Seratus satu
Bab 102: Kehidupan Impian
“Bagus.” kata Lian Huaxin setelah melihat rumah sewa milik Wang Yihu. “Biarkan begini saja. Kita belanja dulu, lalu rapikan ruangan ini.”
“Beli apa?” tanya Wang Yihu yang seakan tak punya ide, sambil memutari kamar. “Di sini taruh lemari, di sana taruh meja… Aduh, tempatnya terlalu sempit!”
Lian Huaxin memotong keluhannya. “Lihat kau, mau menjadikan ini rumah baru seolah-olah di pamerkan ya? Meskipun rumah baru, aku tidak mau gaya berlebihan: delapan peti pakaian ditumpuk jadi lemari dan sepuluh tiang selimut di samping tempat tidur.”
Wang Yihu tertawa. “Kalau begitu, kau mau hidup seperti apa?”
“Gaya hidup sederhana.” katanya.
“Yang sederhana itu seperti apa?” ia bertanya sambil tersenyum.
Bagi lelaki yang menanggung biaya semuanya, ucapan seorang perempuan tentang hidup sederhana terdengar amat memukau.
Namun itu bukan berarti perempuan di depannya ini bodoh atau manja-manjaan. Ia tahu, itu murni karena wataknya. Ia menyukai wataknya, menyukai ketulusannya.
Sejauh itu ia sudah mengenalnya. Ia menyukai yang indah dan nyaman, tetapi selama syarat hidup dasar terpenuhi, pilihannya selalu mengikuti kepribadiannya sendiri. Hatinya terbang ke tempat jauh, mimpinya menetap di dadanya. Ia bersedia mengikutinya, ikut mengapung.
Mereka pergi ke Walmart. Wang Yihu berkata, “Untuk belanja, kau yang menentukan.”
Lian Huaxin menjawab, “Hidup ini sebaiknya dijalani dengan prinsip mengurangi; jangan biarkan hati dijajah benda.”
Ia berjalan di depan memilih, ia mendorong kereta belanja mengikutinya.
Mereka membeli sprei, handuk, handuk mandi, alat dan pasta gigi, sampo, gel mandi, sabun, tisu, serta kebutuhan harian lain. Di apotek mal itu, Lian Huaxin akhirnya membeli kondom dan pil darurat Yuting.
Setelah ruangan selesai ditata, mereka mandi bersama.
Mereka berbaring di antara seprai baru. Wang Yihu memeluknya, mencium dahinya, lalu dengan nada sesal berkata, “Cinta kita disimpan di sini, tak sesuai hati namun tak terelakkan. Yang bisa kukasih padamu sekarang hanyalah keadaan setengah-setengah ini, dan hatiku tetap berat.”
Lian Huaxin merebahkan wajah di pelukannya, pipinya menggesek lembut dagunya. “Tapi hari ini aku sangat senang, sangat bahagia! Paling tidak kita punya sarang kecil yang tenang untuk berdua. Aku tak lagi perlu cemas melihatmu membiarkan uang mengalir ke hotel-hotel, dan tak ada lagi kegeraman panik tiap kali di luar.”
“Lihatlah ini, kau dan aku di sini, hanya ada sarang yang empat temboknya, kosong!” katanya.
“Lalu apa salahnya? Kita tak butuh barang-barang begitu. Hidup bukankah semangkuk bubur, sejarum-sebenang, satu tawa satu tangis, satu suka satu marah! Yang sederhana justru sering lebih dekat pada hakikat hidup, lebih memantulkan kebenaran hidup.”
Ia pun setuju pelan, “Benar juga.”
“Dulu aku membayangkan, kau bisa menjadikan tempat ini studio. Saat senggang kita menorehkan kata dan tinta di sana. Tapi sekarang, rupanya itu pun tak perlu. Tempat ini adalah teluk kasih, teluk tempat kita berlabuh sejenak dan saling menyokong. Meski kelihatan sepi, selama cinta berdenyut di sini, ia tetap bernyawa.”
“Benar.” katanya. “Ini membuatku seolah kembali ke mimpi bertahun-tahun lalu: ada sebuah pondok kecil, menjaga seorang perempuan yang kucintai; setiap hari keluar bekerja, pulang membawa nafkah untuk makan, lalu kembali dan larut berdua, mengisi malam-malam panjang dengan cinta.” Ia berkata dalam lamunan.
Lian Huaxin melanjutkan. “Mereka tak berniat mempunyai anak, karena tahu dunia ini sangat luas, banyak tempat yang menyentuh hati mereka yang berkobar. Mereka ingin melihat laut, pergi ke dataran tinggi, menembus gurun, berjalan di gunung, membuat hidup penuh lewat perjalanan, menyelesaikan satu umur dengan begitu.”