Gadis Jelek Seperti Bunga Krisan
Padang rumput pedesaan
kata
Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya
Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya
Katalog
Detail Buku
Pengaturan
Kembali ke Atas
Katalog Gadis Jelek Seperti Bunga Krisan
concluído·Total 100 bab
Penanda Buku
Urutan Terbalik
Bab Satu: Keluarga Bunga Krisan Sang Gadis Buruk Rupa
Bab Dua: Gadis Berkulit Kasar, Tak Ada yang Mau Menikahinya
Bab Tiga: Apakah Balas Budi Harus dengan Menyerahkan Diri?
Bab Empat: Yang Terpenting Adalah Mengisi Perut Terlebih Dahulu
Bab Lima: Kerja Keras Memperbaiki Makanan
Bab Keenam: Buah Ek bisa Memberi Makan Babi
Bab 7 Nenek Datang
Bab Delapan: Membujuk Kakak untuk Bersekolah
Bab Sembilan: Perasaan Lili
Bab Sepuluh: Batu Mengucap Syukur
Bab Sebelas: Mengantarkan Makanan ke Balai Leluhur
Bab Dua Belas: Berganti dengan Kura-kura Tua
Bab Tiga Belas: Bunga yang Gugur Berhati, Air yang Mengalir Tak Berniat
Bab Empat Belas: Percakapan Santai Malam Musim Gugur
Bab Lima Belas: Sup Kura-Kura Tua dengan Kerupuk Nasi Panggang
Bab Sembilan Belas: Perasaan Remaja yang Sulit Dimengerti
Bab 18: Mak Comblang Datang ke Rumah
Bab Sembilan Belas: Kepanikan Krisan
Bab Dua Puluh: Nenek Bunga Dipukul
Bab Dua Puluh Satu: Orang-Orang yang Peduli pada Bunga Krisan
Bab Dua Puluh Dua: Cita-cita Batu Kecil
Bab Dua Puluh Tiga: Ayah Bunga Krisan Kakinya Patah
Bab Dua Puluh Empat: Rencana Licik Nyonya Liuer
Bab Dua Puluh Lima: Penghinaan Kedua
Bab Dua Puluh Enam: Perlawanan Liuer
Bab Dua Puluh Tujuh: Pertarungan Nyonya Willow dan Nyonya Krisan
Bab Dua Puluh Delapan: Keperkasaan Krisan
Bab Dua Puluh Sembilan: Lebih Rela Menjadi Wanita Jelek
Bab Tiga Puluh: Bisnis Kecil Bunga Krisan
Bab 31: Nenek dan Paman Datang Menjenguk
Bab Tiga Puluh Dua: Bisnis Dimulai
Bab Tiga Puluh Tiga: Pembukaan yang Sukses
Bab 34: Keluarga Yang Menumpang Kereta ke Pasar
Bab 35 Menjual Sayur di Pasar Dua Li
Bab Tiga Puluh Enam: Menetapkan Sumber Barang
Bab 38: Kerja Keras Membawa Imbalan
Bab Empat Puluh Sembilan: Kasih dan Persahabatan di Tepi Sungai Qing Kecil
Bab Empat Puluh: Meizi yang Polos dan Ceria
Bab Empat Puluh Satu: Kehangatan yang Dibawa oleh Selimut Baru
Bab Empat Puluh Dua: Cahaya Fajar Harapan
Bab 43: Akhir yang Mengecewakan
Bab Empat Puluh Empat: Keindahan yang Semu
Bab Empat Puluh Lima: Jerih Payah di Hari Bersalju
Bab Empat Puluh Enam: Dua Putra Kepala Desa
Bab Empat Puluh Tujuh: Pandangan Kepala Desa
Bab Empat Puluh Delapan: Peluang Bisnis Datang
Bab Empat Puluh Sembilan: Mendapat Keuntungan Besar
Bab Lima Puluh: Rencana Membangun Rumah dan Membeli Tanah
Bab Lima Puluh Satu: Kepergian Qin Feng
Bab Lima Puluh Dua: Keputusan Zhang Huai
Bab Lima Puluh Tiga: Wajah Kenari
Bab Lima Puluh Empat: Batu Giling yang Berputar
Bagian Kelima Puluh Lima: Wajah Buruk, Nasib Tipis
Bab Lima Puluh Tujuh: Membeli Tanah
Bab Lima Puluh Delapan: Kedatangan Kerabat
Bab Lima Puluh Sembilan: Bibi Kedua
Bab Enam Puluh: Kericuhan Akar Ginseng
Bab 61: Tamu Pergi, Tuan Rumah Tenang
Bab Empat Puluh Dua: Dunia di Luar Sana
Bab Enam Puluh Tiga: Sayur Hijau dan Tahu Penjaga Kedamaian
Bab Empat Puluh Empat: Tamu Baru yang Datang
Bab Dua Puluh Lima: Tawa Gadis Desa
Bab 66: Aroma Teh dan Hidangan Pedesaan
Bab 67: Saatnya Melepaskan, Maka Lepaskanlah
Bab Empat Puluh Delapan: Kue Buah
Bab 69: Kenangan Kampung Halaman
Bab Tujuh Puluh: Bulan Hitam Para Babi
Bab Tujuh Puluh Satu: Usaha Ditutup, Sun Liuer Menikah (Bab Gabungan)
Bab Tujuh Puluh Dua: Membuka Kolam Ikan (Bagian Satu)
Bab Tujuh Puluh Tiga: Membuka Kolam Ikan (Bagian Dua)
Bab Tujuh Puluh Empat: Membuka Kolam Ikan (Bagian Tiga)
Bab Tujuh Puluh Lima: Saatnya Membagi Ikan
Bab 76: Mengajar Murid
Bab Tujuh Puluh Tujuh: Pesona Ikan Panggang dengan Sayur Asin
Bab 78: Ikan Lele Hitam dari Kolam Tiaozitang
Bab Sembilan Puluh Sembilan: Kebahagiaan yang Berujung Penyakit
Bab Delapan Puluh: Obrolan Santai di Rumah Petani
Bab Delapan Puluh Satu: Kehidupan Indah dalam Pandangan Petani
Bab Delapan Puluh Dua: Ketulusan Hati Ibu Sengon
Bab 83: Di Tempat Ada Wanita, Tawa Selalu Menggema
Bab Delapan Puluh Empat: Kekuatan Lai Cai
Bab delapan puluh lima: Kehangatan Malam Tahun Baru
Bab Delapan Puluh Enam: Bertamu
Bab Delapan Puluh Tujuh: Mengucapkan Selamat Tahun Baru (Bagian Satu)
Bab Delapan Puluh Delapan: Mengucapkan Selamat Tahun Baru (Bagian Dua)
Bab Delapan Puluh Sembilan: Tetap Saja Bibi Sulung yang Terbaik
Bab 90: Anjing Hitam Kecil yang Sial (Tambahan karena Cinta 98)
Bab Sembilan Puluh Satu: Keributan yang Dipicu oleh Anak Anjing
Bab Sembilan Puluh Dua: Menangani Harta yang Datang
Bab 93: Sebaiknya Kau Tak Usah Datang ke Rumahku Lagi
Bab Sembilan Puluh Empat: Naik ke Gunung
Bab Sembilan Puluh Lima: Menangkap Kelinci (Bab Tambahan)
Bab Kesembilan Puluh Enam: Saatnya Sibuk
Bab Sembilan Puluh Tujuh: Membuka Lahan Baru
Bab Sembilan Puluh Delapan: Memasak Seperti Ini Sangat Melelahkan
Bab Sembilan Puluh Sembilan: Sepupu Perempuan Huazi
Bab Seratus: Mengolah Lahan, Membeli Sapi (Bab Tambahan)
Bab Seratus Satu: Musim Semi Telah Tiba
Bab Seratus Dua: Memetik Rebung Liar
Bab Seratus Tiga: Rebung Lembut dan Renyah
Bab Seratus Empat: Kegiatan Menanam Pohon di Dimensi Waktu yang Berbeda
Bab Seratus Lima: Mei Tzi Digigit Ular
Bab Seratus Enam: Musim Menanam Padi
Bab 107 dan 108 (dua bab sekaligus): Kehidupan Bertani yang Sebenarnya (karena jaringan terputus dan listrik padam, jadi lebih terlambat)
Bab Seratus Sembilan: Menantu Wanita Seperti Ini
Bab Seratus Sepuluh: Liu Sanshun yang Tersentuh oleh Kasih Musim Semi
Bab Seratus Sebelas: Menajamkan Mata Mencari Istri
Bab Seratus Dua Belas: Menggali Kolam untuk Menanam Teratai dan Memelihara Ikan
Bab Seratus Tiga Belas: Rencana Zhang Huai
Bab Seratus Empat Belas: Awal Mula Desa Selatan Jernih
Bab Seratus Lima Belas: Memanen Gandum
Bab Seratus Enam Belas: Kekhawatiran yang Dibawa oleh Hujan Deras
Bab Seratus Tujuh Belas: Air Surut, Ikan Muncul
Bab Seratus Delapan Belas: Anak Pun Menganggap Ibunya Jelek
Bab Seratus Sembilan Belas: Lamaran Pernikahan Datang Lagi
×
Pengaturan Membaca
Tema Membaca
白天
夜间
粉红
淡绿
淡黄
Jenis Huruf Teks
宋体
微软雅黑
黑体
楷体
Ukuran Huruf
A-
16
A+
Lebar Halaman
Sempit
Sedang
Lebar
翻页模式
点击
滚动
×