Bab 73: Teknik Naga Air

Menapaki jalan keabadian demi pasangan sejati Xu Liao 2314kata 2026-02-07 17:55:36

Nama seseorang, bayangan pohon—begitulah ungkapan yang menggambarkan kehormatan yang dimiliki oleh Chu Tian, yang dikenal sebagai salah satu dari dua penasehat utama di bawah putra mahkota. Selain kecerdasannya, kekuatan luar biasa di dalam dirinya pun tak kalah penting, terutama kini ketika ia telah mencapai tingkat Penerangan. Kehebatannya bahkan melampaui Gongsun Ce. Chu Tian menatap Ma Wenjun, matanya perlahan berubah menjadi pupil tegak—bukan dingin dan tanpa emosi seperti ular, melainkan memancarkan kemuliaan bak bangsa naga. Rambut indahnya pun tampak diselimuti semburat biru muda. Chu Tian dapat merasakan aura biru air berputar di sekitarnya; hatinya pun tergerak, menyadari lawan di hadapannya ini bukanlah sosok yang mudah ditaklukkan.

Pedang tanpa ujung di tangan Ma Wenjun mengoyak kabut air di sekitar, aura pedangnya mengibarkan angin. Para petapa di sekeliling mereka pun sadar diri, memberi ruang bagi dua orang itu untuk bertarung. Bahkan para pemuda terpilih dari Paviliun Naga Air pun enggan mengganggu pertarungan kakak seperguruan mereka pada saat seperti ini. Namun, kekaguman tampak jelas di mata mereka. Ma Wenjun mampu memimpin kelompok bukan hanya karena senioritas, tapi juga karena kekuatannya yang luar biasa—itulah yang membuatnya mampu melindungi para adik seperguruannya.

Di bawah kaki Ma Wenjun, muncul genangan air laut biru pekat yang tak mampu dibekukan bahkan oleh musim dingin yang menusuk. Kabut air di sekelilingnya semakin berat. Dengan kedua tangan yang digabungkan, Ma Wenjun membelah aura pedang. Namun, di sela ibu jarinya terlihat retakan, membuatnya mengagumi lawannya dan berkata, “Hebat! Saudara Chu memang layak menjadi murid utama Guru Xuantian. Terus terang, aku memang sudah lama ingin mencari kesempatan untuk menguji kemampuan denganmu.”

Para pemuda terpilih memang selalu menyimpan kebanggaan. Sebelum para senior tiba di Kota Raja Qin, Chu Tian sudah lebih dulu bersinar di antara mereka; entah berapa banyak petapa sesat yang tumbang di tangannya, bahkan namanya tercantum dalam daftar yang harus dibunuh oleh pihak sesat. Meski serangan Chu Tian hanya sebatas percobaan, ketajaman aura pedangnya bukanlah sesuatu yang bisa dihadapi oleh sembarang orang. Terlebih lagi, pedang tanpa ujung miliknya mengandung hawa dingin yang menusuk; petapa biasa jika terluka akan langsung terkena dampaknya pada jiwa mereka. Namun, Ma Wenjun hanya mengalami luka kecil di sela ibu jarinya. Wajahnya tetap tenang, sikapnya santai, membuat Chu Tian angkat topi, membalas, “Kekuatanmu juga tidak kalah, Saudara Ma.”

Percakapan mereka mungkin terdengar santai, namun pertarungan kian sengit. Di wilayah tempat Chu Tian berdiri, terasa jelas derasnya air yang mengamuk. Bahkan dari kejauhan, suara ombak samudera pun terdengar. Tak ingin terperangkap dalam formasi musuh, Chu Tian terus bergerak, berharap menemukan celah untuk mengalahkan lawan. Air biru mengalir deras di bawah kakinya, namun setiap kali air laut hendak bergerak lebih jauh, cahaya pedang akan membelahnya. Keduanya saling menahan kekuatan. Keahlian pedang Chu Tian memang luar biasa, terutama dalam serangan. Ma Wenjun sendiri tak ingin bertarung habis-habisan sampai terluka, memilih menahan diri.

Tangan Ma Wenjun bergerak cepat membentuk formasi. Seekor naga kecil berwarna biru air bergerak di antara jemarinya, bersamaan dengan perubahan pada formasi di sekeliling mereka. Seketika, seekor naga air lain pun muncul—naga di tangan Ma Wenjun adalah kunci pengendali utama formasi ini. Air, yang tak berbentuk dan tak berwujud, membuat naga air yang tertebas oleh pedang pun akan segera terbentuk kembali. Namun, mengendalikan naga air seperti itu jelas menguras tenaga. Keringat tipis sudah membasahi dahi Ma Wenjun, menandakan betapa besar energi spiritual yang telah ia keluarkan. Naga air menderu, meski wujud wajahnya belum sepenuhnya menyerupai naga sejati, tampak aneh di mata Chu Tian.

“Jurus Pedang Cahaya Ilahi!” Aura pedang memancar dari pedang tanpa ujung, jelas terlihat oleh semua orang, membelah lautan di bawah mereka, bahkan meninggalkan bekas mengerikan di permukaan tanah. “Kutebas nagamu!” Aura pedang menyambar kepala naga, menebasnya dengan tajam. Bahkan naga biru di tangan Ma Wenjun pun berguncang hebat. Dengan terkejut, ia berkata, “Tak kusangka aura pedangmu setajam ini, Saudara Chu. Air di sini adalah air laut sejati, bisa dianggap sebagai lautan sungguhan. Naga kecil di tanganku juga dibentuk dan dipelihara oleh mantra dan jimat. Satu tebasan pedang saja sudah cukup membuatnya goyah. Hebat!”

Ucapan itu tulus tanpa niat memuji berlebihan; Ma Wenjun sendiri tak berminat melakukannya. Ia benar-benar terkejut oleh kekuatan aura pedang itu. Jurus tadi sudah hampir mencapai tingkat kehati-pedangan; di Paviliun Naga Air, generasi muda yang mampu menyaingi Chu Tian mungkin tak sampai sepuluh orang.

Setelah menstabilkan naga air di tangannya, sorot mata Ma Wenjun ke arah Chu Tian menjadi lebih tajam. Jika ia terus bertahan dengan gaya percobaan, jelas tak akan mampu menang. Apalagi di sini banyak saudara seperguruan yang menonton. Jika ia kalah di hadapan mereka, pulang nanti pasti jadi bahan tertawaan.

“Chu Tian, selanjutnya, hati-hati!” Naga air di tangannya terbelah menjadi dua. Begitu dua naga muncul, lautan di sekitar pun semakin bergelora. Di luar, dua petapa tingkat Jindan yang melihat pertarungan itu merasa heran karena tidak ada aura membunuh, lalu memasang formasi di sekeliling agar tidak ada yang terluka. Kini, seluruh formasi telah dipenuhi lautan hingga setinggi tiga meter. Ma Wenjun melangkah di atas air, diiringi dua naga air yang kini menjadi senjata andalannya.

Menghadapi Ma Wenjun yang datang bersama naga airnya, wajah Chu Tian sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Sebaliknya, ia tertawa lantang, “Bagus! Biarkan aku melihat kehebatanmu, Saudara Ma!” Pedang tanpa ujung mengeluarkan hawa dingin yang semakin tebal, aura di tubuh Chu Tian juga semakin berat, tenggelam ke dalam lautan, membentuk lapisan es di ujung kakinya.

Aura pedang tanpa ujung itu kini semakin murni dan membeku, tak lagi sembarang dipergunakan seperti dulu, namun penuh ketegasan. Setiap jengkal tanah yang disentuh oleh aura pedangnya langsung membeku, tanpa lagi mengandung energi jahat, tapi hawa dinginnya jauh melampaui dingin biasa. Setiap ayunan pedangnya, es di bawah kaki semakin tebal. Air berubah menjadi es; begitu naga air naik ke daratan, tubuhnya akan terhambat oleh bekuan es itu.

Begitu Ma Wenjun menginjak es, ia langsung menyadari ada yang tidak beres, terutama hawa dingin yang menusuk tulang itu, jelas bukan sesuatu yang biasa. Kini, satu-satunya cara menaklukkan Chu Tian hanya dengan menghadapi secara langsung. Dari jarak ratusan meter, mustahil bisa mengalahkan Chu Tian—aura pedangnya terlalu kuat, ditambah lagi tempat itu bukan lautan sungguhan, sehingga kekuatan naga air pun terbatas. Namun, jika harus bertarung dalam jarak dekat, pendekar pedang memang sangat berbahaya—dalam satu meter, nyawa bisa melayang kapan saja. Terlebih, lapisan es itu justru menjadi wilayah kekuasaan Chu Tian; semua keuntungan berpihak padanya.

Chu Tian semakin cepat mengayunkan pedangnya. Di mata orang lain, yang terlihat hanya bayangan-bayangan yang tak terhitung jumlahnya dan gerak tubuhnya yang lincah, dalam sekejap ia sudah berada di belakang Ma Wenjun.

“Plak!” Pedang tanpa ujung menyambar, meninggalkan seuntai rambut hitam yang terpotong. Berhasil menghindari serangan maut itu, Ma Wenjun tahu bahwa jika ia terlambat sedikit saja, pasti lengannya sudah tertebas. Melihat sosok lawannya yang samar, kecepatan jurus Pedang Cahaya Ilahi kian meningkat, membuat siapapun sulit menghindar. Pupil mata Ma Wenjun menyempit, ia menenangkan hatinya yang terkejut, lalu berkata, “Nyaris saja.”