Bab Sembilan Puluh Lima: Pesta Minum di Pavilun Kemakmuran
Jamuan segera disiapkan di atas meja batu di Paviliun Kaya, gelas, cawan, dan piring pun telah tersusun rapi. Fan Zhongyan mempersilakan Zhong Hao untuk duduk bersama, namun Zhong Hao menolak dengan sopan. "Bisa menuang minuman dan melayani dua tuan saja sudah merupakan keberuntungan besar bagi saya, bagaimana mungkin saya berani duduk sejajar dengan dua tuan?"
Fan Zhongyan tersenyum, "Kalau aku bilang duduk, kau duduk saja. Aku paling tidak suka aturan yang terlalu rumit. Lagi pula, mana mungkin sang tuan rumah berdiri sementara para tamunya duduk santai?"
Tak mampu menolak lagi, Zhong Hao pun akhirnya duduk di tengah-tengah mereka. Ia mengambil teko perak, menuangkan minuman ke dalam gelas Fan Zhongyan dan Fu Bi hingga penuh.
Fu Bi mengangkat gelas indah itu, berseru pada Fan Zhongyan, "Hari ini aku persembahkan anggur sederhana ini untuk menyambut kedatangan Kakanda Xiwen, semoga Kakanda selalu bahagia dan sukses dalam memimpin Qingzhou!"
"Haha, kalau aku hanya bisa melanggar kebiasaan sekali, maka aku juga akan memanfaatkan anggur ini untuk mengantar kepergianmu, Yankuo. Semoga engkau bisa mengembangkan bakat di Hedong! Ayo, mari bersulang!" Fan Zhongyan mengangkat gelasnya dan langsung meneguk habis.
Zhong Hao pun ikut mengangkat gelas dan minum bersama mereka.
"Anggur yang bagus! Bening seperti embun mutiara, rasanya segar dan tajam, bahkan lebih nikmat daripada 'Bunga Pir Putih' di kedai Sun Yang! Layak sekali disebut 'Cairan Giok Murni'." Setelah meneguk, Fan Zhongyan tak henti memuji.
Fu Bi tersenyum, "Anggur ini buatan Wenxuan. Masih ada 'Cairan Giok Bakar' dan 'Dua Kepala', kedua jenis itu juga bening, tapi kadar alkoholnya jauh lebih tinggi dan sangat kuat. Kata Wenxuan, anggur itu bagus untuk membersihkan luka agar tak mudah infeksi. Kali ini ke Hedong, aku berniat membawanya, siapa tahu berguna!" Fu Bi kini cukup mempercayai ucapan Zhong Hao, apalagi soal hasil panen kentang; ia akan membuktikannya nanti.
Fan Zhongyan menatap Zhong Hao, "Soal bencana di dua Zhe baru-baru ini, aku benar-benar harus berterima kasih padamu, Wenxuan. Kalau bukan karena tiga saranmu, belum tentu aku bisa menangani bencana besar ini dengan baik. Bukan hanya sastramu yang tiada banding, kecerdasanmu pun luar biasa, masa depanmu tak terbatas!"
Zhong Hao buru-buru merendah, "Tuan Fan sungguh terlalu memuji, saya mana pantas menerima pujian setinggi itu!" Namun dalam hati, Zhong Hao merasa cukup bangga. Barangkali tak banyak pemuda yang bisa dipuji sebegitu hebatnya oleh pejabat seperti Fan, bukan?
Fan Zhongyan yang bertemu sahabat lama, suasana hatinya sangat gembira, ia menenggak beberapa gelas berturut-turut hingga wajahnya yang semula pucat menjadi sedikit memerah. Sambil mengangkat gelas, ia bersenandung lantang:
"Membelah keindahan di antara zamrud gunung,
Kereta dan musik masih belum pulang di senja hari.
Bakat Yankuo setara Xie Anshi,
Kelak di sinilah gunung timur baginya."
Mendengar dirinya dibandingkan dengan Xie An, Fu Bi buru-buru berkata, "Kakanda Xiwen terlalu meninggikan aku, mana mungkin aku berani disamakan dengan Tuan Xie!"
Fan Zhongyan tertawa, "Haha, Yankuo tak usah merendah, keahlianmu tak kalah dengan Tuan Xie!"
Fu Bi memang ahli dalam urusan pemerintahan dan sastranya pun tak buruk, namun tidak seluwes Fan Zhongyan dalam mengarang puisi. Ia ingin membalas puisi Fan Zhongyan sekaligus memujinya, namun tak segera terlintas di benaknya. Ia jadi teringat bahwa Zhong Hao dikenal sangat piawai dalam berpuisi. Maka ia berkata pada Zhong Hao, "Hari ini cuaca indah, bisa bertemu teladan seperti Tuan Fan, Wenxuan, bukankah kau ada puisi yang bisa kau persembahkan?" Ini isyarat agar Zhong Hao membuat puisi untuk memuji Fan Zhongyan, dan Fu Bi yakin Zhong Hao pasti paham maksudnya.
Mendengar permintaan itu, Zhong Hao berkata, "Sejak lama saya sangat mengagumi Tuan Fan. Hari ini bisa bertemu langsung, sungguh memuaskan hati. Maka izinkan saya mempersembahkan sebuah puisi sederhana." Memang, Zhong Hao benar-benar memiliki puisi yang memuji Fan Zhongyan, karena ia sangat mengagumi kepribadian dan kemampuannya.
Zhong Hao pun membacakan dengan lantang:
"Mendahulukan rakyat, peduli pada penderitaan bangsa,
Setia pada negara, unggul dalam sastra dan bela diri.
Pikiran penuh keprihatinan di masa-masa sulit,
Tulus dan tanpa pamrih, membuat semua orang kagum."
Fu Bi tak kuasa menahan diri, bertepuk tangan, "Bagus! Meski puisinya sederhana, inilah gambaran hidup Kakanda Xiwen, sangat pas, sungguh luar biasa!"
Fan Zhongyan sambil tersenyum mencela, "Jangan sebarluaskan puisi ini, pujian yang begitu telanjang, kalau aku menerimanya tanpa malu, bisa-bisa dijadikan bahan tertawaan!"
Zhong Hao dengan tenang membalas, "Ini hanya ungkapan tulus seorang murid kecil kepada Tuan Fan, memang Tuan Fan pantas menerimanya!"
...
Setelah beberapa ronde lagi, Fan Zhongyan bertanya pada Fu Bi, "Kapan kau akan berangkat, Yankuo?"
Fu Bi menjawab, "Dalam beberapa hari ke depan, setelah menyelesaikan urusan kantor dengan Kakanda Xiwen, aku akan segera berangkat!"
Di Dinasti Song, bukan hanya jenderal yang diawasi ketat, pejabat sipil pun tidak sepenuhnya dipercaya. Biasanya, masa jabatan kepala daerah tiga tahun, tapi jarang ada yang bisa bertahan selama itu di satu tempat, biasanya satu-dua tahun sudah dipindah. Pergantian begitu sering, tiada tandingannya sepanjang sejarah.
Fu Bi telah bertugas di Qingzhou sejak tahun ke-7 Qingli, sekarang sudah lebih dari tiga tahun, termasuk langka bisa menyelesaikan satu masa jabatan penuh. Di Qingzhou, Fu Bi banyak memberi bantuan pada korban bencana, prestasinya luar biasa, hingga kaisar ingin memanggilnya kembali ke istana. Namun Fu Bi merasa, saat ini golongan konservatif menguasai pemerintahan, kembali ke istana pun sulit berbuat banyak, lebih baik mengabdi di daerah dan melakukan hal nyata. Maka ia meminta dipindahkan ke barat laut, terutama setelah tahu dari Zhong Hao tentang kentang dan ubi jalar yang berpotensi hasil tinggi, ia merasa ke barat laut sangat menjanjikan.
Namun akhirnya, istana menilai Fu Bi kurang mengenal Xixia, tapi karena beberapa kali menjadi utusan ke Qidan, ia lebih paham Qidan, maka ia diangkat sebagai Penasehat Istana, Kepala Kantor Selatan, dan ditugaskan memimpin Bingzhou sekaligus menjadi Kepala Urusan Ketentraman dan Keamanan Hedong.
Fu Bi cukup puas dengan jabatan ini. Meski sebagian besar wilayah Hedong berbatasan dengan Qidan, namun di barat laut Hedong, tiga prefektur Feng, Lin, dan San juga berbatasan dengan Xixia dan berdekatan dengan daerah Hengshan, sehingga strategi damai terhadap Xixia yang diajukan Zhong Hao bisa diterapkan di sana. Tekanan dari Qidan terhadap Song lebih banyak ditanggung wilayah Hebei, sementara Hedong secara geografis mudah dipertahankan, sulit diserang, apalagi ada celah berbahaya di Gerbang Angsa Liar, sehingga tekanannya relatif kecil, cocok untuk fokus pada strategi penguatan di barat laut.
Fan Zhongyan pernah lama bertugas di Shaanxi, bahkan pernah menjadi kepala urusan militer dan sipil tertinggi di barat laut, sangat paham persoalan wilayah itu. Ia pun memberikan banyak nasihat pada Fu Bi, menyempurnakan strategi sederhana Zhong Hao menjadi lebih matang dan rinci.
"Yang Wenguang, kepala daerah Linzhou, dan Zhe Jimin, kepala daerah Fuzhou, keduanya jenderal yang cakap. Saat aku bertugas di barat laut, aku sangat menghargai mereka. Dalam pelaksanaan strategi di Hedong, kau pasti butuh kerja sama mereka, terutama untuk urusan pertempuran, mereka sangat bisa diandalkan. Nanti saat kau berangkat, aku akan menulis surat pada mereka agar membantumu sepenuh hati. Keluarga Yang dan Zhe sudah turun-temurun tinggal di Linfu, sangat mengenal wilayah itu, bahkan itu tanah leluhur mereka. Jika strategi ini menguntungkan mereka, pasti mereka pun mendukung!"
Fan Zhongyan menambahkan, "Aku juga sudah menulis sebuah buku kecil berisi strategi menghadapi Xixia, latihan tentara, dan pembangunan benteng, nanti akan kukirimkan padamu. Semoga bisa membantumu!"
Fu Bi menunduk, "Saya akan menerima semua petunjuk Kakanda dengan sepenuh hati!"
"Aku berharap kau di Hedong bisa seperti Xie Anshi, mengalahkan bangsa asing, haha, semoga suatu hari kita bisa benar-benar menaklukkan Celah Helan!" (Bersambung.)