," gumam Mu Jiangli. Bagaimanapun, dia adalah pemuda modern dengan kemampuan adaptasi yang cukup kuat, sehingga dia tidak membiarkan dirinya panik terlalu lama.
Lingkungan di hadapannya ini tidak tampak seperti proyek perusahaan yang sedang dia kerjakan. Namun, dia tetap mencoba menggerakkan tangannya sambil berbisik, "Buka menu, buka me..."
Tidak terjadi apa-apa. Sebelum dia sempat mencoba hal lain, Mu Jiangli merasakan sesuatu yang dingin menempel di lehernya. Dia melirik perlahan ke arah bahu dan lehernya; sebilah pedang sedang bertengger di sana.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya sebuah suara wanita yang dingin.
Secara refleks Mu Jiangli ingin mengangkat kedua tangan di atas kepala, tetapi dia takut orang ini mengira dia ingin melawan dan langsung menebas lehernya. Dia segera menghentikan gerakan tangannya yang baru terangkat setengah, lalu menjelaskan, "Apa yang bisa kulakukan? Aku hanya kurang tidur, dan cuacanya sangat dingin, jadi aku menggerutu sedikit."
Mungkin demi kerahasiaan, tidak ada api unggun yang dinyalakan di sekitar mereka, dan cahaya bulan malam ini juga sangat samar. Gerakan Mu Jiangli tadi memang tidak terlihat seperti sedang mengirimkan kode rahasia. Setelah beberapa saat, pedang di lehernya disingkirkan.
Mu Jiangli baru menoleh dan menatap wanita yang berbicara tadi. Wanita itu mengenakan seragam resmi, yang tampaknya merupakan semacam seragam dinas pemerintah. Saat mengamati sekeliling tadi, dia juga melihat beberapa orang mengenakan pakaian yang sama dengan wanita ini, meski sebagian besar orang lainnya berpakaian sangat kasual.
Sebelum dia sempat membuka mulut, wanita itu sudah menghardiknya, "Jika kalian para narapidana kelas berat tidak mendapatkan kesempatan untuk menebus dosa ini, kepala kalian sudah lama dipenggal. Masih berani kau mengeluh?"
Narapidana kelas berat?!
Mu Jiangli tertegun sejenak, mencoba mengingat sesuatu, tetapi sayangnya ingatan tubuh ini masih kosong melompong.
Dalam hati dia mengumpat kesal. Pemilik asli tubuh ini benar-benar pergi dengan bersih, bahkan tidak menyisakan sedikit pun ingatan untuknya.
Dia memutar otak memikirkan cara untuk mengorek informasi lebih lanjut, dan akhirnya memilih metode membebek: "Menebus dosa?"
Tak disangka, wanita di hadapannya itu benar-benar menjelaskan lebih banyak, "Bukankah sudah dikatakan sebelum berangkat? Asalkan kalian mengantarkan kereta kuda ini dengan selamat, kalian tidak hanya akan dibebaskan dari tuduhan, tetapi juga akan dianggap berjasa. Kenapa? Kau tidak percaya?"
Mu Jiangli menunjuk ke arah peti-peti di atas kereta kuda. "Apakah peti-peti ini sangat penting?"
Wanita itu memperingatkannya, "Tenu saja penting. Sebaiknya kau bersikap penurut dan jangan coba-coba merencanakan hal yang tidak-tidak."
Mu Jiangli menggelengkan kepala, merasa ada yang tidak beres. "Bukan itu maksudku. Maksudku, jika barang ini sangat penting, mengapa membiarkan kami, para narapidana kelas berat ini, yang mengawalnya? Apakah kami memiliki keahlian luar biasa?"
"Keahlian luar biasa?" Wanita itu mendengus mengejek, tampak sangat meremehkan. "Menggunakan kalian hanya untuk mengelabui musuh. Siapa juga yang peduli dengan hidup mati atau pergerakan narapidana kelas berat seperti kalian."
Mu Jiangli terdekam. Karena mereka para narapidana kelas berat ini bukanlah orang-orang berkemampuan khusus yang direkrut secara khusus, dia sudah bisa menebak situasinya.
Dia merasa wanita ini belum menyadari situasi yang sebenarnya, jadi dia memutuskan untuk berterus terang, "Memang tidak ada yang peduli dengan pergerakan kami para narapidana, tetapi ada orang yang peduli dengan isi peti-peti itu. Jika barang ini benar-benar sepenting itu, mengapa mereka membiarkan kalian..."
Mu Jiangli melihat ke sekeliling, menghitung jumlah orang yang berpakaian sama dengan wanita itu. "Membiarkan belasan orang seperti kalian membawa kami yang berjumlah lebih dari dua puluh narapidana kelas berat untuk mengawal barang-barang ini? Apa kalian tidak takut kami melarikan diri di tengah jalan, atau merampas barang-barang ini?"
"Hanya mengandalkan kalian?" Wanita itu melangkah maju setengah langkah saat berbicara. Tatapannya menajam. Seketika, Mu Jiangli merasakan tekanan kuat menerpanya. Tubuhnya terasa seperti tenggelam di dalam air, membuatnya sama sekali tidak bisa bernapas.
Luar biasa, tempat ini benar-benar bukan zaman kuno yang biasa!
Tekanan itu hanya berlangsung sesaat. Wanita itu menatapnya dengan pandangan meremehkan.
Namun, Mu Jiangli masih merasa ada yang janggal. Jika para pengawal ini cukup kuat untuk melindungi peti-peti kayu tersebut, maka membawa mereka para narapidana kelas berat ini menjadi semakin tidak masuk akal.
Hanya untuk sekadar meramaikan jumlah atau sebagai pajangan? Rasanya tidak mungkin!
"Apakah kau telah menyinggung perasaan seseorang?" dia tidak tahan untuk tidak bertanya.
Wajah wanita itu sedikit berubah. "Apa maksudmu?"
"Mungkinkah kita ini umpan?" Mu Jiangli menunjuk ke arah kereta kuda. "Peti-peti kayu ini ditumpuk begitu saja secara mencolok di atas kereta. Jangankan penutup atap, jerami pun tidak ada untuk menutupinya, bahkan selembar terpal pun tidak dipasang. Tidakkah menurutmu ini sangat tidak masuk akal?"
"Tidak mungkin, Tuan sangat mempercayaiku. Jangan menyebarkan rumor menyesatkan di sini." Wanita itu menghardik Mu Jiangli dengan keras. Namun, sebelum kalimatnya selesai, dia tampak menyadari adanya pergerakan mencurigakan dan tiba-tiba menoleh ke arah hutan.
Mu Jiangli mengikuti arah pandangannya. Sebelum matanya menangkap apa pun, suara desingan angin "wussh-wussh" sudah terdengar di telinganya. Kemudian, pepohonan di hadapan mereka meliuk ke kedua sisi, seolah-olah sedang membukakan jalan.
Syuut... Dug!
Sesuatu melesat melewati Mu Jiangli. Saat dia menoleh kembali, dia mendapati wanita yang baru saja berbicara dengannya telah terpaku pada kereta kuda oleh sebatang anak panah. Anak panah itu menembus dada kirinya, tepat mengenai jantung.
Saat ini, mata wanita itu masih terbuka lebar. Pupil matanya yang kehilangan fokus masih menyisakan ekspresi tidak percaya sebelum akhirnya meredup sepenuhnya. Tanpa perlu diperiksa pun, sudah jelas dia telah tewas.
"Sialan, kukira kau orang hebat!" Mu Jiangli hampir saja memaki keras-keras. Setelah itu, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menggerutu dan mengeluh dalam hati, "Sudah kuduga, mana mungkin tidak terjadi apa-apa setelah bertransmigrasi. Saat Surga hendak memberikan tanggung jawab besar kepada seseorang..."
Suara keras tadi telah mengejutkan semua orang hingga terbangun. Anak panah yang dilesatkan musuh tanpa ragu-ragu itu menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak peduli apakah targetnya sedang tidur atau terjaga.
Mu Jiangli berpikir hanya orang bodoh yang akan tinggal untuk bertarung mati-matian. Masalahnya, dia juga tidak memiliki modal untuk bertarung. Dia pun segera menyelinap ke kolong kereta kuda, merayap di bawahnya untuk mencari rute pelarian.
Melihat pedang wanita itu terjatuh di tanah, dia menjulurkan tangan untuk menarik pedang tersebut mendekat. Memiliki senjata di tangan memberinya sedikit rasa aman.
Sayangnya, rasa aman itu langsung hancur berkeping-keping di detik berikutnya oleh para pembunuh berpakaian hitam yang menyerbu keluar dari hutan. Para narapidana kelas berat dan pengawal yang baru terbangun di sekitarnya sama sekali tidak mampu memberikan perlawanan terhadap serangan mendadak ini, satu demi satu tumbang bersimbah darah.
Mengingat orang-orang ini kemungkinan besar mengincar barang bawaan di atas kereta, Mu Jiangli tahu bahwa bersembunyi di bawah kereta pun tidak akan menyelamatkannya dari kematian. Namun, dia benar-benar tidak tahu bagaimana cara meloloskan diri. Tepat pada saat itu, seorang pengawal melompat ke atas kuda, menjepit perut kuda dengan kedua kakinya, lalu menyentakkan tali kekang: "Ciaat!"
Melihat hal itu, Mu Jiangli segera meraba-raba bagian bawah kereta. Ternyata dia benar-benar menemukan tempat untuk berpegangan, lalu segera mencengkeramnya erat-erat.
Kereta kuda melaju kencang. Namun, sebelum sempat melaju jauh, anak panah kembali melesat. Dua anak panah berturut-turut; satu mengenai orangnya, satu lagi mengenai kudanya. Kuda itu roboh dan kereta pun terbalik, peti-peti terjatuh, dan Mu Jiangli ikut terlempar keluar.
Untungnya, kereta itu terbalik ke arah datangnya anak panah, sehingga secara tidak langsung melindungi Mu Jiangli. Terlebih lagi, kereta sempat meluncur cukup jauh, sehingga tidak ada pembunuh di dekat tempat Mu Jiangli terlempar di pinggir jalan. Dia tidak berani melewatkan kesempatan ini dan segera menerobos masuk ke dalam hutan.
Sayang sekali, jejaknya tetap terlihat. Di atas lereng bukit, berdiri seorang pria dengan pakaian yang menyerupai jubah Yesa dinasti Ming. Wibawanya luar biasa. Pria itu menarik tali busur dengan ibu jarinya hingga melengkung seperti bulan purnama. Menatap ke arah pelarian Mu Jiangli, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Seberapa keras pun mangsanya meronta, semuanya akan sia-sia.
Namun, sesaat sebelum dia melepaskan anak panahnya, seseorang di sampingnya tiba-tiba berseru terkejut, "Tuan, lihat!"
Teriakan yang terdengar saat dia sedang berkonsentrasi penuh itu membuat sang pria tidak jadi melepaskan anak panahnya. Amarahnya tersulut, dan baru saja dia hendak menghardik bawahannya yang lancang, pandangannya menyapu ke arah yang ditunjuk oleh bawahan tersebut. Keningnya sedikit berkerut. Ternyata peti di kereta kuda yang satunya telah terbuka, dan di dalamnya hanya berisi tumpukan batu.
"Cih!" Pria itu mencibir. Dia tampak tidak terlalu terkejut, hanya merasa agak kesal.
Sebelum datang, seseorang telah memperingatkannya bahwa rombongan ini kemungkinan besar adalah salah satu dari sekian banyak umpan. Namun, dia berpikir bahwa apa yang tampak nyata bisa jadi palsu, dan apa yang tampak palsu bisa jadi nyata. Umpan yang begitu payah ini justru mungkin saja adalah yang asli. Sayangnya, dia agak menilai terlalu tinggi orang-orang ini.
Karena barang di dalam peti itu palsu, tidak ada gunanya lagi dia tetap tinggal di sini. Pemuda tadi berlari secepat kelinci dan menyelinap ke dalam hutan; dia adalah mangsa yang cukup menarik untuk melampiaskan kekesalannya.
"Kalian selesaikan sisanya. Jika sudah beres, langsung kembali saja." Pria itu menenteng busurnya, meninggalkan perintah singkat, lalu bergegas mengejar ke arah pelarian Mu Jiangli!
"Baik, Tuan," sahut bawahannya dengan terburu-buru sambil menundukkan kepala.
Adapun cara menyelesaikan sisanya, tentu saja dengan tidak menyisakan satu pun yang hidup!