Bab Lima Puluh Enam: Perasaan yang Halus
Su Yue perlahan memalingkan kepala, menghadap Liang An Yan. Malam begitu gelap, ia hanya bisa menebak siluet samar pria itu berkat cahaya bulan yang redup. Ia tertegun menatapnya, tak berkedip sedikit pun.
Liang An Yan merasakan tatapannya. Ia menoleh, menyambut pandangan Su Yue. Begitu mata mereka bersitatap, Liang An Yan langsung melompat bangun dan berdiri di tepi ranjang, menatap Su Yue dengan gugup, “Ada apa denganmu?”
Penglihatannya sangat tajam, sehingga seketika ia melihat bekas air mata di sudut mata Su Yue. Ia terkejut, sebab selama ini, Su Yue tak pernah menangis di hadapannya. Dulu, Su Yue pernah berkata bahwa air matanya tak akan pernah jatuh karenanya. Karena itulah, ia selalu yakin bahwa Su Yue tidak mencintainya. Bahkan hingga kini, ia masih berpikir demikian.
Su Yue membenamkan kepala ke dalam selimut, memeluknya erat dan membalikkan tubuh. Suaranya tertahan, “Tak apa.” Sebenarnya ia merasa sangat malu. Tak melakukan apa pun, hanya mendengar satu kalimat saja, ia sudah tersentuh hingga menangis. Bukan hanya Liang An Yan yang merasa aneh, bahkan dirinya sendiri pun tak bisa menerima. Padahal ia bukan tipe orang yang mudah menangis.
Tindakan Su Yue itu membuat Liang An Yan terpaku lama di tempat, hatinya tiba-tiba saja dipenuhi kesedihan yang tak berujung, menggenangi relung hatinya.
Saat itulah, terdengar ketukan dua kali dari luar pintu. Liang An Yan mengernyitkan dahi, satu tangannya meraba pisau terbang di pinggang, bersiap siaga, lalu bertanya dengan suara tajam ke arah pintu, “Siapa di sana?” Ia sama sekali tidak menyadari ada orang yang mendekat, begitu senyap hingga tiba di depan pintu. Jika itu musuh, ia tak akan sempat bertahan.
Sejenak suasana di luar hening, lalu terdengar suara dalam dan parau milik Luo Yao Chun, “Nona Su Yue? Tuan Perdana Menteri sudah kembali ke ibu kota. Liang Liang terus mencari ibunya. Apakah sekarang boleh masuk?”
Mendengar itu adalah Luo Yao Chun, Liang An Yan langsung menghela napas lega, dalam hati semakin mengagumi kemampuan bela diri Luo Yao Chun. Ia menoleh ke arah Su Yue yang masih meringkuk di pojok, menghela napas, lalu berkata, “Istirahatlah baik-baik,” sebelum beranjak ke luar.
Su Yue berbaring di sisi dalam tempat tidur, memasang telinga mendengarkan suara dari arah pintu.
“Serahkan anaknya padaku, terima kasih atas bantuanmu.”
“Tak masalah, saya pamit.”
Sepertinya Liang An Yan membisikkan sesuatu pada Liang Liang. Su Yue hanya bisa merasakan suara Liang Liang yang terdengar tak begitu senang, namun akhirnya, di bawah bujukan ayahnya, ia pun mengalah.
Su Yue mendengar langkah kaki keduanya semakin mendekat, ia pun buru-buru berbaring rapi di sisi dalam tempat tidur.
“Ibu? Aku dan ayah akan tidur, ibu juga cepat istirahat ya!” Suara lembut Liang Liang terdengar, jelas sekali ia masih tidak rela.
Tanpa berpikir panjang, Su Yue langsung menoleh, terkejut bertanya, “Kalian mau tidur di mana?” Begitu pertanyaan itu terlontar, ia pun terpaku di tempat, ingin rasanya membenamkan diri ke dalam tanah. Ya ampun, apa yang telah ia lakukan? Seolah-olah ia berharap mereka tetap tinggal dan tidur bersama.
Karena reaksi mendadak itu, Liang An Yan pun terkejut, matanya berputar, ragu sejenak sebelum bertanya, “Kalau begitu... kami tinggal di sini?”
Wajah Su Yue memerah, ia membalikkan badan dan berbaring, “Terserah kalian.”
Bukankah itu berarti ia mengiyakan? Liang Liang tak menunggu reaksi ayahnya, langsung bersorak, naik ke tempat tidur, dan menyelinap di samping Su Yue, “Aku mau tidur dengan ibu!”
Su Yue membalikkan badan, menghadap Liang Liang, secara alami memeluknya erat, “Tidurlah.” Ia memejamkan mata, tak berani menatap Liang An Yan. Ia sendiri tak tahu mengapa ia begitu terbuka, yang jelas, ia tak ingin mereka pergi. Di malam yang sunyi dan dingin ini, kehadiran putranya dan pria itu mendatangkan rasa tenang yang tak ia mengerti. Biarlah kali ini ia mengikuti kata hati, inilah yang diam-diam ia katakan pada dirinya sendiri.
Liang An Yan begitu bahagia hingga tak bisa menyembunyikannya, ia melompat ke atas tempat tidur dengan semangat. Saat itu juga, hatinya seolah dipenuhi kembang api yang menerangi malam kelam, membuat hidupnya terasa begitu indah.
Keesokan harinya, saat fajar baru menyingsing, Liang An Yan entah pergi ke mana. Su Yue berjalan mengelilingi kamar dengan mata setengah terpejam, tak melihat seorang pun.
Liu Xing sedang sendirian menikmati bunga di taman. Melihat Su Yue, ia tersenyum sinis, “Mengapa begitu tak pernah puas?”
Tahu bahwa yang dimaksud adalah kejadian semalam, Su Yue melemparkan tatapan tajam pada Liu Xing, membela diri dengan tegas, “Siapa yang tidak puas! Aku tak melakukan apa-apa, jangan mengada-ada! Aku hanya khawatir anak itu tidak bisa tidur nyenyak!”
Liu Xing melipat jarinya, dengan cekatan memetik setangkai bunga, tanpa sudi menoleh atau membalas ucapan Su Yue.
Su Yue mendengus, merasa tak bisa membantah, dan tak ingin memperpanjang masalah. Ia mondar-mandir di sekitar Liu Xing, tampak ingin berkata sesuatu tapi ragu-ragu.
“Katakan saja kalau ingin bicara.” Liu Xing tahu apa yang ingin ditanyakan Su Yue. Meski ia juga ingin keduanya bersama, ia merasa belum waktunya. Ia pun tak yakin apakah Liang An Yan benar-benar telah berubah. Kalau mereka mulai kembali terlalu cepat, lalu Su Yue kembali terluka, bagaimana ia bisa menanggungnya?
Su Yue tahu ia tidak bisa menyembunyikan niatnya dari Liu Xing, jadi ia langsung bertanya, “Liu Xing, kenapa aku tak bisa mengingatnya? Dan, kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Itu karena kau sendiri yang memintaku. Sekarang kau ingin aku memberitahumu?” Tatapan Liu Xing terasa dingin. Ia jarang memperlihatkan ekspresi seperti itu, membuat Su Yue merinding. Ia berkata, “Su Yue, kau pasti tak ingin tahu bagaimana kau memohon padaku waktu itu, kau juga tak ingin tahu syarat apa yang kau ajukan.” Selesai berkata, ia pun pergi tanpa menoleh.
Ia mengucapkan kata demi kata dengan pelan, meninggalkan jejak menggigil pada kulit Su Yue.
Su Yue menarik napas panjang, menoleh ke arah kepergian Liu Xing, lalu bertanya keras, “Liu Xing, apakah cara itu masih bisa digunakan?”
“Aku sarankan kau berpikir baik-baik.” Begitu cepat sudah tak tahan? Ia sungguh tak mengerti pesona apa yang dimiliki Liang An Yan hingga Su Yue berkali-kali tak peduli dan terus mendekatinya. Ia sebenarnya ingin mencegah, tapi ia juga tak ingin membatasi Su Yue. Ia hanya meninggalkan satu peringatan, lalu pergi. Asalkan kelak Su Yue tidak menyesal, ia akan merasa lega.
Mungkin, begitulah sebagian orang. Meski tahu seharusnya tak mendekat, tetap saja ia rela menanggalkan pertahanannya dan jatuh hati.