Bab Lima Puluh Enam: Kabar yang Sampai ke Daerah Jiannan

Adipati Pertama Xi Xing 2376kata 2026-01-30 16:00:47

Ini adalah Nyai Guihua, pengurus bagian dalam rumah Li Feng'an.

Suaminya dulu merupakan pengintai di bawah komando Li Feng'an, namun gugur dalam pertempuran ketika masih bertugas di Kantor Pengamanan Utara. Guihua yang baru saja menikah kala itu tak mau menikah lagi. Ia merawat ibu mertuanya hingga akhir hayat, lalu menjual harta keluarga dan menggendong buntalan kecil untuk mengadu nasib kepada Li Feng'an di Daerah Jiannan.

Saat Guihua pertama datang, ia tak bisa apa-apa dan ditempatkan di halaman belakang untuk mencuci pakaian. Namun, dalam setahun ia belajar membaca, dua tahun kemudian ia hafal tata krama keluar-masuk rumah, dan di tahun ketiga ia mahir menghitung, mencatat, serta memeriksa pembukuan.

Awalnya semua mengira Guihua hanyalah janda malang yang mencari jaminan hidup, tapi tekadnya untuk belajar keterampilan itu membuat Li Feng'an terkejut dan penasaran. Saat ditanya tentang cita-citanya, Guihua yang berasal dari desa berkata bahwa jika para pria mengikuti Panglima Li untuk menorehkan jasa di luar, maka bagian dalam rumah tangga pun adalah medan juang tersendiri, dan para perempuan juga dapat meraih prestasi di sana.

Di tahun keempat, Li Feng'an mengangkat perempuan yang menganggap pengelolaan rumah tangga sebagai ladang pengabdian ini menjadi kepala pengurus bagian dalam.

Li Feng'an tak pernah menikah lagi atau mengambil selir, sehingga Guihua menjadi nyonya rumah, memegang kendali penuh atas kebutuhan rumah tangga dan pengaturan staf. Ia setara dengan Lin Ren yang mengurus keuangan, Yuan Ji pengawal pribadi, serta Jenderal Yan Mao, sehingga mereka dijuluki Empat Pelindung Besar Li Feng'an.

Guihua tak pernah bersikap angkuh. Ia menghormati Panglima Wilayah Longyou, Xiang Yun, lalu menoleh pada Li Mingyu, "Tubuh Datu kecil, duduk di kursi tidak nyaman. Lebih baik ganti kursi yang sesuai dengan meja saja."

Guihua berbicara tegas dan rapi, tidak menunjukkan keakraban pada saudara Li Minglou dan Li Mingyu.

Namun, Li Mingyu sama sekali tidak takut padanya. Ia mengulurkan tangan, berseru gembira, "Baik, baik!"

Guihua pun menggendongnya turun. Sementara itu, Douniang menggenggam tangan di samping, menatap penuh harap, "Nyai Gui, apakah akan ada hadiah di rumah?"

"Tentu saja," jawab Guihua, "Saya datang untuk meminta petunjuk Datu, apakah pesta di rumah akan diadakan hari ini atau besok?"

Li Mingyu berpikir serius sejenak, "Besok saja. Hari ini aku akan pergi bersama Tuan Xiang merayakan dengan para pejabat dan prajurit." Ia pun menoleh pada Xiang Yun dan tersenyum, "Merepotkan Tuan Xiang."

Sejak saat itu, semua menjadi rekan setara, saling memanggil "Tuan", bukan lagi paman dan keponakan.

Namun, sejak kembali dari Prefektur Jiangling, Li Mingyu tak pernah lagi memanggil Xiang Yun sebagai Paman Xiang.

Xiang Yun menunduk dan menjawab, "Saya akan mengatur segalanya dulu, lalu kembali menjemput Datu."

Li Mingyu pun mengangguk serius, meniru gaya orang dewasa.

Xiang Yun keluar ruangan, mendengar suara anak-anak di dalam meminta permen pada Guihua, "Aku sudah jadi Datu, ini peristiwa besar! Aku ingin makan permen!"

Menjadi Datu ditukar dengan sebatang permen—jika kabar ini tersebar, para penguasa daerah lain di Xia pasti akan dibuat kesal hingga tak nafsu makan. Senyum tipis pun terbit di bibir Xiang Yun.

"Tuan Xiang!"

Terdengar teriakan dari depan, penuh tawa riang.

Xiang Yun melihat Li Fengyao berjalan dengan senyum lebar.

"Tuan Xiang, ini benar-benar peristiwa besar." Li Fengyao menggenggam lengan Xiang Yun, wajahnya berseri-seri.

Tubuh Xiang Yun menegang sejenak, rona sakit melintas di wajahnya.

Li Fengyao buru-buru melepaskan genggaman, "Tuan Xiang, aku... aku lupa soal lukamu."

Karena menyelamatkan Li Mingyu yang hampir terjatuh dari kuda, Xiang Yun cedera di lengan dan baru bisa turun ranjang beberapa hari ini. Li Fengyao cemas ingin memeriksa, namun tak berani menyentuh lengannya lagi.

"Tidak apa-apa," Xiang Yun tersenyum menenangkan, "Luka di kulit memang terlihat menakutkan, tapi selama tidak membahayakan nyawa, penyembuhannya akan cepat."

Li Fengyao pun lega, "Kau harus baik-baik saja, Tuan Xiang, kau adalah orang yang paling berjasa bagi keluarga Li." Ia kembali bersemangat saat bicara tentang jasa, namun kali ini hanya menggerak-gerakkan tangan di udara, tak berani memegang lengan Xiang Yun, "Soal pewarisan gelar, Tuan benar-benar menepati kata-kata."

Sekali lagi, rona sakit melintas di wajah Xiang Yun, dan Li Fengyao buru-buru menurunkan tangannya.

"Tuan Xiang, lukamu benar-benar tak apa-apa? Sebaiknya kau segera beristirahat." Ia cemas bertanya, lalu matanya berbinar, "Minglou membawa seorang tabib dari Prefektur Jiangling, pasti hebat sekali. Bagaimana kalau tabib itu yang memeriksa lukamu?"

Meski hanya beristirahat di dalam rumah, Xiang Yun pun tahu soal ini. Ia bahkan tahu nama tabib itu Ji Liang. Namun, menurut kabar dari para pengikut, tabib itu tak tampak seperti tabib, melainkan lebih mirip pengemis gila.

Apakah di Prefektur Jiangling ada tabib hebat yang begitu dihargai Li Minglou hingga dikirim khusus ke Daerah Jiannan? Jika memang benar hebat, bukankah Li Minglou sendiri yang lebih membutuhkan?

Terlepas dari itu, Yan Mao tahu tentang cederanya. Jika tabib itu benar-benar ajaib, mengapa tidak dikirim untuknya?

Tidak dikirim berarti tabib itu bukan ahli, atau Yan Mao memang tak ingin mengirimnya. Apa pun alasannya, Xiang Yun tak mungkin meminta tabib itu secara aktif. Hal sederhana seperti ini pun rupanya tak dipikirkan oleh Tuan Ketiga Li, entah karena bodoh atau mengira di Jiannan Xiang Yun punya kedudukan setara dengannya.

Di Jiannan, Li Fengyao memang berstatus sebagai orang tua, namun tak punya kewenangan seorang senior. Ia diperlakukan seperti tamu, semua yang diinginkan harus diusahakan sendiri.

Ia memang aktif, namun kendali bukan di tangannya.

Xiang Yun tentu berharap alasannya adalah yang pertama, tetapi membohongi diri sendiri tak ada gunanya. Segala sesuatu harus dipertimbangkan dari sisi terburuk, yang paling sulit diterima.

Kini, yang paling buruk pun bukan hanya satu sisi saja.

Xiang Yun menarik napas dalam-dalam, "Lukaku tak apa-apa, dan soal ini pun bukan aku yang melakukannya, Tuan Ketiga salah paham."

Suara Li Fengyao meninggi, "Bagaimana bisa? Kalau bukan Tuan Xiang, lalu siapa? Tuan Xiang benar-benar merendah! Kalau bukan kau yang memberi petunjuk, bagaimana Minglou dan yang lain bisa menulis permohonan itu!"

"Tapi memang ini kebetulan sekali, katanya tadinya mau minta bantuan Tuan Meng, tapi karena para pelayan itu memang suka bikin ulah, mereka malah ribut dengan Liang Zhen, akhirnya permohonan itu direbut dan dibawa ke hadapan Kaisar untuk mengadu."

"Hahaha, ini benar-benar untung di balik musibah. Kaisar bukan saja tak menyalahkan Kakak, malah mengingatnya dan mengabulkan permohonan itu."

"Tuan Xiang, coba bayangkan wajah tua Liang Zhen itu, lucu sekali kan?"

Apalah lucu tidaknya Liang Zhen, siapa yang peduli. Xiang Yun hanya tersenyum sekadarnya.

Memang ia pernah membicarakan secara pribadi pada Li Fengchang tentang niatnya agar Li Mingyu mewarisi jabatan panglima wilayah, agar klan Li tetap kokoh di Jiannan. Namun, ia sendiri belum sempat bertindak.

Tak disangka Li Minglou juga memikirkan hal itu, dan sudah melaksanakannya.

Siapa yang memberi petunjuk pada anak perempuan itu? Yuan Ji kah? Tapi kenapa Yuan Ji tak memberitahunya? Meski ia sendiri juga belum sempat bicara pada Yuan Ji.

Ia menahan diri karena ingin memastikan segalanya dulu sebelum mengumumkan, toh waktu Li Feng'an tiada masih terlalu singkat, sahabat-sahabatnya pun belum cukup lama melupakan, sehingga pentingnya peran Xiang Yun belum terasa.

Tapi ia lupa bahwa para musuh Li Feng'an justru semakin membenci, semakin berani, hingga muncul sosok Liang Zhen.

Apakah ini kebetulan atau ulah seseorang?

Pikiran Xiang Yun semrawut, ia perlu memikirkannya matang-matang.

Ia merangkul lengan Li Fengyao, "Bagaimana pun juga, semuanya sudah berhasil, ini peristiwa besar. Aku akan mengatur persiapan perayaan."

Li Fengyao merasakan genggaman di lengannya, membuatnya merasa sangat penting. Ia pun menegakkan badan dan menopang Xiang Yun, "Tuan, kau istirahat saja, urusan perayaan serahkan padaku, biar aku yang mengatur untuk mereka."