Seratus dua belas
Bab 113: Mengembara
Seorang bocah lelaki berusia tiga atau empat tahun melepaskan genggaman tangan ayahnya dan berlari menuju orang-orangan jerami yang dipajang di depan toko. Di dada dan punggung orang-orangan itu, tertancap deretan manisan buah tanghulu yang bertabur biji wijen, tampak merah mengilap dan menggugah selera. Si bocah menatapnya dengan terpaku. Pemilik toko dengan gemas mengusap kepala bulat bocah itu, "Nak, minta ayahmu membelikan satu, aromanya harum dan rasanya manis, lho!"
Bocah itu berlari kembali ke sisi ayahnya dan mendongakkan wajah mungilnya, "Aku mau beli manisan itu!"
Ayahnya membujuk, "Lihat, kau sudah makan es krim, jeli, dan banyak hal lainnya. Ayah tidak punya uang untuk membelinya lagi."
"Tidak punya uang? Kenapa Ayah tidak pergi membeli uang saja!" bocah itu menarik-narik kerah baju ayahnya sambil mendesak dengan lantang.
Suara cempreng anak itu menarik perhatian orang-orang yang lewat. Dua gadis yang sedang berbelanja saling berpandangan mendengar ucapan itu dan tak kuasa menahan tawa.
Senja itu terasa hangat. Di jalanan kompleks perumahan, keluarga-keluarga berjalan santai atau berbelanja dalam kelompok-kelompok kecil. Di alun-alun dan tepi jalan, anak-anak dari berbagai usia sedang bermain sepatu roda atau papan luncur. Hidup terasa begitu teratur, tenang, dan damai.
Wang Yihu menyaksikan Lian Huaxin berjalan menaiki tangga sendirian dengan lambat dan tertatih. Ia merasa diselimuti oleh rasa sakit dan kegelisahan yang luar biasa.
Ia mengendarai mobilnya pergi dengan pikiran kosong. Begitu melewati sudut gedung, ia tidak lagi sanggup menginjak pedal gas. Ia memutuskan untuk berhenti di tepi jalan dan berjalan mondar-mandir tanpa tujuan di sekitar sana.
Dunia di depan matanya tampak begitu indah dan damai. Namun, Wang Yihu hanya bisa berpura-pura bersikap biasa saja, menyembunyikan kelelahan jiwa dan raga yang amat sangat, berbaur di tengah keramaian layaknya sesosok hantu pengembara.
Seandainya ia bisa dibelah dan dibentangkan di atas tanah seperti ikan asin, membiarkan segala keganjilan di dalam hatinya terpapar di bawah terik matahari, apakah ia masih akan terlihat sebagai pria yang rapi, berwibawa, dan dianggap menarik? Citra seperti apa yang bisa ia berikan kepada dunia ini?
Seketika itu juga, ia merasa sangat hina terhadap dirinya sendiri.
Dialah yang tidak hanya memecah ketenangan hidupnya sendiri yang selama bertahun-tahun dianggap lumrah—sebuah ketenangan yang oleh masyarakat dan keluarga dianggap wajar dan logis—tetapi juga telah merusak kehidupan asmara Lian Huaxin, wanita yang semestinya tidak memiliki kaitan apa pun dengan hidupnya. Dan semua ini terjadi justru karena hubungan terlarang yang ia jalin dengannya.
Apakah ia salah sejak awal?
Ia tidak mengakuinya, ia sama sekali tidak bisa mengakuinya.
Ia tidak sanggup melakukan apa yang dikhawatirkan Lian Huaxin: meninggalkannya begitu saja, menjauh darinya selamanya, membiarkan rahasia cinta mereka seolah tidak pernah terjadi, membiarkan penderitaan wanita itu tidak ada urusannya dengan dirinya, dan membiarkan masalahnya sendiri menguap begitu saja.
Situasinya sesederhana itu: ia mencintainya, dan ia yakin wanita itu pun mencintainya. Ia tidak peduli betapa terlarang, betapa tak berdayanya cinta ini, atau siapa pun yang akan tersakiti—padahal, ia sebenarnya memiliki hati yang sangat sensitif dan lembut.
Saat ini, wanita itu berada hanya puluhan meter darinya, di sebuah tempat yang disebut rumah, terkurung oleh beton dan bata yang dingin, memendam kepedihan dan penderitaan dalam sebuah rahasia besar yang tak terkatakan. Namun, rumah itu bukan miliknya; ia tidak bisa mendekat, merawat, atau menemaninya.
Saat ini, ia menatap langit, langit terasa begitu dekat; namun saat ia menatap wanita itu, jaraknya terasa sangat, sangat jauh.
Kakinya bergerak tanpa kendali, berbalik arah menuju gedung tempat tinggal wanita itu, melangkah dengan gontai.
Saat mendekati pintu masuk gedung, ia tiba-tiba berpapasan dengan pengasuh keluarga Lian Huaxin, yang juga merupakan sepupu ipar wanita itu.
Wanita itu baru saja turun dari atas dengan wajah cemas dan langkah tergesa-gesa.
Ia melihat Wang Yihu, mengenalinya, lalu menghentikan langkah dan menatapnya tajam.
Wang Yihu tentu saja tidak siap. Ia tidak boleh membiarkan wanita itu mengintip rahasia di dalam hatinya. Ia segera mengatur ekspresinya, berpura-pura seolah itu adalah pertemuan yang kebetulan, lalu menyunggingkan senyum tipis dan bertanya, "Mau pergi belanja?"
Sepupu iparnya itu mengangguk. Sepertinya, ia adalah tipe wanita yang tidak banyak bicara.
Setelah mengangguk, ia hendak melangkah pergi.
Entah dari mana datangnya kekuatan, ia bertanya, "Apakah Xiao Lian sakit?"
Itu benar-benar pertanyaan yang hanya bisa dilontarkan oleh seseorang yang bisa meramal.
Sepupu iparnya itu kini menatap tajam ke wajahnya, lalu mengangguk dengan tegas.
Di bawah tatapan yang menyelidik itu, ia merasa benar-benar panik dan berkata, "Tolong beri tahu saya nomor telepon rumah Anda."
Sepupu iparnya menyebutkan serangkaian angka. Ia menyimpannya di ponsel, mengucapkan terima kasih, dan segera berbalik pergi.
Sepupu iparnya seolah lupa dengan tujuannya berbelanja, ia terus menatap punggung pria itu sampai ia masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.