Ujian Masuk Perguruan Tinggi
Tanggal 7 Juni adalah hari yang sangat penting di Tiongkok. Pada hari ini, tak terhitung banyaknya pelajar akan menghadapi ujian pertama dalam hidup mereka, sepuluh tahun belajar keras demi satu kesempatan. Sudah satu minggu sejak Chen Feng kembali dari Benua Valoran, dan ia pun mulai terbiasa tidur sendirian di malam hari, juga terbiasa bangun pagi tanpa harus hati-hati menggeser Lucian dari samping pahanya.
“Xiao Bai, hari ini kamu tinggal di rumah saja, ya. Aku mau ikut ujian masuk perguruan tinggi, mana mungkin bisa membawamu masuk,” ujar Chen Feng pada Xiao Bai. Kini, karena selama di Benua Valoran Xiao Bai hampir selalu bersama Lucian, ia tak lagi terlalu lengket dengan Chen Feng. Hanya menoleh padanya, Xiao Bai mengeluarkan suara pelan lalu kembali merebahkan diri untuk tidur.
Di perjalanan, Chen Feng mengayuh sepedanya menuju sekolah, yang juga menjadi salah satu lokasi ujian. Sepanjang jalan, di mana-mana tampak calon peserta ujian yang ditemani orang tua mereka. Belum pernah ia melihat peserta ujian yang datang seorang diri seperti dirinya. Di zaman ini, anak-anak di rumah diperlakukan bak permata, apalagi menjelang ujian masuk perguruan tinggi; mereka benar-benar dijaga dengan sangat hati-hati.
Namun, Chen Feng sama sekali tidak merasa bahwa datang sendiri ke ujian berarti orang tuanya tidak peduli padanya. Sejak dulu ia sudah mandiri, dan setelah beberapa bulan hidup di Benua Valoran, ia menjadi semakin mandiri. Menurutnya, kalau tiba-tiba ayah dan ibunya datang menemaninya ke ujian, justru ia akan merasa aneh.
Ujian pagi hari dimulai pukul sembilan. Namun banyak peserta bahkan sudah menunggu di luar lokasi ujian dua jam lebih awal. Saat Chen Feng tiba, sudah sangat ramai. Sebenarnya, peserta ujian hanya sekitar seperempat dari kerumunan itu, sisanya adalah keluarga, kerabat, atau guru pendamping.
Chen Feng berusaha keras menembus kerumunan, dan dengan susah payah akhirnya menemukan barisan kelasnya. Ia sudah berkeringat deras; cuaca memang panas, dan berdesakan di antara banyak orang wajar saja membuatnya banjir keringat.
Ia menyeka keringat di dahinya dengan tangan, diam-diam menyesal tak membawa tisu.
“Nih, untukmu.” Suara bening bagaikan denting lonceng terdengar, dan selembar tisu diulurkan ke arahnya.
“Eh, terima kasih.” Chen Feng tertegun, menerima tisu itu dan mengusap wajahnya, baru kemudian menoleh. Begitu melihat siapa yang ada di depannya, ia kembali terpaku.
Melihat Chen Feng membelalakkan mata dengan wajah tak percaya, Shangguan Qingxue tersenyum tipis dan berkata, “Kenapa? Tidak kenal aku lagi ya, penyelamatku?”
Tak salah, gadis di depannya memang Shangguan Qingxue, yang pernah diselamatkan Chen Feng. Setelah urusan keluarga Shangguan selesai, ia ikut kakeknya, Shangguan Junwei, untuk belajar mengelola perusahaan keluarga. Kemunculannya di tempat ini sungguh di luar dugaan Chen Feng.
“Bukankah kamu sudah pergi bersama kakekmu? Kenapa hari ini ada di sini?” tanya Chen Feng setelah kembali tenang.
“Dengar-dengar penyelamatku hari ini ikut ujian masuk perguruan tinggi, tentu saja aku buru-buru pulang untuk memberimu semangat!” jawab Shangguan Qingxue sambil menjulurkan lidahnya dengan manja.
Entah kenapa, Chen Feng merasa Shangguan Qingxue banyak berubah. Dulu dia gadis yang pendiam dan lembut, kini terasa jauh lebih ceria. Namun setelah dipikir-pikir, ia bisa memahami perubahan itu. Dulu, sejak kecil orang tuanya sudah tiada, di keluarga Shangguan posisinya kadang bahkan tak lebih dari pelayan, hingga akhirnya karena dipaksa menikah ia sampai ingin bunuh diri. Kini, bukan saja ia telah mengatasi beban psikologis bertahun-tahun, tapi juga menjadi calon pewaris keluarga Shangguan. Perubahan sikap tentu wajar.
“Jangan panggil aku penyelamat-penyelamat terus, aku jadi merasa bersalah,” kata Chen Feng sambil pura-pura merasa bersalah.
“Kamu bersalah kenapa?” tanya Shangguan Qingxue heran.
Chen Feng menatap Shangguan Qingxue dari atas ke bawah. Saat gadis itu mulai terlihat tak nyaman, dia bercanda, “Biasanya, setelah pahlawan menyelamatkan gadis, sang gadis harus membalas budi dengan menyerahkan diri. Jadi aku takut kamu punya niat buruk padaku.”
“Cih, kamu? Aku mau punya niat buruk pun rasanya susah!” jawab Shangguan Qingxue setengah mencibir setelah sempat terdiam.
“Eh, baiklah, aku bercanda kok. Ngomong-ngomong, kamu sekarang baik-baik saja kan?”
“Bagaimana ya?” jawab Shangguan Qingxue sambil mengetuk dagunya dengan ujung jari yang ramping, “Paling tidak hidupku sekarang lebih tenang daripada dulu, meski sekarang setiap hari harus belajar ini-itu, lumayan melelahkan.”
Chen Feng bisa memaklumi. Bagaimanapun, sekarang usia Shangguan Qingxue baru 19 tahun. Seharusnya gadis seusianya bisa menjalani hidup di kampus dengan riang seperti dirinya, tapi karena urusan keluarga, ia harus mulai mempelajari manajemen perusahaan besar sejak dini.
Saat Chen Feng hendak bicara lagi, tiba-tiba bahunya ditepuk seseorang. Ia refleks menoleh.
“Wen Ya, kenapa kamu di sini?” Orang yang datang adalah Wen Ya, ketua kelas mereka.
Wen Ya melirik Shangguan Qingxue, merasa gadis cantik itu asing dan sedikit cemburu. Ia berkata pada Chen Feng, “Sebentar lagi masuk ruang ujian, kamu masih sempat-sempatnya menggoda gadis cantik.”
“Eh, sudah jam setengah sembilan ya?” Pukul setengah sembilan memang waktu masuk ruang ujian. Chen Feng memang berangkat pukul delapan dari tempat kontrakannya, jadi waktunya memang sudah hampir.
“Jelas saja!” jawab Wen Ya.
Chen Feng mengangguk, lalu menoleh pada Shangguan Qingxue. “Qingxue, aku masuk ke ruang ujian dulu ya.”
Shangguan Qingxue tersenyum, “Silakan, aku ke toko teh susu di seberang dulu, nanti setelah ujian selesai kamu cari aku di sana.”
“Baik.”
Setelah itu, Chen Feng dan Wen Ya berjalan ke ruang ujian. Wen Ya pura-pura cuek bertanya, “Hei, siapa tadi gadis itu? Kalian kelihatan akrab sekali.”
Chen Feng tak merasa ada yang aneh, lalu menjawab, “Dia teman yang baru kukenal belum lama ini, ya cukup akrab.”
Wen Ya mendengarnya, ingin bertanya lebih jauh tapi tak enak hati, jadi hanya mendengus pelan dan berjalan lebih dulu ke dalam ruang ujian dengan wajah dingin.
Reaksi Wen Ya yang tiba-tiba ini membuat Chen Feng bingung, tak tahu harus bagaimana.
Namun, meski heran, ia tak terlalu memikirkannya dan segera menyusul.
Mata pelajaran pertama ujian nasional adalah Bahasa. Pelajaran ini bisa dibilang yang tersulit sekaligus termudah. Sebab, asal punya dasar, sulit untuk mendapat nilai jelek—ini bahasa ibu, jadi pasti ada kemampuan dasarnya. Tapi, sekaligus paling sulit untuk mendapat nilai sempurna, karena jawaban tidak seobjektif mata pelajaran lain. Khususnya pada bagian esai, nilai tinggi hanya bisa didapat dari akumulasi dan kemampuan pribadi, bukan sekadar menghafal. Karena itu, setiap tahun mudah ditemukan peserta yang mendapat nilai sempurna di pelajaran lain, tapi sangat jarang di Bahasa.
Chen Feng mendapat tempat duduk di baris kedua, kursi nomor satu. Saat itu, ia merasa bingung. Tentu bukan karena duduk tepat di bawah pengawasan guru, kalau sebelum punya kemampuan belajar seperti sekarang, mungkin ia akan merasa sial. Tapi kini, yang ia bingungkan adalah, harusnya ia mendapat nilai berapa.
“Kalau dapat nilai sempurna, apa terlalu mencolok?” gumamnya pelan sambil memutar pena.
Saat lembar soal dibagikan, Chen Feng masih ragu. Sementara peserta lain sudah mulai menulis dengan cepat, takut kehabisan waktu.
Sepuluh menit berlalu, Chen Feng masih saja menatap lembar soal tanpa bergerak.