Bab 6 Kesetiaan Du Jia
Hari-hari di istana bagaikan berlayar di lautan dalam yang penuh arus gelap, di mana pertarungan kekuasaan seperti pusaran tak kasat mata yang terus berusaha menyeretku ke dalam jurang yang tak dikenal. Di tengah dunia yang penuh tipu daya ini, aku beruntung bertemu dengan seorang sahabat sejati—Du Jia.
Pada suatu pagi yang cerah dengan sinar matahari yang lembut, bunga-bunga di taman bergoyang pelan tertiup angin, mengeluarkan aroma harum yang menyegarkan. Aku mengenakan jubah panjang berwarna hijau muda, berjalan menyusuri lautan bunga yang berwarna-warni, berusaha menemukan ketenangan jiwa di sejenak kedamaian ini.
Saat aku tenggelam dalam keindahan pemandangan itu, sosok seorang pemuda muncul di hadapanku. Dia berjalan mantap dengan postur tegap, tatapannya penuh keyakinan dan jernih. Saat mendekat, dia membungkuk hormat dengan kedua tangan terkepal, berkata, "Pangeran Mahkota, saya Du Jia."
Aku mengangguk pelan, mengamati dengan seksama. Du Jia mengenakan pakaian tempur sederhana, dengan ikat pinggang hitam di pinggangnya, tergantung sebilah pedang rapi yang membuatnya tampak gagah perkasa. Wajahnya tegas dengan alis tajam dan mata bercahaya, memancarkan aura kejujuran alami.
"Du Jia? Sepertinya aku pernah mendengar namamu. Ayahmu bukan jenderal Du yang terkenal di istana?" tanyaku dengan penuh minat.
Du Jia mengangguk, menjawab, "Benar, itu ayah saya. Pangeran Mahkota, Du Jia bersedia mengabdi sepenuh hati untukmu."
Aku tersenyum, berkata, "Du Jia, memiliki teman sepertimu adalah keberuntungan bagiku."
Sejak hari itu, takdir kami mulai saling terkait.
Du Jia sering menemaniku berjalan di dalam istana. Kami bersama-sama melintasi koridor berliku, melewati hutan bambu yang tenang. Kadang kami duduk di paviliun, memandangi ikan-ikan berenang di kolam, membicarakan berbagai hal dalam dan luar istana.
"Pangeran, persaingan kekuasaan di istana semakin sengit. Kau harus lebih berhati-hati," kata Du Jia dengan alis berkerut, suara penuh kekhawatiran.
Aku menghela napas ringan, "Du Jia, aku tentu tahu itu. Namun berada di tengah pusaran ini, menjaga diri tetap utuh bukan hal yang mudah."
Du Jia menggenggam tinjunya, "Pangeran, percayalah, selama ada aku, Du Jia, para pengkhianat itu takkan berhasil."
Namun, situasi di istana jauh lebih rumit daripada yang kami bayangkan.
Suatu hari, aku menerima surat misterius yang memberi isyarat bahwa ada pihak yang hendak mencelakakanku dalam waktu dekat. Aku memberitahukan hal ini pada Du Jia, dan wajahnya segera berubah serius.
"Pangeran, masalah ini tak boleh dianggap remeh. Kita harus menyelidikinya secara diam-diam dan mencari dalang di balik semua ini," kata Du Jia.
Kami pun mulai menyelidiki secara rahasia. Dalam penyelidikan, kami menemukan beberapa petunjuk yang tampaknya mengarah pada seorang bangsawan berpengaruh di istana.
"Du Jia, jika memang dia, kita akan menghadapi pertempuran sengit," kataku.
Du Jia menatap mantap, "Pangeran, apapun yang terjadi, aku akan berdiri di sisimu."
Namun saat kami bersiap menyelidiki lebih dalam, jejak tiba-tiba terputus. Seolah ada tangan tak kasat mata yang mengendalikan segalanya, menghalangi kami mendekati kebenaran.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" hatiku dipenuhi kebingungan dan kegelisahan.
Du Jia merenung sejenak, "Pangeran, mungkin tindakan kita sudah diketahui musuh. Mereka sengaja menghancurkan bukti."
Saat kami terjebak dalam kesulitan, istana kembali diguncang kejadian besar. Kaisar tiba-tiba jatuh sakit parah, membuat pemerintahan kacau balau. Berbagai kekuatan mulai bergerak, saling berebut keuntungan dalam kekosongan kekuasaan ini.
"Pangeran, situasi sangat genting sekarang. Kita harus cepat menemukan solusi," kata Du Jia dengan cemas.
Aku menatap langit di luar jendela, pikiranku berputar, "Du Jia, kita harus tetap waspada dalam kekacauan ini dan menunggu waktu yang tepat."
Saat itu, seorang dayang mendekat dengan terburu-buru dan berbisik di telingaku. Wajahku segera berubah muram.
"Du Jia, baru saja aku mendapat kabar, ada yang menuduhku berkhianat. Isu ini sudah memicu kehebohan di istana," kataku.
Du Jia memandang dengan mata membara, "Ini jelas fitnah yang disengaja, Pangeran. Kita tak boleh diam saja."
Kami memutuskan untuk menyerang terlebih dahulu dengan menghadap Kaisar dan menjernihkan nama. Namun dalam perjalanan menuju kamar Kaisar, kami menghadapi beberapa kali percobaan pembunuhan.
"Lindungi Pangeran Mahkota!" seru Du Jia sambil menggenggam pedang, berani melawan musuh.
Berkat perlindungan gigih Du Jia, kami akhirnya tiba di kamar Kaisar. Namun Kaisar dalam keadaan tak sadar dan tak mampu mendengar permohonan kami.
"Pangeran, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Du Jia.
Aku menarik napas dalam, "Kita kembali dulu dan merencanakan dengan matang."
Setibanya di tempat tinggal, suasana di istana semakin tegang. Beberapa menteri yang tadinya mendukungku mulai goyah dan menjauh.
"Du Jia, tampaknya mereka berusaha mengisolasi kita," kataku.
Du Jia menatap dengan tekad, "Pangeran, meski semua orang meninggalkanmu, aku, Du Jia, akan selalu setia padamu."
Ketika kami hampir putus asa, sosok yang tak terduga muncul.
"Pangeran Mahkota, jangan panik. Aku punya cara untuk membantumu melewati krisis ini," ujar Wang Daren, guru agung yang biasanya rendah hati.
Wang Daren memberitahukan beberapa informasi penting dan menyusun strategi untuk kami.
Hari-hari berikutnya, kami menjalankan rencana Wang Daren dan perlahan membalikkan keadaan.
Akhirnya, kebenaran terungkap, dan konspirasi fitnah terhadapku terbongkar. Dalam badai ini, kesetiaan Du Jia tak pernah goyah.
Narasi: Benih persahabatan tumbuh subur di istana, menambah kekuatan bagi masa depan Li Zeyu. Dalam jalan penuh bahaya di istana ini, kehadiran Du Jia menjadi sandaran terkuat bagi Li Zeyu.