Bab 4: Liu Haibo yang Misterius
Sinar matahari musim gugur menembus dedaunan yang belang-belang, menebarkan bintik-bintik cahaya keemasan di atas padang rumput tempat perburuan kerajaan. Semilir angin berembus lembut, membawa hawa sejuk dan menggerakkan dedaunan hingga bergemerisik. Aku menunggangi seekor kuda putih salju, ditemani para pengikut, menyusuri semakin dalam hutan lebat ini demi membuntuti jejak buruan.
Derapan tapal kuda menggema di antara pepohonan dan mengejutkan sekawanan burung hingga beterbangan. Aku menarik kendali, memperlambat langkah kuda, lalu mengamati sekeliling dengan waspada. Tiba-tiba, seekor pegar berbulu indah melesat dari balik rerumputan. Aku segera memasang anak panah dan melepaskannya, tetapi sayangnya tembakanku meleset. Pegar itu mengepakkan sayap dan terbang menuju kedalaman hutan.
Aku tak rela membiarkannya lolos begitu saja, lalu memacu kuda untuk mengejarnya. Semakin jauh memasuki hutan, cahaya di sekeliling berangsur-angsur meredup. Pepohonan pun kian rapat, seolah membentuk penghalang alami yang memisahkan hiruk-pikuk serta kemeriahan dunia luar.
Saat aku sedang memusatkan perhatian untuk melacak pegar itu, sesosok bayangan melintas sekilas di tikungan depan. Hatiku menegang. Aku segera menarik kendali dan menatap arah tersebut dengan penuh kewaspadaan. Tak lama kemudian, seseorang berjubah hitam berjalan perlahan keluar dari balik bayang-bayang. Sebagian besar wajahnya tertutup tudung, hanya sepasang mata yang dalam terlihat. Tatapannya memancarkan kilau yang sulit ditebak.
Ia melangkah mendekat sedikit demi sedikit, begitu ringan hingga nyaris tak menimbulkan suara. Aku menggenggam erat busur dan anak panah di tanganku, lalu membentak, “Siapa kau? Berani sekali menyusup ke tempat perburuan kerajaan!”
Ia berhenti beberapa langkah dariku, membungkuk hormat, lalu berkata dengan suara rendah, “Yang Mulia Putra Mahkota, hamba bernama Liu Haibo.”
Aku terkejut dan bertanya, “Siapa sebenarnya dirimu? Mengapa kau berada di sini?”
Liu Haibo mengangkat kepala dan menatap lurus ke mataku. Dengan perlahan ia berkata, “Yang Mulia Putra Mahkota, tahukah Anda bahwa kedatangan Anda kemari bukanlah suatu kebetulan?”
Ucapannya justru membuatku semakin bingung. Aku mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
Liu Haibo tersenyum misterius. Senyum itu seolah menyembunyikan rahasia yang tak berujung. “Itu sebuah rahasia. Waktunya belum tiba, jadi aku belum dapat mengatakannya. Namun, Anda harus berhati-hati. Di dalam istana tersembunyi banyak bahaya yang tidak Anda ketahui.”
Dadaku bergetar. Aku segera mendesak, “Bahaya? Bahaya macam apa? Jelaskan kepadaku!”
Namun Liu Haibo tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menggelengkan kepala dalam diam, kemudian berbalik hendak pergi.
Mana mungkin kubiarkan ia pergi begitu saja? Aku melompat turun dari kuda dan berlari mengejarnya, berusaha menghalangi langkahnya. “Berhenti! Jangan harap bisa pergi sebelum menjelaskannya!”
Namun tepat ketika aku hampir berhasil meraih tubuhnya, Liu Haibo menghilang dalam sekejap, bagaikan hantu, lenyap di antara pepohonan. Aku menatap ke arah kepergiannya dengan hati dipenuhi tanda tanya.
“Siapakah sebenarnya Liu Haibo itu? Bahaya apa yang dimaksud olehnya?” gumamku.
Saat itu, lolongan serigala yang rendah terdengar dari dalam hutan. Para pengikutku pun akhirnya menyusul.
“Yang Mulia Putra Mahkota, tempat ini tidak aman untuk berlama-lama. Kami khawatir ada bahaya,” ujar kepala pengawal.
Aku mengangguk, lalu melompat kembali ke atas kuda dan meninggalkan hutan dengan pikiran yang masih dipenuhi pertanyaan.
Sesampainya di istana, sosok misterius bernama Liu Haibo terus menghantui pikiranku. Aku memerintahkan orang-orang untuk menyelidiki identitasnya, tetapi tidak menemukan apa pun. Seolah-olah ia muncul begitu saja dari udara kosong.
Beberapa hari kemudian, saat sedang berjalan-jalan di taman istana sambil memikirkan ucapan Liu Haibo, tiba-tiba seorang dayang berlari tergesa-gesa menghampiriku dengan wajah panik.
“Yang Mulia Putra Mahkota, celaka! Permaisuri tiba-tiba jatuh sakit,” ujar dayang itu.
Aku terkejut dan segera bergegas menuju kediaman permaisuri.
Permaisuri terbaring di atas ranjang dengan wajah pucat dan napas lemah. Para tabib istana berdiri di sampingnya tanpa daya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku dengan cemas.
Salah seorang tabib menjawab dengan suara gemetar, “Yang Mulia Putra Mahkota, penyakit Permaisuri sungguh aneh. Kami belum pernah menjumpai gejala seperti ini sebelumnya dan benar-benar tidak tahu harus mulai dari mana.”
Pada saat itu, aku tiba-tiba teringat pada ucapan Liu Haibo. Rasa tidak nyaman pun perlahan muncul dalam hatiku. Mungkinkah penyakit permaisuri berkaitan dengan bahaya yang ia maksud?
Aku memerintahkan para tabib untuk terus mencari cara menyembuhkan permaisuri, lalu berjalan seorang diri di dalam istana sambil merenung.
Tak lama kemudian, seorang kasim muda diam-diam mendekatiku dan berbisik, “Yang Mulia Putra Mahkota, hamba rasa pernah melihat Liu Haibo muncul di dalam istana.”
Mataku langsung berbinar. “Cepat, bawa aku ke sana!”
Kasim muda itu membawaku ke sebuah istana terpencil. Pintu gerbangnya tertutup rapat, sementara suasana di sekelilingnya begitu sunyi.
Aku mendorong pintu hingga terbuka. Di dalamnya tidak ada seorang pun. Hanya selembar surat yang tergeletak di atas sebuah meja.
Aku membuka surat itu. Di dalamnya tertulis:
“Yang Mulia Putra Mahkota, jika Anda ingin mengetahui kebenaran, temuilah aku di Istana Terasing malam ini, tepat pada tengah malam.”
Hatiku dipenuhi kebingungan dan kewaspadaan. Namun demi mengungkap kebenaran, aku memutuskan untuk mengambil risiko dan pergi ke Istana Terasing.
Malam pun tiba. Lampu-lampu di dalam istana padam satu demi satu, hingga seluruh kompleks istana tenggelam dalam kegelapan. Aku membawa beberapa orang kepercayaan dan diam-diam tiba di Istana Terasing.
Gerbang istana itu tertutup rapat. Suasana di sekitarnya terasa menyeramkan. Sesekali angin dingin berembus, membuat punggungku meremang.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mendorong gerbang Istana Terasing hingga terbuka. Engsel pintu mengeluarkan suara berat dan parau yang terdengar sangat nyaring di tengah kesunyian malam.
Begitu memasuki istana, kulihat sesosok bayangan hitam berdiri di tengah halaman.
“Liu Haibo?” tanyaku untuk memastikan.
Bayangan itu berbalik. Sosok tersebut memang Liu Haibo.
“Yang Mulia Putra Mahkota, Anda benar-benar datang,” ujar Liu Haibo.
“Siapa sebenarnya dirimu? Mengapa kau memancingku datang kemari?” tanyaku dengan nada menuntut.
Liu Haibo tersenyum. “Yang Mulia Putra Mahkota, jangan terburu-buru. Segala hal yang ingin Anda ketahui akan terungkap perlahan-lahan. Namun sebelum itu, Anda harus terlebih dahulu melewati sebuah ujian.”
Sambil berkata demikian, ia mengibaskan tangannya. Tiba-tiba, sekelompok orang berjubah hitam muncul dari segala penjuru. Dengan senjata terhunus, mereka menyerbu ke arah kami.
Pertempuran sengit pun meledak seketika.
Liu Haibo yang misterius bagaikan sebuah teka-teki, menanamkan benih kegelisahan di hati Li Zeyu. Benih itu perlahan mulai bertunas, menuntunnya menuju jurang tak dikenal.