Bab 11: Awal Mula Gejolak di Istana
Halaman (1/3)
Pagi hari, sinar matahari yang hangat dan lembut bagaikan kain sutra emas, dengan lembut menyinari atap istana yang berlapis ubin kaca berwarna keemasan, memantulkan cahaya yang gemerlap dan memukau. Pangeran Mahkota Li Zeyu mengenakan jubah mewah berhias sulaman naga yang tampak hidup, seolah-olah siap terbang ke angkasa kapan saja. Sosoknya tegak seperti pohon pinus, langkahnya mantap dan kuat, berjalan seperti biasa menuju ruang baca kerajaan. Wajahnya yang tampan bagaikan giok yang dipahat dengan cermat, alisnya memancarkan aura bangsawan dan keteguhan sejak lahir, matanya yang dalam berkilau dengan cahaya kebijaksanaan.
Di taman istana, bunga-bunga bermekaran indah, kelopak berwarna-warni bergoyang lembut tertiup angin, mengeluarkan aroma memikat. Li Zeyu melangkah di jalan setapak yang berkelok-kelok, di kedua sisi jalan tumbuh bunga dan tumbuhan eksotis yang bersaing memamerkan keindahan, memanjakan mata. Namun pikirannya sama sekali tidak tertarik pada pemandangan memesona itu, karena belakangan ini berbagai urusan di istana seperti kabut tebal yang membelit benaknya. Saat itu, suara lembut namun sinis datang seperti angin dingin: “Oh, bukankah ini Pangeran Mahkota? Belakangan ini kau memang sedang menjadi sorotan di istana.”
Li Zeyu mengerutkan alis sedikit, menatap ke arah suara itu. Terlihat Permaisuri Wu mengenakan gaun mewah dengan sulaman rumit yang dibuat dari benang emas dan perak, sangat memukau. Di kepalanya terpasang perhiasan permata yang berkilauan, setiap batu berpendar cemerlang, namun tidak mampu menyembunyikan ekspresi tajam dan penuh kebencian di wajahnya. Riasan wajahnya halus, alisnya tipis dan sedikit terangkat, matanya yang sipit memancarkan rasa tidak suka dan iri. Ia menggerakkan pinggang rampingnya dengan anggun, melangkah bagaikan bunga teratai yang mekar, namun aura dingin yang menakutkan menyelimutinya.
Li Zeyu menekan ketidaksukaannya dalam hati, membungkuk hormat dan berkata, “Permaisuri Wu, semoga Ibu dalam keadaan sehat. Mohon tahu maksud perkataan Ibu.”
Permaisuri Wu mengejek, “Hmph, bocah kecil, jangan pura-pura tidak tahu di hadapanku. Aku tahu semua gerak-gerikmu di istana. Kekuasaan di istana ini tidak mudah dikendalikan, hati-hati jangan sampai kau terjatuh dan hancur berkeping-keping.”
Li Zeyu menjawab dengan tegas tanpa merendahkan diri, “Ibu mungkin salah paham, aku sepenuh hati demi kebaikan kerajaan dan meringankan beban Ayahanda, tidak ada niat tersembunyi apapun.”
Wajah Permaisuri Wu mengeras, suaranya meninggi, “Jangan kira karena kau Pangeran Mahkota bisa bertindak semaumu. Ada banyak aturan di istana ini, sedikit kesalahan, posisi pangeranmu bisa goyah.”
Tatapan Li Zeyu mantap, menatap langsung ke Permaisuri Wu, “Ibu tenanglah, aku akan berhati-hati dan tidak akan mengecewakan harapan dan kepercayaan Ayahanda.”
Permaisuri Wu mendengus ringan, “Semoga begitu, jaga dirimu baik-baik.” Setelah itu, ia melirik sinis ke arah Li Zeyu, lalu menggerakkan pinggangnya dan pergi bersama sekelompok dayang istana. Wewangian kantong harum yang dibawanya bergoyang tertiup angin, meninggalkan aroma kuat yang membuat Li Zeyu merasa mual.
Li Zeyu menatap punggungnya yang menjauh, hatinya penuh kegelisahan. Ia tahu betul kekuasaan Permaisuri Wu di istana sangat rumit, keluarganya berpengaruh besar di pemerintahan, dan ia sangat dicintai oleh Kaisar sendiri. Kata-katanya bukan sekedar basa-basi, nalurinya memberitahu bahwa sebuah konspirasi yang dirancang rapi mungkin sedang mengintainya diam-diam.
Siang hari, cahaya matahari menembus jendela ukir seperti benang emas yang menyinari lantai ruang baca, membentuk bayangan bercorak. Di dalam ruang baca, rak-rak buku dipenuhi naskah kuno berharga, di atas meja tertata batu tinta halus dan beberapa kuas kaligrafi terbaik. Li Zeyu duduk di depan meja, membolak-balik sebuah buku kuno, namun pikirannya tidak fokus pada bacaan. Kata-kata Permaisuri Wu pagi tadi seperti mantra yang terus menghantui benaknya, membuatnya gelisah.
“Pangeran Mahkota, Zhen Huan menghadap,” suara lembut seorang dayang memecah keheningan ruang baca, suaranya seperti angin musim semi yang hangat dan lembut.
“Cepat masuk,” jawab Li Zeyu meletakkan bukunya, duduk tegak, dan merapikan jubahnya.
Zhen Huan melangkah ringan masuk ke ruang baca, mengenakan pakaian istana berwarna biru muda dengan sulaman anggrek sederhana namun anggun di bagian bawah rok, tampak segar dan memikat. Pinggangnya diikat pita sutra putih yang menonjolkan lekuknya yang ramping. Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan peniti giok hijau yang sederhana namun elegan. Wajahnya putih seperti giok, matanya bening dan memancarkan kecerdasan dan kelembutan. Bibirnya merah seperti buah ceri, tersenyum sedikit memperlihatkan dua lesung pipi yang menambah manis pesonanya.
Ia sedikit membungkuk memberi hormat, “Menghadap Pangeran Mahkota,” suaranya merdu seperti burung kutilang keluar dari lembah, jernih dan menyenangkan.
Halaman (2/3)
Li Zeyu segera berkata, “Jangan pakai adat itu.”
Tatapan mereka bertemu, mata Zhen Huan penuh kelembutan dan kecerdasan. Bibir merahnya terbuka pelan, berbisik, “Dengar-dengar Yang Mulia sedang banyak pikiran, apakah Zhen Huan boleh membantu menghilangkan beban itu?”
Li Zeyu menghela napas, berkata, “Di istana ini hati manusia sangat rumit. Aku yang baru pertama kali terjun ke dunia perebutan kekuasaan sudah merasa setiap langkah penuh bahaya. Pertarungan terang-terangan maupun tersembunyi membuatku sulit berjaga-jaga. Sedikit saja salah langkah, bisa berakibat fatal.” Matanya memancarkan kelelahan dan ketidakberdayaan.
Zhen Huan tersenyum lembut, senyuman itu seperti angin musim semi yang menyegarkan, membuat hati nyaman, “Jangan khawatir, Yang Mulia, selama teguh pada hati nurani, tidak tergoda kuasa dan kepentingan, pasti bisa menghadapi segala bahaya. Lagipula, Yang Mulia berhati mulia dan cerdas, semua tipu daya pasti terungkap.”
Li Zeyu menatapnya dengan hangat, “Zhen’er, kau bilang mudah, tapi persaingan di istana jauh lebih kejam dari yang kau bayangkan. Orang-orang demi kekuasaan dan kedudukan rela melakukan apa saja, bahkan mengorbankan nyawa orang lain. Aku meski Pangeran Mahkota, tetap merasa berjalan di atas es yang tipis.”
Zhen Huan mendekat, berkata lembut, “Yang Mulia, aku tak mengerti urusan pemerintahan, tapi aku percaya dengan kecerdasan dan kebaikan hati Yang Mulia, pasti bisa mengungkap tipu daya para musuh. Aku bersedia menemani Yang Mulia menghadapi semuanya.” Matanya penuh keteguhan dan kepercayaan.
Dalam percakapan singkat itu, benih rasa suka mulai tumbuh di hati keduanya. Li Zeyu merasa kehadiran Zhen Huan di tengah persaingan istana seperti cahaya hangat yang menerangi jalan gelapnya.
Malam tiba, lampu-lampu di istana perlahan menyala. Cahaya kuning redup berayun di kegelapan seolah akan segera ditelan kegelapan. Li Zeyu berjalan sendiri di istana, mencoba melepaskan kegelisahan di hati. Saat melewati sebuah istana tua yang terbengkalai, ia mendengar suara tangisan samar dari dalam.
Rasa penasaran membuatnya masuk ke dalam, istana itu tampak angker dan menakutkan. Pintu dan jendela tua berderit tertiup angin, seolah menceritakan kesedihan masa lalu. Cat di dinding mengelupas, meninggalkan bekas kusam layaknya luka waktu. Lantai penuh debu dan sarang laba-laba, udara dipenuhi bau busuk.
Di sudut, seorang dayang tua terkulai menangis, rambutnya kusut seperti rumput kering, wajahnya penuh kerutan, matanya penuh ketakutan dan putus asa. Pakaian lusuh penuh tambalan menempel di tubuhnya.
Li Zeyu bertanya pelan, “Nenek, kenapa menangis di sini?”
Dayang tua itu menatapnya dengan mata penuh ketakutan, ingin bicara tapi terhenti.
Li Zeyu berjongkok, suaranya lebih lembut, “Jangan takut, aku tak akan menyakitimu, ceritakan apa yang membebanimu.”
Setelah didesak, dayang tua itu gemetar berkata, “Yang Mulia, di istana ini ada rahasia yang tak boleh diketahui. Orang-orang berkuasa demi kepentingan sendiri rela melakukan apa saja, mengorbankan nyawa tak berdosa.”
Belum selesai bicara, sekelompok bayangan hitam muncul seperti hantu. Mereka berpakaian hitam lengkap dengan penutup wajah, hanya mata dingin tanpa belas kasihan yang terlihat. Salah satu dari mereka kasar menarik dayang tua itu pergi, yang berseru ketakutan, “Yang Mulia, tolong aku!”
Halaman (3/3)
Li Zeyu berusaha menghentikan tapi didorong kuat oleh salah satu dari mereka. Ia terhuyung beberapa langkah hampir terjatuh. Dalam gelap hanya terdengar suara dayang tua itu semakin jauh, meninggalkan Li Zeyu penuh tanda tanya dan kemarahan.
Keesokan harinya, di ruang sidang istana, suasana sangat serius dan sakral. Kaisar duduk di singgasana naga, wajahnya kelam seperti badai yang hendak melanda. Ia mengenakan jubah naga kuning cerah dengan sulaman sembilan naga emas yang tampak siap melompat keluar. Tatapan Kaisar tajam seperti pedang, membuat orang tak berani menatap langsung.
“Pangeran Mahkota Li Zeyu, ada tuduhan bahwa kau menggelapkan dana kerajaan. Apakah kau mengakui kesalahanmu?” suara Kaisar bergemuruh mengisi ruang sidang, penuh wibawa dan menakutkan.
Li Zeyu segera berlutut membela diri, “Ayahanda, saya tidak melakukan hal itu. Saya sepenuh hati demi kerajaan dan rakyat, tidak mungkin berbuat seterbalik itu. Pasti ada yang berniat memfitnah saya, mohon Ayahanda bijak menilai.” Suaranya tegas dan penuh kejujuran.
Namun seorang pejabat menyerahkan bukti yang tampak kuat, buku catatan dengan tulisan rapi dan stempel merah mencolok, seolah tak terbantahkan.
Li Zeyu membelalak mata, terkejut dan bingung, “Ini jelas fitnah, saya belum pernah melihat dokumen ini! Ada yang sengaja memalsukan untuk menjebak saya.”
Meski demikian, bukti itu nyata dan sulit disangkal. Li Zeyu merasa putus asa, seolah terperosok ke jurang tanpa dasar, sekelilingnya gelap gulita.
Saat keputusasaan menyelimuti, Zhen Huan maju dan berlutut di depan Kaisar, “Yang Mulia, mungkin ada kebenaran lain. Mohon beri Pangeran Mahkota kesempatan untuk mengungkap fakta. Saya percaya pada integritasnya, dia tak mungkin berbuat tidak setia dan tidak benar.”
Kaisar terdiam sejenak, matanya bergantian menatap Zhen Huan dan Li Zeyu, lalu berkata, “Berikan waktu tiga hari untuk menemukan kebenaran, jika tidak akan dihukum berat.”
Li Zeyu memandang Zhen Huan dengan rasa terima kasih, berjanji dalam hati untuk mengungkap dalang di balik semua ini dan membersihkan namanya.
Narator: Li Zeyu tahu ini adalah krisis besar pertama yang dihadapinya dalam perebutan kekuasaan di istana. Ia harus mengungkap dalang di balik fitnah ini untuk membersihkan namanya. Namun jalan di depan penuh ketidakpastian. Apakah ia bisa keluar dari situasi ini? Misteri ini seperti awan gelap yang menyelimuti istana, sekaligus menjadi pembuka bab berikutnya.