Pria Sering Kali Tak Setia (Bagian Satu)
Setelah memastikan bahwa Luo Junyao sudah tidak dapat melihatnya lagi, pemuda berbaju abu-abu itu baru berhenti dan menghela napas panjang. Gadis kedua keluarga Luo itu tampak begitu penurut dan manis di depan sang pangeran, tapi mengapa ia merasa begitu terganggu hanya setelah berinteraksi sebentar saja dengannya?
Mulut mungil itu terus berceloteh tanpa henti, belum pernah ia jumpai gadis mana pun yang sehebat itu bicara di hadapan orang asing. Ia sampai dibuat pusing oleh ucapannya, hampir saja ia membocorkan urusan pribadi sang pangeran kepadanya. Apakah ia sama sekali tidak merasa canggung?
Sebagai seorang pengawal muda yang agak canggung dalam pergaulan, ia sungguh tak bisa memahami seperti apa orang yang begitu percaya diri dalam berinteraksi sosial.
"Haha, Xiying, gadis kecil itu lucu juga, ya? Kenapa kau tampak begitu kusut dan lelah? Kalau begini, kau bisa-bisa sulit cari istri nanti." Suara bercanda yang mengandung sedikit ejekan terdengar dari tepi jalan. Pemuda berbaju abu-abu menoleh ke arah suara itu, dan melihat Wei Changting, tanpa sedikit pun sikap bangsawannya, sedang duduk santai di atas tembok pinggir jalan, menatapnya sambil tersenyum lebar.
"Tuan Muda Wei?" Xiying memberi salam dengan tangan terkepal, lalu segera sadar, "Tuan Muda mengikuti kami dari tadi?"
Kenapa Tuan Muda Wei mengikuti mereka? Apa benar ada orang hebat yang mengincar gadis kedua keluarga Luo, sehingga sang pangeran tidak hanya memintanya untuk mengawal langsung, tetapi juga meminta Tuan Muda Wei ikut secara diam-diam?
Xiying tidak tahu, di dunia ini ada orang yang semata-mata karena bosan dan penasaran saja suka mengikuti orang lain untuk menonton pertunjukan.
Wei Changting melompat turun dari tembok, lalu berkata, "Jangan katakan seolah itu sesuatu yang buruk, aku hanya kebetulan lewat. Ngomong-ngomong... Pangeran sampai memintamu sendiri mengantar gadis kedua keluarga Luo pulang?"
Xiying menjawab, "Pangeran pasti punya alasannya sendiri."
Wei Changting mendengus, "Orang seperti kamu sungguh membosankan."
Xiying tak ambil pusing, ia memang seorang pengawal, cukup menjalankan perintah saja, untuk apa harus menarik?
Wei Changting menghela napas, "Kamu begini, Dieying juga begitu, di sekitar Pangeran semua orang seperti kalian, makanya dia makin lama makin membosankan."
"..." Bukankah Pangeran memang tidak pernah menarik?
"Susah payah ada seorang wanita cantik, tapi Pangeran malah menyuruhnya keluar kota untuk urusan, hidup atau mati pun tak mau menahannya di sisi." Seorang wanita cantik, tak perlu melakukan apa pun, cukup dilihat saja sudah senang.
Masa Xie Yan alergi pada wanita cantik?
"Tuan Muda Wei, kalau tidak ada urusan lain, saya hendak kembali melapor." Xiying hanya ingin segera lepas dari orang aneh ini.
Wei Changting langsung menariknya, "Jangan begitu, ceritakan padaku, tadi gadis kedua keluarga Luo bicara apa padamu? Sampai-sampai kau terlihat begitu putus asa."
Xiying menatapnya dengan tatapan 'bukankah kau tadi ikut kami?'
Wei Changting menjawab dengan yakin, "Kalau aku ikut terlalu dekat, bukankah kau sudah menemukanku dari tadi?"
Tuan Muda Wei sama sekali tak merasa malu jika kemampuan bela dirinya dianggap di bawah seorang pengawal, bahkan ia tak mau mengakui bahwa tadi ia hanya asyik menonton tingkah lincah gadis kedua keluarga Luo serta ekspresi putus asa Xiying.
Xiying berpikir sejenak, merasa tak ada yang perlu dirahasiakan, lalu menceritakan ringkas apa yang dikatakan Luo Junyao.
Mendengar kisah itu, Wei Changting langsung membuka kipas lipatnya dan menutupi separuh wajahnya, tertawa seperti seekor musang yang baru saja mencuri makanan.
"Xiying, menurutmu... mungkinkah gadis kedua keluarga Luo kelak menjadi permaisuri kalian?"
Xiying tertegun, Wei Changting melanjutkan, "Coba kau pikir, kapan Pangeran pernah seramah itu pada seorang gadis? Dan gadis kedua keluarga Luo itu, kenapa ia harus ngotot bertanya padamu soal kesukaan Pangeran? Aku juga kenal dengannya, kenapa ia tidak bertanya padaku?"
Xiying berkata, "Tuan Muda, jangan berkata sembarangan. Kalau omongan ini tersebar..."
Wei Changting mengibaskan kipasnya, "Langit tahu, bumi tahu, kau dan aku tahu. Selama kau tak bicara, bagaimana bisa tersebar?"
Xiying menjawab, "Soal Pangeran, saya tidak berani mencampuri."
Wei Changting berkata, "Bukan memintamu mencampuri, maksudku begini, kalau nanti gadis kedua keluarga Luo dan Pangeran ada apa-apa, kau harus segera kabari aku. Siapa tahu aku bisa memberi saran, agar Pangeran lekas mendapatkan istri."
"......"
Xiying merasa, Tuan Muda Wei yang sudah dua puluh empat tahun masih lajang dan kesepian, lebih baik mencari istri untuk dirinya sendiri dulu sebelum memberi saran pada Pangeran.
Wei Changting menepuk bahunya dengan kipas, "Sudah, sepakat ya. Aku ada urusan, pamit dulu."
Melihat punggungnya yang pergi, Xiying hanya bisa diam seribu bahasa.
Siapa yang sepakat denganmu?
Di istana, dalam kediaman Permaisuri Agung, beliau sedang bersandar pada bantal tebal di ranjang, meneguk ramuan obat.
Putri Changling duduk di samping, mengambil mangkuk obat dari tangan ibunya dan menyerahkannya pada dayang di belakang, sambil tersenyum berkata, "Ibu, hari ini tampak lebih segar, tampaknya ramuan Tabib Dewa Xue memang manjur."
Permaisuri Agung mengangguk dan tersenyum, "Ibu juga merasa tubuh jadi lebih ringan."
Sebenarnya ia tahu betul, sehebat apa pun obat hanya membuatnya sedikit lebih nyaman. Barangkali setiap orang yang menjelang ajal akan merasa seperti ini, begitu sadar akan kondisi tubuhnya sendiri.
Namun ia tak ingin membuat anak-anaknya khawatir, jadi ia selalu berkata yang baik-baik saja.
Qin Ning berdiri di belakang Putri Changling, usianya masih muda sehingga tak bisa menyembunyikan perasaan seperti ibunya. Setelah berdiri beberapa saat, ia tampak melamun.
Permaisuri Agung tentu saja menyadarinya, lalu berkata sambil tersenyum, "Ning, kau bosan, ya? Suruh saja orang mengajakmu jalan-jalan, gadis muda sepertimu buat apa menemani nenek tua sepertiku di kamar?"
Barulah Qin Ning tersadar dan buru-buru menjawab, "Tidak, tidak, menemanai nenek justru membuat Ning senang."
Permaisuri Agung terdiam sejenak, kemudian menghela napas dan menoleh pada Putri Changling, "Ada sesuatu yang terjadi? Katakan saja pada ibu."
Senyum di wajah Putri Changling sedikit meredup, "Ibu, aku..."
"Katakan saja, ibu sudah tua, mana ada hal yang belum pernah ibu alami?" ujar Permaisuri Agung, "Kalau kau membawa Ning ke sini, pasti sudah berniat memberitahuku."
Jika memang tak mau bicara, tentu ia tak perlu membawa Ning yang polos dan tak pandai menyembunyikan rahasia.
Putri Changling menundukkan kepala, "Ananda berdosa, membuat ibu khawatir."
Meski tubuh Permaisuri Agung sudah lemah, pikirannya tetap jernih.
Tak lama kemudian, beliau pun mengerti, "Apa terjadi sesuatu pada suamimu?"
Putri Changling berkata, "Aku meminta Zhi Fei mengirim Qin Qian keluar dari ibu kota, dan ia takkan kembali lagi. Anggap saja mulai sekarang, Ning dan Kang tidak lagi punya ayah."
"Apa yang terjadi?" tanya Permaisuri Agung.
Selama bertahun-tahun, kehidupan putrinya berjalan bahagia dan tenteram, membuat hati sang ibu merasa tenang. Suami dan anak lelakinya sudah lama tiada, keponakan yang ia besarkan pun hingga usia matang masih sendiri, hanya putrinya yang ia anggap bahagia.
Kini... harapan itu pun terasa mewah.
Putri Changling berkata dengan tenang, "Tidak ada apa-apa, dia diam-diam memelihara perempuan lain dan sudah punya anak. Kalau begitu, aku relakan saja, biar mereka pergi dari ibu kota. Tidak melihat, hati pun tenteram."
Permaisuri Agung terdiam lama, Putri Changling menggenggam tangannya dan berkata pelan, "Ibu, jangan khawatir padaku. Awalnya memang aku sedih, tapi sekarang sudah ikhlas. Aku putri agung Dinasti Dasheng, juga punya Ning dan Kang, tanpa suami pun tak masalah. Siapa pula yang berani meremehkanku?"
Qin Ning pun segera mendekat ke sisi ranjang, memegang tangan neneknya, "Nenek, jangan cemas, Ning dan adik akan berbakti pada ibu."
Permaisuri Agung mengusap lembut kepala Qin Ning, tersenyum, "Anak baik."
"Sejak dulu, lelaki banyak yang tak setia. Orang bilang ayahmu sangat mencintaiku, tapi saat itu... di istana pun tak pernah sepi dari perempuan lain. Saat kau dan kakakmu masih kecil, bahkan Zhi Fei juga belum masuk istana, kadang ibu merasa sangat lelah. Saat memilihkan suami untukmu, ibu sengaja mencari yang tak terlalu menonjol, keluarga pun biasa saja, agar hidupmu lebih ringan. Tapi ternyata... ibu tetap salah menilai."
"Ibu, jangan berkata begitu," Putri Changling buru-buru berkata, "Aku tahu semua pengorbanan ibu, selama ini aku hidup bahagia. Meski kini ada kekurangan, toh aku punya Ning dan Kang. Dulu keluarga Changshu setiap hari bertengkar dengan mertua dan saudara ipar, akhirnya pergi lebih dulu. Changzhao dan suaminya malah jarang bertemu, rumah tangga hambar. Apa yang perlu aku sesali?"
Kebahagiaan belasan tahun itu nyata, meski kini terasa getir, tapi hari-hari itu benar-benar sudah ia jalani. Ia anggap saja dirinya menjanda di usia paruh baya, setidaknya terhindar dari kesedihan karena kehilangan suami.
Satu-satunya yang membuatnya khawatir hanya ibunya. Ia sungguh tak ingin di sisa hidupnya, sang ibu masih merasa bersalah karena Qin Qian.
Ia sendiri yang hidup bersama Qin Qian belasan tahun tak bisa mengenali siapa dia sebenarnya, apalagi orang lain?
"Ah," Permaisuri Agung menghela napas panjang, tetap saja sulit melupakan semuanya.
Putri Changling tersenyum lagi, "Ibu, sebenarnya aku tak ingin membuatmu sedih dengan cerita ini, tapi Zhi Fei bilang ibu itu perempuan perkasa, masalah sekecil ini pasti tak akan ibu pedulikan, makanya aku berani bercerita. Kalau ibu terus saja memikirkannya, nanti aku protes pada Zhi Fei."
Permaisuri Agung menepuknya, "Jangan suka mem-bully Zhi Fei."
Putri Changling bersandar di pelukan ibunya, tersenyum, "Baik, aku tahu ibu paling sayang padanya. Daripada memikirkan Qin Qian, lebih baik pikirkan masa depan Zhi Fei. Segera carikan pasangan baginya, adakan pesta pernikahan besar, kita usir semua sial. Ibu perempuan perkasa, aku anakmu, masa urusan begini saja tak bisa kita lewati?"
Permaisuri Agung tahu putrinya berniat menghibur dirinya, maka ia pun mengikuti keinginannya, tersenyum, "Memang sudah saatnya memikirkan pernikahan Zhi Fei. Anak itu keras kepala, dinasihati pun tak mau mendengar. Kau juga harus ikut membujuknya, kalau ada gadis yang cocok di ibu kota, carikan untuk adikmu."
Putri Changling tertawa, "Siap, Bu. Besok aku akan keliling rumah keluarga pejabat, cari tahu siapa punya gadis cantik, lalu kabari ibu."
Qin Ning pun riang ikut menimpali, "Gadis-gadis di Kota Shangyong kalau melihat Paman Raja Chu seperti melihat harimau, semuanya gemetar, siapa yang berani menikah dengannya?"
Putri Changling melirik putrinya, "Kau juga sama saja!"
Qin Ning cemberut, "Aku tidak seperti itu."
Putri Changling mendengus, "Begitukah? Untung saja dulu pamanmu menyelamatkanmu, menurutku kau masih kalah dengan gadis keluarga Luo itu."
Begitu mendengar kisah paman Chu menolongnya, wajah Qin Ning langsung pucat. Ibu, bisa tidak jangan sebut-sebut soal itu?
"Anak dari keluarga Luo?" Mendengar ini, Permaisuri Agung langsung tertarik, "Putri Yun Luo?"
Putri Changling tersenyum, "Benar."
Permaisuri Agung hendak bertanya lebih lanjut, tapi seorang pelayan masuk melapor, "Yang Mulia, Raja Pemangku Takhta datang."
Permaisuri Agung pun menahan dulu pertanyaannya dan mempersilakan Xie Yan masuk.