Bab Dua Belas: Kekhawatiran Dari Dalam
Mata Ouyang Ke berbinar, hatinya bergetar, ia tak lagi mempedulikan Tolui, lalu berkata dengan senyum penuh makna, “Aku, Tuan Muda Ouyang, orang macam apa? Sekali berkata, mana mungkin menarik kembali? Namun, dia boleh pergi, tetapi Nona Huazheng, kau tetap harus tinggal di sini…”
“Baiklah.”
Cheng Lingsu sudah memperkirakan Ouyang Ke tak akan begitu saja melepaskan mereka. Namun demikian, ia juga merasa lebih baik begini—sendirian ia masih bisa beradu akal dengan Ouyang Ke dan mencari celah untuk melarikan diri, tapi jika ada Tolui, ia malah akan terbebani. Maka, sebelum Ouyang Ke sempat berkata aneh-aneh, ia langsung menyela dan menyetujui.
Ouyang Ke tak menyangka ia menyetujui begitu cepat, ia pun tertawa, “Nah, begini baru benar. Dengan satu pengganggu pergi, kita bisa berbicara dengan baik.”
Cheng Lingsu tak menghiraukannya, berbalik badan, mengeluarkan sapu tangan bersulam bunga biru dari balik baju, mengibaskannya di udara, lalu membalut luka di telapak tangan Tolui yang menganga. Dua kuntum bunga biru itu ia masukkan kembali ke saku. Setelah itu, ia menjelaskan singkat keadaan pada Tolui dan memintanya segera kembali.
Wajah Tolui tampak kelam, ia mundur dua langkah, kemudian tiba-tiba menghunus golok tunggal di samping kakinya. Tatapannya tajam menatap ke arah Ouyang Ke, lalu ia mengayunkan goloknya ke udara di depan dada, seraya berseru, “Ilmumu memang tinggi, aku bukan lawanmu. Tapi hari ini, atas nama putra Temujin Khan, aku bersumpah pada Dewa Padang Rumput, setelah aku menumpas semua penghianat yang mengincar ayahku, aku pasti menantangmu bertarung satu lawan satu! Demi membalaskan dendam adikku, dan agar kau tahu seperti apa putra-putri pahlawan padang rumput sesungguhnya!”
Sama-sama putra kepala suku Mongol, Tolui dikenal ramah dan setia kawan, tak seperti Dushi yang selalu arogan. Namun, harga dirinya tak kalah tinggi. Ia adalah putra kesayangan Temujin, sangat memahami cita-cita besar ayahnya—mengubah semua daratan di bawah langit menjadi padang gembalaan bangsa Mongol!
Demi tujuan itu, sejak kecil ia digembleng di ketentaraan, tak pernah lalai sedetik pun. Siapa sangka, setelah bertahun-tahun berlatih, kini malah tertangkap musuh, dan hari ini bahkan tak bisa membawa pulang adik yang datang menolongnya! Tolui tahu Cheng Lingsu benar, saat ini ia harus lebih mementingkan keselamatan Temujin, segera kembali dan mengerahkan pasukan untuk menyelamatkan ayahnya. Namun, membayangkan adiknya harus ditahan di sini, rasa malu di dadanya membuat napasnya nyaris tercekat.
Bangsa Mongol sangat memegang janji, apalagi jika bersumpah pada Dewa Padang Rumput yang dipercaya semua orang. Tolui sadar dirinya bukan tandingan Ouyang Ke, tapi tetap bersumpah dengan penuh keyakinan, wajahnya tampak begitu gagah dan khidmat, kata-katanya penuh semangat membara. Walau bukan ahli bela diri, namun pengalaman bertahun-tahun di militer membuat bahunya memancarkan aura raja yang sama persis dengan Temujin—gagah, berwibawa, membuat Ouyang Ke pun diam-diam terkejut, meski ia tak mengerti sepenuhnya apa yang diucapkan Tolui.
Cheng Lingsu merasa hangat di hati, darah sebagai putri Temujin seolah ikut merasakan kegigihan dan tekad Tolui, menyembur deras hingga membuat matanya memanas. Ia bergeser ke samping tanpa menampakkan ekspresi, berjaga di arah yang mungkin jadi serangan Ouyang Ke, lalu berbisik, “Cepatlah pergi, segera kembali, aku punya cara sendiri untuk lolos.”
Tolui mengangguk, melangkah dua langkah mendekat, merentangkan tangan memeluknya sebentar, lalu tanpa memandang Ouyang Ke lagi, ia berbalik dan berlari ke arah gerbang perkemahan.
Di jalan, beberapa prajurit penjaga yang melihatnya keluar dari dalam kemah hendak menghadang, namun semuanya ditebas dengan satu ayunan golok dan terkapar di tanah.
Setelah melihat sendiri Tolui merebut kuda di pinggir perkemahan dan melarikan diri, barulah Cheng Lingsu merasa lega dan menghela napas pelan.
Di kehidupan sebelumnya, gurunya, Raja Racun, menggunakan racun sebagai obat, menyembuhkan banyak orang, namun sangat percaya pada karma dan reinkarnasi, hingga di usia tua memilih masuk agama Buddha, menenangkan jiwa, mencapai keadaan tanpa amarah dan tanpa suka cita. Cheng Lingsu adalah murid terakhirnya, sangat terpengaruh oleh ajaran itu. Kini, setelah mengalami satu putaran kehidupan dan kematian, ia dikirim ke tempat ini, Cheng Lingsu pun terpaksa percaya, mungkin memang ada maksud lain yang tersembunyi.
Awalnya, ia tak ingin terlalu banyak terlibat dengan orang-orang dan peristiwa di dunia ini, bahkan sempat ingin mencari kesempatan untuk pergi jauh, kembali ke tepi Danau Dongting, melihat seperti apa Kuil Kuda Putih ratusan tahun kemudian. Membuka klinik kecil, mengobati orang, menjalani hidup dengan mengenang cinta dan rindunya pada seseorang dari kehidupan lalu. Apalagi, jika Temujin tertimpa bahaya, suku Mongol tempat ia tinggal selama sepuluh tahun juga akan celaka; ibu dan kakak yang benar-benar menyayanginya, bersama para kerabat yang telah ia kenal bertahun-tahun, semuanya akan terkena imbas. Setelah sepuluh tahun bersama, mana mungkin ia berpangku tangan?
Memikirkan itu, Cheng Lingsu kembali menghela napas.
Melihat Cheng Lingsu terus memandang ke arah Tolui pergi dan berkali-kali menghela napas, Ouyang Ke mengangkat dagu dan mencibir, “Kenapa? Begitu beratkah berpisah?”
Mendengar nada di balik ucapannya, Cheng Lingsu mengerutkan kening dan segera menjawab, “Aku khawatir pada kakakku, memangnya salah?”
“Oh? Dia kakakmu?” Ouyang Ke mengangkat alis, rona bahagia sekilas melintas di sudut matanya, “Kalau begitu... anak muda yang tadi itu kekasihmu?”
“Apa yang kau omongkan...” Cheng Lingsu tercekat, baru sadar maksudnya, “Kau maksudkan Guo Jing? Jadi kau sudah tahu sejak tadi kami datang?”
“Bukan kalian, tapi kau! Begitu kau datang, aku sudah tahu,” jawab Ouyang Ke dengan puas, jelas senang melihat reaksi Cheng Lingsu.
Meski Cheng Lingsu sudah turun dari kuda dari jauh, namun tenaga dalam Ouyang Ke sangat tinggi, pendengarannya pun jauh melampaui prajurit Mongol biasa. Hampir bersamaan dengan saat Cheng Lingsu menyusup masuk ke perkemahan, ia sudah menyadarinya. Saat hendak muncul, ia justru melihat Ma Yu membawa Cheng Lingsu dan Guo Jing pergi.
Dulu, pamannya, Ouyang Feng, pernah menderita di tangan Pendeta Quanzhen, sehingga pihak Barat selalu punya dendam dan waspada pada para pendeta Quanzhen. Ouyang Ke mengenali jubah Ma Yu, mengingat peringatan pamannya, lalu membatalkan niatnya untuk menampakkan diri. Ia justru bersembunyi, memperhatikan percakapan mereka dari jauh.
Awalnya ia mengira Cheng Lingsu akan membujuk Ma Yu untuk menerobos masuk dan menyelamatkan orang. Ia tak tahu Ma Yu adalah kepala perguruan Quanzhen, hanya berpikir bahwa selain ribuan prajurit di perkemahan, masih ada beberapa pendekar andalan Wanyan Honglie, dan itu cukup untuk menghalangi Ma Yu, mungkin bahkan bisa membunuhnya, mengurangi satu ahli Quanzhen. Namun tak disangka, pendeta itu justru memilih pergi bersama Guo Jing, meninggalkan Cheng Lingsu seorang diri di sini.
Saat ini, Cheng Lingsu mulai menyusun benang merah dalam pikirannya: “Kedatangan rahasia Wanyan Honglie ke sini pasti untuk memprovokasi San Kun dan ayahku, agar suku Mongol saling bertikai, sehingga negara Jin di utara terbebas dari ancaman.”
Ouyang Ke sama sekali tak tertarik pada urusan intrik seperti itu, namun melihat Cheng Lingsu berbicara serius, ia hanya mengangguk dan memuji, “Benar-benar cerdas, bisa menyimpulkan dengan cepat.”
Dengan tangan merapikan rambut yang terurai ditiup angin, tatapan Cheng Lingsu sebening air Sungai Onon di padang rumput, “Kau orang Wanyan Honglie, namun kau membiarkan Guo Jing kembali memberi peringatan, sekarang juga membiarkan Tolui pergi untuk mengerahkan pasukan. Tidakkah kau takut menggagalkan rencananya?”
Ouyang Ke tertawa keras, tangannya menjulur, dengan ringan menunjuk dagu Cheng Lingsu, “Takut? Apa urusannya rencana dia denganku? Kalau bisa membuat si cantik tersenyum, apa artinya semua itu?”
Cheng Lingsu bukannya tersenyum, malah mengerutkan kening, mundur setengah langkah, menghindari kipas lipat yang mencoba mengait dagunya. Ia mengulurkan tangan, “plak”, tepat menggenggam ujung kipas berwarna hitam pekat itu. Ia merasakan rasa dingin menembus telapak tangan hingga ke tulang, hampir saja ia melepasnya. Saat itu ia baru sadar, tulang kipas itu terbuat dari besi hitam, dinginnya luar biasa.
“Bagaimana? Suka dengan kipas ini?” Ouyang Ke tampak santai, memutar pergelangan tangan, menepis tangan Cheng Lingsu dan mengambil kembali kipasnya. Ia kembali membuka kipas itu di depan dada, mengibaskannya ringan, “Kalau kau suka yang lain, kuberikan pun tak masalah. Tapi untuk kipas ini...,” ia terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis, “Kalau kau benar-benar suka, asal kau mau selalu menemaniku, tentu kau bisa melihatnya kapan saja...”
Penulis ingin berkata: Wahai Ouyang Ke, Lingsu hanya menaksir kipasmu, masa sebegitu pelitnya tak mau memberikannya? Kikir sekali~
Ouyang Ke: Itu kan... eh... hadiah dari ayah... eh, maksudku, dari paman...