Bab Seratus Sembilan: Hidup dan Mati Hanya Sebuah Lapisan Tipis

Murni Matahari Jing Keshou 3395kata 2026-03-31 18:47:39

Seorang tetua berjubah hitam berdiri tegak di atas gunung, menantang angin. Ia memandang cakrawala yang dipenuhi gumpalan awan, sementara senja yang panjang menyelimuti padang luas, membuat desa-desa dan perbukitan tampak samar dan berkabut.

Di sekeliling tubuh tetua itu, lingkaran cahaya redup terus memancar. Ia menatap pemandangan di hadapannya dengan tatapan dingin, namun batinnya bergejolak.

Di balik lautan tanpa ujung, terdapat sebuah ranah—atau mungkin bisa disebut sebagai segel—yang tak mampu ia tembus. Ia telah mengerahkan segala daya untuk mengarungi samudra itu dengan kano kecil demi melaksanakan titah sang Dewa: menyebarkan ajaran di tanah para dewa palsu ini.

Jika ia berhasil mengumpulkan banyak pengikut, ia bisa memanggil entitas ilahi untuk meruntuhkan penghalang tersebut. Begitu kekuatan surgawi turun, betapapun kuatnya para praktisi luar, mana mungkin mereka mampu menandingi kecepatan seorang pendeta?

Asalkan pengikutnya memiliki kesetiaan dan kualifikasi dasar, bahkan orang awam pun bisa memiliki kekuatan besar. Saat itu tiba, para dewa palsu dan para praktisi luar itu akan musnah tak berbekas, dan Tuhannya akan menguasai dunia ini.

Namun, setiap kali ia mulai membina pengikut, mereka selalu dibasmi. Keenam bonekanya tewas atau ditangkap, sehingga jalur keyakinan itu terputus. Belum lagi adanya aturan "Tiga Larangan Sekte Sesat" yang membuat penyelidikan semakin kejam. Bahkan pasukan surgawi dewa-dewa palsu itu terus berpatroli, membuat setiap langkahnya terasa berat.

Semua ini disebabkan oleh para praktisi luar yang menyebut diri mereka "Taois". Salah satu dari mereka bahkan berhasil membunuh sepuluh ksatria kematian miliknya dan menghabisi banyak pengikutnya.

Memikirkan hal itu, kemarahan membuncah di wajahnya. Ia mengeluarkan secarik kain—peninggalan dari Taois tersebut—lalu mengibaskan tangannya. Sebuah gerbang kegelapan terbuka. Dengan sorot mata penuh kebencian, ia melemparkan potongan kain itu ke dalamnya.

Samar-samar, cahaya merah melintas dan aura hantu menyeruak keluar. Sebuah cakar hantu menyambar kain tersebut seolah menemukan mangsa lezat, lalu ia menjerit ke kejauhan dengan tatapan buas.

Melihat itu, sang tetua menyeringai kejam. "Hmph, meski ini adalah alam baka milik sekte asing, jalan kematian Tuhanku begitu mendalam. Penghalang sekuat apa pun tak akan mampu mengubah kekuatan asal. Kau membunuh murid-muridku, mana mungkin aku memaafkanmu? Biarkan mereka melacak jejakmu!"

Para hantu itu sendiri adalah roh jahat dari dunia bawah, makhluk yang hakikatnya adalah kematian. Terlepas dari perbedaan kualitas atau dunia asal, menggunakan kekuatan dewa kematian untuk mengendalikan mereka adalah hal yang mudah.

"Hmph, kalian para praktisi luar sama saja dengan para penyihir, sama-sama harus menjalani ritual ujian. Lihat bagaimana aku akan mengubur kalian semua!" pikir sang tetua dengan tawa sinis.

***

Di Aula Utama Sekte Lianyun, sebuah cermin air beriak, memantulkan formasi sihir di koordinat tertentu. Perlahan, sebuah gunung gaib mulai tumbuh, aura dingin terus memadat dan menyusup ke dalamnya.

Di dalam gunung itu, perubahan drastis terjadi. Energi dari Sembilan Alam Baka berubah menjadi substansi nyata, mengandung kekuatan yang mampu membuat jiwa terperosok selamanya. Roh-roh gentayangan di sekitarnya, yang penuh dengan kebencian dan penderitaan, seketika tersedot masuk. Mereka berguling di tanah dan berubah menjadi prajurit hantu berbaju zirah kulit. Namun, penampilan prajurit-prajurit ini tampak sedikit berbeda dari prajurit di daratan Tengah.

Tak lama kemudian, berbagai kepala hantu tertarik ke sana. Seekor kepala hantu raksasa yang merasakan aura tersebut berputar-putar di sekeliling dengan mata memancarkan api merah darah. Ia merasa takut sekaligus penuh harap. Saat itu juga, aliran energi hitam lain tersedot masuk, membawa sekelompok roh yang segera berubah menjadi prajurit hantu. Kepala hantu itu tak mampu menahan diri lagi, ia menerjang masuk, berguling di tanah, dan tiba-tiba berubah menjadi seorang ksatria.

Ksatria itu mengenakan zirah hitam legam, diselimuti aura kematian. Tubuhnya tersembunyi di balik zirah, dan di bawah helmnya hanya terlihat sepasang mata yang menyala dengan api merah, dingin tanpa emosi. Kuda perangnya bahkan tidak mengeluarkan suara ringkikan sedikit pun.

Melihat itu, sang Kepala Aula mengalihkan pandangannya dan berkata, "Gua Gunung Gaib telah selesai. Kini tinggal menunggu waktu. Dalam tiga hari, akan ada tiga ribu prajurit hantu dan seratus jenderal hantu, semuanya adalah pengikut dewa sesat."

"Tiga hari lagi, perintahkan murid-murid ujian untuk menerima Jimat Tao dan memasuki ujian... Apakah Jimat Roh Gaib sudah selesai dibuat?" tanya sang Kepala Aula.

"Sudah selesai," jawab seorang praktisi tingkat tinggi.

"Sangat baik." Sang Kepala Aula memejamkan mata, dan aula itu pun kembali sunyi senyap.

***

Di Paviliun Kitab Suci, Wang Cunye memejamkan mata dan merenung. Di dalam cangkang cahaya itu, bintang-bintang bersinar, mengalir dan berputar. Untuk sesaat, ia merasa dirinya adalah pusat alam semesta; setiap napasnya adalah denyut kelahiran dan kematian, disertai dengan resonansi Tao yang luar biasa.

Meskipun ia telah memahami pencerahan dan menyematkan tulisan suci ke dalamnya, masih ada celah yang tersisa. Semuanya belum menyatu secara sempurna. Wang Cunye memahami dengan jelas syarat untuk memadatkan "Benih Sejati".

Pertama, hati yang mantap untuk melampaui hidup dan mati. Setiap orang sebenarnya memiliki ini, tetapi mempertahankan kemantapannya sangatlah sulit.

Kedua, ketika seseorang benar-benar memahami makna mendalam dari sebuah kitab suci, ia baru bisa memadatkan satu tulisan suci. Untuk memadatkan Benih Tao, ia harus menguasai setidaknya tiga puluh jilid kitab. Berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk itu?

Saat ini, melalui cangkang kura-kura, ia secara otomatis memadatkan tulisan suci dalam sekejap dan menggunakannya untuk memahami esensi ajaran. Dengan kata lain, Wang Cunye kini berada di tingkat mahaguru yang menguasai berbagai aliran Tao.

Terakhir, adalah membuka Kolam Roh untuk mengubah energi menjadi kekuatan sihir agar bisa memberi nutrisi dan asupan.

Beberapa mahaguru di Bumi yang memiliki keyakinan teguh dan telah membaca ribuan kitab sebenarnya sudah memenuhi dua syarat pertama. Namun, tanpa kekuatan sihir, mereka tetap harus menghadapi "ujian kematian" setelah wafat agar bisa memadatkan jiwa.

Untuk memadatkan jiwa sejati saat masih hidup, ketiga syarat dasar itu mutlak diperlukan. Namun, itu saja belum cukup. Tantangan terakhir adalah bagaimana menyatukan ketiganya dengan sempurna tanpa celah sedikit pun untuk membentuk Benih Sejati yang bulat dan bercahaya.

Wang Cunye tersentak. Ia tahu ia baru saja menyentuh penghalang antara hidup dan mati. Hanya dengan menembus lapisan makna ini, Benih Tao bisa menjadi bulat sempurna seperti pil—pada kenyataannya, Pil Emas dalam alkimia batin di Bumi adalah benda ini.

Hanya ketika pil membentuk selaput yang sempurna, tanpa celah, dan mampu bernapas untuk menyerap kekuatan sihir luar, barulah kehidupan bisa terpelihara. Kehidupan itulah yang disebut Jiwa Sejati. Ini adalah titik awal dari segala ajaran kehidupan.

Wang Cunye sadar, jika ia tidak menyelesaikan masalah ini, betapapun besar kekuatannya meningkat, ia tidak akan pernah bisa mencapai tingkat Dewa Hantu. Lapisan selaput ini adalah rahasia yang tidak diwariskan dari sekte Tao, tantangan terbesar yang membuat ribuan orang terhenti.

Tiba-tiba, Wang Cunye teringat sosok "Bei Huaijin" yang pernah ia temui. Seorang mahaguru yang dipuja ratusan ribu pengikut, dengan wawasan dan kekuatan yang melimpah, namun pada akhirnya tetap mati menjadi cahaya kuning. Ia gagal membentuk embrio, tidak bisa mencapai keabadian, dan harus melalui "kematian" sebelum bisa didewakan. Secara harfiah, ia tetaplah manusia biasa.

Kecemasan melanda hati Wang Cunye, namun bersamaan dengan itu muncul sebuah pemahaman. Ia tahu saat ini ia tidak mungkin menerobos batasan tersebut. Hanya ada dua cara: pertama, menunggu waktu yang panjang dengan bantuan cangkang kura-kura untuk menemukan rahasia "pembentukan selaput benih sejati". Kedua, merebut Benih Tao milik orang lain.

Benih Tao yang dianugerahkan sekte tidak ada gunanya baginya, tetapi benda itu memiliki "selaput pil" yang utuh. Jika ia berhasil merebutnya, ia bisa memecahkan kebuntuan dalam waktu singkat dan segera membentuk Benih Sejati.

Wang Cunye perlahan keluar dari meditasi. Tubuhnya terasa ringan dan pikirannya jernih. Langkah setengah menuju Benih Sejati berarti ia telah menguasai esensi dari berbagai aliran dan menemukan jalannya sendiri. Benih itu kini tampak seperti makhluk hidup, menyerap energi spiritual dalam jumlah besar ke dalam tubuhnya. Energi itu berubah menjadi kekuatan sihir, mengalir melalui tubuhnya seperti kabut, lalu menetes ke dalam "Kolam Roh".

Kini, efisiensi pernapasan dan penyerapannya meningkat dua kali lipat. Satu-satunya masalah adalah selaput benih belum terbentuk, sehingga pusat kesadarannya belum bisa memadatkan Jiwa Sejati.

Wajah Wang Cunye tidak menunjukkan kegembiraan. "Bahkan jika efisiensi kultivasi meningkat, bagi seorang Manusia Dewa, ada batas maksimal. Jika tidak bisa memadatkan Benih Sejati, Kolam Roh hanya bisa dibuka selebar lima kaki. Meski itu membuatku lebih kuat dari Manusia Dewa lainnya, aku tetaplah seorang Manusia Dewa."

Sejak ia membunyikan Genta Langit, langkah ini adalah jalan satu arah. Jika ia tidak bisa memadatkan Benih Sejati dalam waktu singkat, ia khawatir akan segera dijatuhkan ke dalam Kolam Darah. Bahkan untuk kembali menjadi pejabat kecil atau pengelola kuil pun tidak akan mungkin.

Setelah merenung cukup lama, Wang Cunye akhirnya menenangkan diri. Sebuah senyum dingin tersungging di bibirnya. "Di dalam Istana Tao, semua orang adalah musuh. Waktu tiga atau lima tahun untuk menunggu selaput benih terbentuk bukanlah kemewahan yang kumiliki. Sepertinya, aku harus bertaruh nyawa untuk merebut Benih Tao agar bisa melampaui batasan ini."

Saat ia sedang berpikir, pintu Paviliun Kitab Suci terbuka. Seorang Tao tua melangkah masuk. Hampir seketika, cangkang kura-kura di bawah kendali Wang Cunye menutupi Benih Sejati dengan cahaya hitam, menyembunyikan kilauan cahaya yang tadi terpancar.

"Wang Cunye, hari ini adalah jadwal ujian. Pergilah ke Aula Utama, kau tidak dibutuhkan lagi di sini." Tao tua itu adalah tetua yang membawanya masuk tadi. Ia pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun, seolah enggan melihatnya.

Wang Cunye tidak peduli. Ia melangkah keluar menuju Aula Utama. Di tengah jalan, banyak murid yang sedang mempersiapkan diri untuk ujian masuk sekte dalam. Awalnya mereka bercanda dan berdiskusi, namun saat melihat Wang Cunye lewat, mereka seketika terdiam dan menjaga jarak.

Meski sudah bersiap, hati Wang Cunye tetap terasa berat. Ia menatap jalanan yang sepi dan melangkah sendirian menaiki tangga batu yang bersih tanpa debu.

Saat melewati sebuah telaga, Wang Cunye tiba-tiba merasakan kecemasan yang tak beralasan menyelimuti hatinya. Perasaan itu begitu kuat hingga membuatnya merasa sesak. Ia tahu firasat ini bukanlah pertanda baik. Mungkin malapetaka telah tiba, atau ada seseorang yang merencanakan sesuatu di balik punggungnya. Sayangnya, ia sudah berada di tengah jalan dan tidak punya kesempatan untuk menghitung nasibnya sendiri.