Bab Sembilan Puluh Sembilan: Menuju Kota Itu
Tiga kereta yang ditarik oleh keledai berjalan di jalan utama, mengeluarkan suara berderit. Jalan itu tidak rata, membuat para pedagang yang duduk di atasnya berkeringat karena terguncang. Di sebuah tempat, jalan utama bercabang menjadi dua. Di pinggir percabangan, sebuah warung teh dengan atap sederhana berdiri. Seorang nenek tua dengan ramah memanggil, "Silakan minum semangkuk sup panas untuk menghangatkan badan."
Pedagang itu menggerutu bahwa cuaca sudah cukup panas, namun ia tetap turun dari kereta, membiarkan dirinya dan keledainya beristirahat sejenak. Yang membuatnya terkejut, warung teh tersebut hampir penuh oleh orang-orang. Dengan susah payah, akhirnya ada yang memberinya tempat duduk. Pedagang yang gemuk itu duduk dengan sempit, membuat bangku panjang berderit. "Jangan duduk sampai bangkunya patah!" teriak pria kurus di bangku yang sama.
Pedagang gemuk itu terengah-engah, "Kenapa orang sebanyak ini?" Nenek membawa sup ke hadapannya, "Beberapa waktu lalu, kamu lewat jalan ini dan sepi." Pedagang gemuk bertanya mengapa bisa jadi ramai, lalu mengeluh, "Dulu juga tidak pernah seramai ini."
"Beberapa waktu lalu, ada perampok gunung di suatu tempat," teriak pria kurus, "Mereka membunuh orang satu kabupaten." Pedagang gemuk tetap tenang, "Ngomong kosong saja." "Tidak bohong," nenek membenarkan, lalu meluruskan bahwa yang dibunuh bukan seluruh warga kabupaten, melainkan bupati dan para tentara.
Orang-orang di sekitar turut bercerita lebih detail, membuat pedagang gemuk semakin berkeringat. "Dunia bisa kacau begini? Untung saja aku tak lewat sini sebelumnya," katanya sambil mengusap keringat dan gelisah, "Apakah sisa perampok berhasil ditangkap?" "Belum," jawab pria kurus dengan senyum, "Hati-hati di jalan, jangan sampai tertangkap." Pedagang gemuk mendengus, mengira mereka berbohong, "Kalian saja tak takut, kenapa aku harus takut?"
Begitu turun dari kereta, ia melihat kereta dan keledai lain di luar warung, semuanya penuh barang dagangan, menunjukkan bahwa para pelanggan bukan orang biasa. "Kau penjual ternak," katanya pada si kurus sambil menutup hidung, "Sebaiknya cepat pergi, jangan sampai mengirimkan barang-barang untuk perampok gunung." Si kurus tertawa, "Bukan, bukan, aku bukan penjual ternak, itu untuk keperluan keluarga sendiri."
Orang lain ikut mendekat dan bertanya, "Kamu juga mau ke Kabupaten Dou, ya? Apa benar ternak di sana mudah dijual?" Si kurus akhirnya mengangguk, "Ya, mau coba-coba."
Mereka berbincang dengan semangat, sementara pedagang gemuk yang tak ada yang menggoda merasa kesepian, semakin merasa ada yang aneh. "Tunggu dulu," ia memotong, "Kalian mau ke mana?" Kabupaten Dou? Bukankah itu tempat yang tadi disebut si kurus, katanya semua orang di sana dibunuh? Perampok gunung pun muncul di sana, kenapa malah membawa barang dagangan ke sana, bukan menghindarinya?
"Kalian semua mau ke Kabupaten Dou?" Si kurus yang tak bisa menyembunyikan niatnya akhirnya mengaku, "Kabupaten Dou sedang memberantas perampok, mereka butuh banyak barang, beras, tepung, minyak, daging, arak, semuanya diperlukan."
Apa hubungannya pemberantasan perampok dengan barang dagangan? Pedagang gemuk belum paham. Nenek pembuat teh juga ikut bicara, "Benar, mereka butuh segalanya, bahkan aku melihat ada yang membawa satu kereta penuh kayu bakar."
Semakin banyak orang ikut berdiskusi, suasana di warung teh jadi hangat dan tegang. Para pedagang berlomba-lomba menuju Kabupaten Dou, takut ketinggalan peluang. Setelah minum teh, mereka buru-buru berangkat lagi, hanya menyisakan pedagang gemuk sendiri. Warung kosong, hatinya pun kosong.
"Bos, apakah kita juga harus coba ke Kabupaten Dou?" tanya asistennya. Mereka memang sedang mencari pasar, bisnis semakin sulit setiap tahun, dan hanya bisa mencoba peruntungan menjelang akhir tahun. Jika benar Kabupaten Dou membutuhkan banyak barang, itu bisa jadi kesempatan.
Pedagang gemuk menatap ke arah jalan besar, mengusap keringat di dahinya. Tak mungkin semua orang ini sedang menjebaknya? Saat itu, sebuah kereta kuda datang, penuh dengan ayam dan bebek. Sambil terdengar suara ayam dan bebek, orang di atas kereta bertanya dengan lantang, "Nenek, ke arah mana menuju Kabupaten Dou?"
Nenek yang sudah terbiasa dengan pertanyaan itu menunjuk ke selatan tanpa menoleh. Orang di kereta pun mengayunkan cambuk, kereta melaju dengan suara ayam dan bebek yang ramai. Pedagang gemuk berdiri sambil menekan meja, "Ayo ke Kabupaten Dou."
Keledai dan kuda berlari, kereta berderit menjauh, keramaian mereda seiring senja. Nenek mulai membereskan warung, lalu datang lagi sekelompok orang lewat. Rombongan itu terdiri dari tua muda, pria wanita, mendorong gerobak satu roda dan membawa keranjang. Wanita lemah duduk di gerobak, anak-anak kecil berbaring di keranjang.
"Nenek, masih ada air?" beberapa pria muda bertanya. Mereka bukan pedagang atau penjual, melainkan membawa keluarga di tengah musim dingin, kebanyakan melarikan diri dari bencana. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak orang yang mengungsi, nenek menghela napas bahwa tahun demi tahun semakin sulit, membuka kembali panci yang hendak ditutup, membiarkan mereka masuk dan minum air, lalu bertanya ada apa dan hendak ke mana.
"Desa sebelah kami diserang perampok gunung," orang-orang itu menghela napas, "Satu desa habis, kami tak berani tinggal di rumah, banyak yang keluar mencari perlindungan kepada saudara." Lagi-lagi ada perampok gunung, sungguh malang, nenek pun menyesal. Melihat keluarga tua dan muda berbagi sepotong roti kering dengan air panas, ia merasa kasihan, lalu terlintas ide, "Kenapa kalian tidak coba ke Kabupaten Dou saja?"
Pemimpin rombongan tampak mengenal Kabupaten Dou, terkejut, "Di sana perampok gunung lebih parah, bahkan kota terkena dampaknya, bagaimana bisa ke sana?" "Kabupaten Dou sedang memberantas perampok, siapa pun yang jadi pasukan rakyat dijamin dapat makan," jelas nenek sambil memandang para lansia dan anak-anak, "Di luar kamp militer juga ada panci bubur, siapa pun bisa makan bubur kapan saja. Jika kalian pergi ke saudara dengan jumlah sebanyak ini, bisa jadi mereka pun kesulitan memberi makan."
Saudara pun tak mampu menampung sebanyak ini, tentu hidup tidak akan mudah. "Kabupaten Dou menyediakan bubur di kamp militer? Kami belum pernah dengar," orang-orang itu saling berpandangan. "Kabupaten Dou dekat dari sini, kita bisa coba lihat, yang muda bisa jadi pasukan rakyat dan dapat makan, yang lain bisa meminta bubur, kalau tidak berhasil baru pergi ke saudara," kata seorang lelaki tua.
Kadang lebih baik menerima bantuan dari orang asing daripada merepotkan saudara. Nenek tersenyum, "Kalau jadi pasukan rakyat dengan baik, bukan hanya orangnya yang makan kenyang, seluruh keluarga pun bisa makan kenyang." Benarkah demikian? Rombongan itu saling pandang, ragu namun tidak punya pilihan lain. Lelaki tua bangkit, "Mari kita pergi ke kamp militer Kabupaten Dou."
Tidur di luar saat musim dingin juga menyiksa, lebih baik segera berangkat, lebih cepat sampai, lebih cepat bisa makan bubur panas. Rombongan itu berjalan tertatih-tatih menuju Kabupaten Dou di bawah sinar matahari senja, nenek menutup panci, menyisakan sedikit api di tungku, kalau ada yang lewat malam bisa memanfaatkan untuk menghangatkan badan, lalu perlahan pulang dengan langkah ringan meski tubuh renta. Musim dingin kali ini akan lebih baik baginya, bisnisnya tumbuh berkat peristiwa perampok gunung di Kabupaten Dou.
Betapa lucunya dunia ini. Juru tulis Kabupaten Dou pun berpikir demikian, ketika ia melihat antrian panjang di luar kamp militer dan panci bubur besar yang didirikan. Ia agak bingung, memanggil para pasukan rakyat untuk memberantas perampok, bagaimana bisa berubah menjadi pembagian bubur.
"Siapa mereka ini?" tanyanya. Zhang Xiaoqian yang menyambutnya dengan penuh semangat memberi penjelasan, "Itu keluarga pasukan rakyat, mereka sukarela membantu memasak bubur. Tentu saja, makanan ditanggung kamp militer, mereka adalah prajurit yang terluka, meski tak bisa bertempur, mereka mampu menjaga ketertiban."
Juru tulis menoleh, "Mereka memang saya kenal, maksud saya, siapa orang-orang yang antre bubur itu?" Zhang Xiaoqian terdiam, baru sadar saat menatap antrian panjang di luar kamp militer, sejak kapan begitu banyak orang di luar sana? Suasana ramai seperti pasar di kota Kabupaten Dou, apakah seluruh warga Kabupaten Dou datang mengambil bubur?