Seratus dua puluh lima
Bab 126 Janji yang Mendebarkan Hati
"Menikahlah denganku, Lian Huaxin!" Wang Yihu memohon sekali lagi. "Aku ingin menikahimu, menikahlah denganku, Sayang!"
Wajah Lian Huaxin merona merah, tubuhnya sedikit gemetar. Ia menatap langit-langit, matanya berkaca-kaca dengan tatapan yang mabuk kepayang.
"Apakah kau benar-benar menginginkanku?" bisiknya dengan napas yang tersengal.
"Ya! Sudah sejak lama, sangat lama, aku menginginkanmu, ingin memilikimu sepenuhnya, memiliki dirimu luar dan dalam." Meski mereka baru menjalin kasih selama setengah tahun, rasanya seolah-olah ia telah melewati setengah abad.
"Bukankah kau... bukankah kau sudah memilikiku, meniduriku, bahkan membuatku mengandung anakmu?" Tubuhnya mulai melemas. "Beberapa bulan bersamamu, bercinta denganmu, sudah jauh melebihi apa yang kulakukan dalam sepuluh tahun terakhir, apakah itu belum cukup?"
Ia mendekap pinggang wanita itu dengan erat. "Belum cukup, belum cukup, masih jauh dari cukup. Aku ingin terus melakukannya bersamamu selamanya, sampai rambut kita memutih, sampai saat aku bersandar padamu dan mengembuskan napas terakhirku."
Ia menundukkan kepala, menyandarkannya di atas kepala pria itu, lalu memejamkan mata. "Kau menyukai tubuhku, aku tahu. Aku akan memberikannya kapan saja kau mau, selama kau menyukainya, dan akan selalu menyukainya."
"Apakah kau tidak menyukaiku?" tanyanya dengan nada terkejut.
"Menurutmu?" ia balik bertanya, namun segera melanjutkan, "Aku menyukaimu, mencintaimu, dan semakin lama semakin tidak bisa hidup tanpamu."
Jantung pria itu berdegup kencang, kata-katanya pun menjadi kacau. "Yang kucintai bukan hanya tubuhmu! Jangan pernah katakan hal itu, apakah kau sedang memarahiku? Kau sudah tahu sejak lama, aku tidak hanya mencintai tubuhmu, tapi juga matamu, hatimu, mencintai caramu mencintaiku, mencintai caraku mencintaimu, mencintai setiap detik dan setiap hal kecil saat kita bersama..."
"Ah, aku setuju!" Akhirnya ia melontarkan jawaban yang selama ini dinanti-nantikan pria itu.
Ia menggendong wanita itu berdiri dan mulai menciuminya dengan liar. Ciuman panas seperti badai menerpa bibir, wajah, dahi, hingga hidungnya...
Wanita itu tertawa, menggeliat ke kiri dan ke kanan menghindari ciumannya. Akhirnya, ia digendong di pinggang, dibawa ke tengah ruangan, dan diputar di udara bagaikan tertiup angin...
"Oh, Tuhan, apakah aku sedang bermimpi? Kau setuju menikah denganku, akhirnya kau setuju!" Ia mendudukkan wanita itu di kursi, sementara dirinya sendiri masih merasa pening dan terhuyung-huyung, berputar-putar di ruangan dengan lengan terentang lebar, seolah sedang berusaha meraih apa pun yang bisa menopang tubuhnya.
Lian Huaxin menatap pria yang sedang lupa diri itu, lalu berkata dengan nada manja, "Lihat dirimu yang konyol itu, seperti anak kecil saja!"
"Haha!" Wang Yihu menerjang ke hadapannya, berlutut, memegang bahu wanita itu, menatap matanya sambil tersenyum lebar, "Sebenarnya, aku sudah tahu sejak lama kalau kau ingin menikah denganku, iya kan?"
"Sejak lama? Coba katakan!" Ia mendekatkan wajahnya dengan penuh minat. "Kalau tebakanmu salah, lihat saja, akan kupelintir telingamu dan kurobek mulutmu!"
"Belum juga resmi menikah, sudah mau melakukan kekerasan dalam rumah tangga?" pria itu dengan usil berpura-pura menghindar.
"Cepat katakan, aku tidak akan menarik ucapanku!" Matanya yang hitam berkilat, bulu matanya yang panjang tampak seperti bilah pedang yang melengkung.
"...Jujurlah, apakah tebakanku benar?" Wang Yihu dengan penuh kemenangan membeberkan detail-detail yang selama ini ia amati dan rasakan, lalu menunggu reaksinya dengan tenang.
Lian Huaxin menendangnya, tidak terlalu keras, namun tendangan itu seolah menjadi pengakuan atas segala hal.
"Selama ini kau selalu meminta maaf padaku, mengaku ceroboh dan tidak peka, ternyata itu semua hanya taktik pengalihan perhatian!" Rasa iri, cemburu, dan benci semuanya terpancar dari matanya yang berbentuk biji badam.
"Masih bilang aku yang bermain-main? Justru kau yang sedang mengujiku dengan pernikahan percobaan!" serunya dengan nada pura-pura garang. "Kau ini, kenapa tidak mengatakannya sejak awal? Membuatku kurang tidur dan menguras pikiranku! Sekarang, giliranku untuk melakukan kekerasan dalam rumah tangga."
Sambil berkata demikian, ia menarik diri dan memasang kuda-kuda jurus belalang, namun tangannya justru membentuk cakar elang. Belum sempat ia menyerang, ia sendiri sudah tertawa.
Wanita itu tak kuasa menahan tawa melihat tingkah konyolnya, sekaligus merasakan gelombang kehangatan yang menyelimuti hatinya. Di antara tawa dan air mata, ia menarik kepala pria itu dan mendekapnya ke dalam pelukan.
"Sayang, aku setuju menikah denganmu, tapi, aku belum bisa menikah denganmu sekarang," bisiknya lirih.
"Kenapa?" pria itu mendongak, wajahnya dipenuhi kebingungan.