Bab 3: Dilema Etiket
Cahaya pagi menembus kisi-kisi jendela berukir, memercik di lantai kamar tidurku, membentuk bayang-bayang bercak yang indah. Namun, aku sama sekali tak berhasrat menikmati ketenangan dan keindahan ini, karena sebagai Putra Mahkota, hari baru berarti dimulainya lagi pelajaran tata krama istana yang melelahkan.
Dengan bantuan dayang-dayang, aku mengenakan jubah upacara yang berat dan mewah itu, setiap langkah terasa seolah membawa beban ribuan kilogram. Dipandu oleh Xiao Shun, aku menuju tempat belajar tata krama istana—sebuah balairung luas dan megah.
Di dalam balairung, guru tata krama telah menungguku sejak lama. Ia adalah pria tua bertubuh tinggi dan berwajah tegas, tatapannya penuh wibawa dan kecermatan.
"Paduka Putra Mahkota, hari ini kita lanjutkan latihan berjalan dan berdiri sesuai tata krama," suara guruku terdengar dingin dan kaku.
Aku menarik napas dalam-dalam, melangkah sesuai perintahnya.
"Paduka, posisi Anda belum tepat, langkahnya harus lebih mantap," suara guru itu terus-menerus terdengar di telingaku, seperti mantra yang menekan pikiranku hingga gelisah.
Aku berusaha keras memperbaiki sikap tubuhku, mencoba memenuhi tuntutannya, namun setiap usaha tampaknya tetap belum memuaskannya.
"Ulangi!" hardiknya dengan suara lantang.
Aku mengusap keringat di dahiku, hati dipenuhi keputusasaan dan keluh kesah, "Tata krama ini benar-benar terlalu rumit, membuat kepala pening."
Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk berlatih, tiba-tiba terdengar tawa kecil. Aku menoleh dengan heran dan mendapati di sudut ruangan, Wu Ping berdiri di sana dengan ekspresi penuh ejekan.
Wu Ping adalah putra salah satu pejabat tinggi, biasanya ia suka bertindak semena-mena di istana, mengandalkan pengaruh ayahnya, dan selalu memperlihatkan ketidaksukaan padaku sebagai Putra Mahkota.
Dengan nada sinis ia berkata, "Hmph, Putra Mahkota bahkan tata krama dasar saja tidak bisa dikuasai, bagaimana kelak bisa memerintah negeri?"
Suaranya tak keras, namun dalam keheningan balairung itu terdengar sangat jelas, membuat para dayang dan pelayan di sekeliling menundukkan kepala, tak berani bersuara.
Aku menatapnya tajam, amarah membara di dada, "Tak perlu kau khawatir, aku pasti akan menguasainya."
Namun Wu Ping semakin menjadi-jadi, melangkah maju dengan nada lebih angkuh, "Paduka, jangan keras kepala. Tata krama istana ini adalah dasar segalanya, jika Anda saja tak bisa melakukan dengan baik, bagaimana rakyat akan menaruh kepercayaan?"
Tanganku mengepal kuat, menahan keinginan untuk memukulnya, "Wu Ping, jangan keterlaluan!"
Ia terkekeh dingin, "Paduka, ini semua demi kebaikan Anda. Jika Anda tak bisa menguasai tata krama, kelak naik takhta, tidakkah Anda akan menjadi bahan tertawaan seantero negeri?"
Saat itu, guru tata krama menghentikan perdebatan, "Sudah, cukup! Paduka, lanjutkan latihan."
Aku menatap tajam Wu Ping sekali lagi, lalu berbalik dan melanjutkan latihan sesuai arahan guruku. Namun ejekan Wu Ping terus terngiang di benakku, membuatku sulit berkonsentrasi.
Setelah beberapa saat, akhirnya aku diizinkan beristirahat sejenak. Aku duduk di kursi di sisi ruangan, hati penuh kegalauan.
Xiao Shun mendekat dengan suara pelan di telingaku, "Paduka, jangan hiraukan Wu Ping. Dia hanya iri pada kedudukan Anda, sengaja mencari masalah."
Aku menghela napas, "Aku tahu, tapi dipermalukan di depan umum seperti ini, sungguh sulit untuk diterima."
Xiao Shun menurunkan suaranya lagi, "Paduka, kudengar ayah Wu Ping belakangan ini diam-diam bersekongkol dengan beberapa pejabat, mungkin berbahaya bagi Anda."
Jantungku berdegup keras, "Benarkah? Sudah kau pastikan kebenarannya?"
Xiao Shun menggeleng, "Hamba belum tahu pasti, tapi Anda harus berhati-hati."
Keningku berkerut, pikiranku berkecamuk. Apakah provokasi Wu Ping bukan sekadar masalah pribadi, tetapi bagian dari konspirasi besar?
Setelah istirahat, pelajaran tata krama kembali dimulai. Namun pikiranku tak lagi tertuju pada tata krama yang rumit, melainkan pada rencana Wu Ping dan ayahnya.
"Paduka, tolong perbaiki sikap Anda!" tegur guru tata krama dengan suara keras.
Aku segera tersadar dan kembali fokus.
Akhirnya, setelah pelajaran usai, aku kembali ke kamar tidur dengan tubuh letih.
"Xiao Shun, tolong selidiki diam-diam gerak-gerik Wu Ping dan ayahnya. Hati-hati, jangan sampai mereka tahu," perintahku.
Xiao Shun mengangguk, "Paduka tenang saja, hamba pasti akan menyelesaikannya."
Hari-hari berikutnya, aku melanjutkan pelajaran tata krama sambil menunggu kabar dari Xiao Shun dengan gugup dan cemas.
Akhirnya, Xiao Shun kembali.
"Paduka, hamba mendapat kabar. Ayah Wu Ping tampaknya sedang merencanakan bersama beberapa pejabat untuk menjelekkan nama Anda di hadapan Kaisar, menuduh Anda malas belajar dan tak layak memegang tanggung jawab besar," lapor Xiao Shun.
Hatiku terasa berat, "Jadi benar adanya. Mereka benar-benar licik."
Xiao Shun melanjutkan, "Tapi Paduka, kita masih punya cara. Kudengar akhir-akhir ini Kaisar sangat memperhatikan situasi di perbatasan. Jika Anda bisa memberikan pandangan yang tajam tentang urusan itu, mungkin Kaisar akan mulai menaruh perhatian pada Anda."
Aku merenung sejenak, "Kau benar. Namun urusan perbatasan sangat rumit, aku harus mempelajarinya dengan saksama."
Sejak itu, aku mulai membaca banyak kitab dan laporan, mempelajari situasi di perbatasan. Aku juga meminta saran dari beberapa pejabat berpengalaman.
Dalam proses itu, aku menyadari bahwa tata krama istana meski rumit, telah mengajarkanku kesabaran dan pengendalian diri. Menghadapi konspirasi Wu Ping dan ayahnya, aku pun mulai menenangkan diri dan merumuskan strategi.
Suatu hari, di balairung sidang, Kaisar benar-benar menyinggung soal urusan perbatasan.
Ayah Wu Ping segera maju, "Paduka Kaisar, Putra Mahkota akhir-akhir ini hanya sibuk bersenang-senang, sama sekali tak peduli urusan negara, kami semua sangat mengkhawatirkan masa depan negeri."
Aku tersenyum dingin dalam hati, lalu melangkah maju tanpa gentar, "Ayahanda, akhir-akhir ini hamba telah mempelajari situasi perbatasan dan memiliki beberapa pendapat sederhana."
Lalu aku memaparkan analisis mendalam tentang keadaan perbatasan dan strategi yang mungkin diambil, dengan urutan yang jelas dan pandangan yang tajam.
Kaisar mendengarkan dengan penuh perhatian lalu tersenyum puas, "Apa yang disampaikan Putra Mahkota sangat masuk akal. Ternyata selama ini aku keliru menilai."
Wajah ayah Wu Ping pun berubah muram.
Sejak saat itu, posisiku di istana semakin kokoh, dan Wu Ping tak lagi berani terang-terangan menantangku. Namun aku tahu, persaingan di istana belumlah usai. Aku harus terus berusaha agar mampu menghadapi tantangan yang akan datang.
Narator: "Di dalam istana, tata krama hanyalah aturan di permukaan, sementara hati manusia yang rumit adalah persoalan sejati. Dalam pusaran kekuasaan ini, Li Zeyu harus belajar bangkit dari kesulitan, menggunakan kecerdasan dan keberanian untuk menjaga kedudukannya. Namun di depan, masih banyak konspirasi dan ujian menantinya. Akankah ia mampu mengatasinya satu per satu?"