81. Bayangan Ketujuh, Chu Bingjie
Ujian masuk perguruan tinggi selama dua hari pun akhirnya usai dalam suasana tegang. Namun, bagi Chen Feng, semuanya hanyalah sebuah formalitas. Pada tiga ujian berikutnya, ia tidak berani lagi seperti pertama kali, selesai lebih awal dan langsung keluar. Meskipun tiap kali ia menuntaskan soal-soal dengan cepat, ia tetap menunggu hingga waktu habis sebelum menyerahkan kertas ujian. Setelahnya, setiap kali Huang Liangshu menanyainya tentang hasil ujian, Chen Feng hanya setengah hati berbagi jawaban dengan teman-teman lain. Sikapnya yang menahan diri ini membuat Huang Liangshu pun tidak lagi bereaksi seheboh sebelumnya.
Sementara itu, Shangguan Qingxue hanya menemani Chen Feng pada hari pertama. Di hari kedua, karena urusan perusahaan, ia buru-buru pergi, meninggalkan nomor telepon agar Chen Feng mencarinya saat liburan musim panas tiba.
Usai ujian masuk perguruan tinggi, tentu saja para siswa mengadakan pesta perpisahan terakhir. Malam itu, kelas Chen Feng berkumpul di sebuah hotel di kota kecil tempat mereka tinggal.
Menjelang pukul sebelas malam, pesta selesai. Chen Feng pun keluar dari hotel sambil menopang tubuh Wen Ya yang mabuk berat. Mencium bau alkohol yang menyengat dari tubuh Wen Ya, Chen Feng mengernyitkan dahi dan berkata, “Nona besar, kalau tak bisa minum, kenapa masih ikut-ikutan minum dari botol?”
Wen Ya yang hampir seluruh berat badannya bertumpu pada Chen Feng, sudah hampir kehilangan kesadaran. Dengan sisa-sisa kesadarannya, ia masih sempat mengomel, “Siapa bilang aku nggak bisa minum? Percaya atau tidak, aku masih bisa...”—belum sempat selesai bicara, ia langsung muntah.
Untunglah Chen Feng sigap menghindar, kalau tidak pasti seluruh tubuhnya sudah basah kena muntahan. Ia hanya bisa menepuk punggung Wen Ya dengan pasrah. “Sudah, jangan bicara lagi.”
Setelah Wen Ya selesai muntah, Chen Feng mengeluarkan tisu untuk membersihkan mulutnya. Gadis itu menatap Chen Feng dengan mata yang mulai nanar. Setelah mulutnya bersih, ia tampak ingin berkata sesuatu, namun akhirnya hanya memeluk Chen Feng erat-erat dan langsung terlelap dalam pelukannya.
Chen Feng pun kembali menopang tubuh Wen Ya dan baru sadar kalau gadis itu benar-benar sudah tertidur. Tidak ada pilihan lain, kali ini ia harus bersusah payah menggendongnya di punggung. “Astaga, ternyata berat juga, benar-benar luar biasa,” gumam Chen Feng sambil melangkah pulang.
Saat Chen Feng tiba di rumah kontrakannya, waktu sudah hampir menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Baru saja duduk dan hendak minum air, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.
“Eh?” Chen Feng meletakkan gelas, mendengarkan dengan saksama, namun suasana di luar sunyi senyap.
“Jangan-jangan aku juga mabuk?” gumam Chen Feng sambil hendak melanjutkan minum. Namun, belum sempat meneguk, suara ketukan di pintu kembali terdengar, kali ini jelas sekali.
“Ada apa ini? Malam-malam begini siapa yang datang?” Chen Feng bangkit dan berjalan menuju pintu.
Kali ini suara ketukan tidak berhenti. Setelah ragu sejenak, Chen Feng pun membuka pintu. Begitu pintu terbuka, seseorang langsung ambruk masuk ke dalam, membuat Chen Feng terkejut bukan main. Begitu sadar bahwa yang jatuh adalah seorang manusia, ia pun sedikit tenang.
Orang yang tergeletak di lantai itu berpakaian serba hitam, persis seperti penjahat malam dalam film laga klasik. Namun, ada sesuatu yang menarik perhatiannya: di sekitar pinggang orang itu, darah perlahan mengalir membasahi lantai. Ketenangan hatinya pun seketika lenyap.
Saat Chen Feng hendak mendekat untuk memeriksa kondisi orang itu, dari luar pintu yang terbuka terdengar suara seorang pria.
“Ying Qi, kau seharusnya tidak mengkhianati organisasi. Sungguh, aku pun tidak ingin mengejarmu. Tapi kali ini organisasi telah mengeluarkan perintah pembunuhan mutlak, aku tak bisa melawan perintah!”
Chen Feng tertegun, berpikir harus berbuat apa. Tiba-tiba, orang yang terbaring di lantai itu dengan susah payah bangkit duduk. Saat ia menatap Chen Feng, jelas terlihat keheranan di matanya.
Saat itulah Chen Feng baru menyadari bahwa si berpakaian hitam ternyata seorang wanita, dan wanita itu sangat cantik. Wajahnya putih bersih bagai porselen, alisnya melengkung indah, dan matanya tajam berkilau seperti bintang di malam dingin. Meski ada noda darah di sudut bibirnya, ia tampak begitu lemah hingga siapapun akan merasa iba melihatnya.
Chu Bingjie, dengan keahlian meringankan tubuh yang tinggi dan penguasaan teknik pembunuhan, menempati peringkat ketujuh di organisasi bayangan. Karena itu ia dijuluki Bayangan Ketujuh. Bayangan adalah organisasi pembunuh nomor satu di dunia. Tak seorang pun tahu berapa banyak anggotanya, bahkan di dalam organisasi sendiri, kecuali ketua, tak ada yang tahu kebenarannya. Siapa pun yang sanggup membayar, secara teori, bisa memesan pembunuhan atas siapa saja melalui Bayangan. Namun, mereka juga tidak sembarangan menerima tugas—misalnya, membunuh kepala negara adidaya, itu pasti ditolak.
Sebagai pembunuh peringkat tujuh, alasan Chu Bingjie dikejar organisasi hingga keluar perintah pembunuhan mutlak adalah karena ia tanpa sengaja mengetahui rahasia terbesar Bayangan dan langsung membelot. Tiga hari lalu, ketika menerima perintah bertemu ketua, ia tanpa sengaja mendengar percakapan antara ketua dan seorang misterius. Dari percakapan itu, ia tahu bahwa Bayangan bukan sekadar organisasi pembunuh, melainkan lembaga yang didirikan pemerintah Jepang untuk menghimpun informasi dan kekayaan dari berbagai negara. Sebetulnya, sebagai pembunuh, Chu Bingjie tidak punya nasionalisme yang kuat. Namun ia menyimpan dendam mendalam terhadap pemerintah Jepang.
Keluarga Chu, dulunya keluarga ahli bela diri ternama di kawasan selatan, dua puluh tahun lalu musnah dalam satu malam. Chu Bingjie adalah satu-satunya yang selamat. Saat itu, ia masih berusia tujuh tahun. Ia lolos karena hari itu bermain petak umpet dengan kakak-kakaknya, bersembunyi dalam gentong beras di ruang bawah tanah, hingga tertidur dan baru sadar esok paginya. Ia mendapati rumah penuh mayat dan darah; semua keluarganya tewas. Sejak itu ia masuk panti asuhan. Sebagai keturunan keluarga bela diri, ia sudah mengenal seni bela diri sejak kecil, bahkan sejak usia lima tahun orang tuanya mulai mengajarinya jurus andalan keluarga, langkah secepat kilat. Namun, waktu kecil ia belajar sambil lalu. Setelah keluarganya musnah dan ia masuk panti asuhan, ia seperti tumbuh dewasa dalam semalam. Setiap malam, ia berlatih diam-diam. Karena tak ada yang membimbing, kemajuannya lambat, hingga usia enam belas tahun, setelah sembilan tahun berlatih, ia baru sedikit menguasainya dan mulai mencari tahu penyebab kehancuran keluarganya.
Selama empat tahun ia menyelidiki, namun tetap tak mendapat petunjuk apa-apa. Sampai suatu hari, seorang yang mengaku dari Bayangan muncul menawarinya bergabung. Demi menemukan kebenaran tentang kehancuran keluarganya, ia pun menerima tawaran itu. Lima tahun setelah masuk organisasi, akhirnya ia menemukan jawabannya: keluarganya dibasmi oleh ahli yang dikirim pemerintah Jepang, karena tertarik pada ilmu langkah secepat kilat. Namun, tampaknya pemerintah Jepang tidak berhasil mendapatkannya. Sejak saat itu, Chu Bingjie menyimpan dendam pada pemerintah Jepang. Ia sadar dirinya tidak cukup kuat untuk membalas dendam sendirian, maka selama dua tahun terakhir, setiap ada misi terkait Jepang, apapun bentuknya, ia selalu mengambilnya, sembari terus berlatih demi menjadi cukup kuat untuk melawan mereka.
Setelah membelot dari organisasi, ketua segera mendapat kabar dan demi menjaga rahasia, memerintahkan pembunuhan mutlak atas dirinya. Dalam tiga hari pelarian, berkali-kali ia hampir tewas, namun berhasil lolos berkat jurus langkah secepat kilat yang mendadak menembus batas. Kali ini, ia datang ke kontrakan Chen Feng karena saat tugas di keluarga Shangguan, ia mengira Chen Feng adalah seorang ahli. Kini, dengan luka parah, ia berharap bisa berlindung sementara di sini.
Namun, saat melihat yang ada hanya Chen Feng yang masih muda, jauh dari bayangannya tentang seorang ahli, perasaannya berubah dari kaget menjadi kecewa. Apakah dendam keluargaku memang tidak akan pernah bisa terbalaskan? Chu Bingjie mulai merasa putus asa.