Bab 114 Pengembangan Senjata Api
Karena hasil ledakannya masih belum memuaskan, Zhong Hao pun membawa beberapa pengrajin untuk melakukan perbaikan.
Saat menggiling kalium nitrat, belerang, dan arang kayu menjadi bubuk, mereka menghaluskannya dengan lebih saksama. Ketika menimbang ketiga bahan tersebut, mereka menggunakan timbangan yang lebih akurat dan berhati-hati. Wadah besi ditutup lebih rapat, sedangkan bubuk mesiu yang telah dimasukkan dipadatkan sekuat mungkin. Pokoknya, setiap bagian yang menurut Zhong Hao dan para pengrajin masih dapat diperbaiki, semuanya mereka perbaiki semaksimal mungkin demi memperoleh hasil yang lebih sempurna.
Namun, setelah beberapa kali percobaan berikutnya, hasilnya tetap belum memuaskan.
Zhong Hao mulai meragukan ingatannya sendiri. Mungkinkah ia mengingatnya dengan keliru? Akan tetapi, setelah dipikirkan baik-baik, seharusnya tidak mungkin salah.
Perbandingan berat kalium nitrat, belerang, dan arang kayu sebesar lima belas banding dua banding tiga sebenarnya berarti, dalam seratus jin mesiu, terdapat tujuh puluh lima jin bubuk kalium nitrat, sepuluh jin belerang, dan lima belas jin arang kayu. Itu merupakan perbandingan yang cukup mudah dihitung. Zhong Hao merasa dirinya mustahil salah mengingatnya.
Setelah memikirkannya lagi dengan teliti, tiba-tiba Zhong Hao teringat akan sesuatu. Kalium nitrat yang digunakan dalam mesiu hitam pada zaman setelahnya sebenarnya merujuk pada kristal kalium nitrat. Sementara itu, kalium nitrat yang tersedia pada zaman ini umumnya masih berupa nitrat tanah. Jadi, angka lima belas dalam perbandingan lima belas banding dua banding tiga itu seharusnya merupakan berat kristal kalium nitrat, bukan berat nitrat tanah.
Zhong Hao tahu bahwa nitrat tanah pada zaman setelahnya sebenarnya terdiri atas natrium nitrat dan kalsium nitrat. Cara memperoleh kristal kalium nitrat dari nitrat tanah sebenarnya sangat sederhana. Nitrat tanah dicampur dengan abu tumbuhan, dilarutkan dalam air, lalu terus dipanaskan dan diaduk hingga larut jenuh. Setelah disaring dan didinginkan, kristal yang mengendap adalah kalium nitrat. Hanya saja, metode ini masih belum dikenal di zaman Dinasti Song Agung.
Saat itu juga, Zhong Hao segera mencari tempat tersembunyi. Ia turun tangan sendiri untuk mengekstrak kalium nitrat dari nitrat tanah.
Setelah berhasil memperoleh kristal kalium nitrat, ia kembali membuat sejumlah mesiu hitam dengan perbandingan berat kalium nitrat, belerang, dan arang kayu sebesar lima belas banding dua banding tiga. Zhong Hao mengambil sedikit untuk diuji sekali lagi.
Kali ini, hasil ledakannya jauh lebih baik daripada sebelumnya. Kaleng besi kecil yang berisi mesiu hancur dan terpental ke segala arah. Zhong Hao sangat gembira. Tampaknya, perbandingan ini memang tidak bermasalah.
Setelah percobaan itu, Zhong Hao melakukan satu percobaan lagi. Kali ini, jumlah mesiu yang digunakan jauh lebih banyak. Demi keselamatan, ia sengaja meminta para pengrajin membuat sumbu serat api yang sangat panjang. Setelah menyalakan sumbu, Zhong Hao langsung berlari sekuat tenaga dan berlindung di balik perlindungan yang telah disiapkan sebelumnya.
Suara ledakannya sangat keras. Gelombang kejutnya pun luar biasa kuat. Bahkan dari balik perlindungan, Zhong Hao masih dapat merasakan udara di sekelilingnya bergetar.
Namun, ia tidak memasukkan paku besi, duri besi, atau benda-benda tajam lainnya ke dalam kaleng besi itu. Jadi, yang berhamburan akibat ledakan hanyalah serpihan lembaran besi dari kaleng tersebut. Zhong Hao merasa bahwa mesiu dengan perbandingan ini memiliki daya ledak yang cukup baik.
Zhong Hao terlalu berfokus pada percobaan mesiu hingga melupakan satu hal yang sangat penting: kuda sangat peka terhadap suara dan paling takut pada bunyi keras. Kuda-kuda perang di Perkampungan Jingqiang memang telah menjalani latihan tertentu dan cukup terbiasa dengan suara pertempuran, dentang lonceng, tabuhan genderang, serta suara-suara lain di medan perang. Namun, mereka sama sekali belum pernah dilatih menghadapi suara ledakan besar.
Suara percobaan ledakan mesiu kali ini terlalu dahsyat hingga seluruh kuda perang di Perkampungan Jingqiang menjadi panik. Untungnya, Yang Huaiyu dan beberapa pelatih dari keluarga Yang segera bertindak dan berhasil mengendalikan keadaan, sehingga bencana kuda-kuda yang mengamuk dan menginjak-injak perkemahan dapat dihindari.
Yang Huaiyu selalu menganggap Zhong Hao sebagai kakaknya dan selama ini cukup menghormatinya. Namun, kali ini ia datang dengan amarah yang meluap-luap, seolah-olah hendak memakan Zhong Hao hidup-hidup. Begitu membuka mulut, ia langsung memarahi Zhong Hao dengan suara keras.
Zhong Hao tahu dirinya memang bersalah. Ia hanya dapat membiarkan Yang Huaiyu memarahinya sambil berulang kali berjanji bahwa kelak, jika melakukan percobaan ledakan mesiu dalam jumlah besar, ia sama sekali tidak akan melakukannya lagi di sekitar Perkampungan Jingqiang agar tidak membuat kuda-kuda ketakutan.
Sikap Zhong Hao yang baik akhirnya membuahkan hasil. Melihat Zhong Hao benar-benar bersikap demikian, amarah Yang Huaiyu segera mereda. Ia kembali menjadi pemuda bangsawan yang suka bercanda dan berwajah kurang ajar, lalu tertawa sambil berkata, “Kakak sedang meneliti mesiu, ya?”
“Benar.”
Yang Huaiyu tiba-tiba mendekatkan kepalanya. Dengan senyum menjilat, ia berkata, “Mesiu yang Kakak buat ini daya ledaknya tidak kecil. Bisakah Kakak memberikan sedikit kepada Pasukan Penjaga Barat Kota Linzhou?”
Kini Yang Huaiyu sangat mengagumi Kakak Zhong-nya. Minuman keras suling, kentang, dan berbagai benda lainnya tidak diketahui berasal dari mana, tetapi semuanya benar-benar barang bagus. Ledakan mesiu ini juga begitu dahsyat, jadi sudah pasti merupakan barang bagus. Mengenai kentang, Yang Huaiyu telah lama memintanya kepada Zhong Hao. Zhong Hao juga telah berjanji akan memberikan sebagian bibit kepada Linzhou setelah panen tahun depan. Karena menganggap mesiu sebagai barang berharga, Yang Huaiyu pun tidak tahan untuk memintanya.
Zhong Hao merasa resep mesiu yang dibuatnya tidak boleh diberitahukan kepada orang lain dengan mudah. Bagaimanapun, mesiu merupakan komoditas langka dan berharga. Namun, memberikan sebagian mesiunya sendiri masih dapat dilakukan.
Hubungan keluarga Yang dengannya saat ini cukup baik. Yang Huaiyu juga sangat bersungguh-sungguh melatih pasukan berkuda Perkampungan Jingqiang, sementara rombongan dagang keluarga Yang menunjukkan ketulusan besar dalam bekerja sama dengannya. Mereka telah memberinya hadiah, jadi tentu saja Zhong Hao harus membalasnya. Jika menolak sama sekali, itu sungguh tidak pantas.
Meskipun seluruh mesiu itu dibuat sendiri oleh para pengrajin tua, mereka tentu mengetahui perbandingan bahan-bahannya. Namun, Zhong Hao merasa para pengrajin tua itu semuanya adalah prajurit lama dari Pasukan Pingxi. Mereka terdaftar sebagai anggota militer, memiliki keluarga, dan seharusnya tidak akan sembarangan membocorkan resep. Bagaimanapun juga, seorang panglima memiliki banyak cara untuk menangani prajurit bawahannya.
Zhong Hao memang belum menjadi panglima Pasukan Pingxi, tetapi saat ini kewibawaan dan pengaruhnya terhadap pasukan itu bahkan lebih besar daripada para panglima mereka sebelumnya. Tanpa Zhong Hao, mereka mungkin masih terlunta-lunta di Hedong, menumpang hidup jauh dari kampung halaman.
Tentu saja, sekalipun salah seorang pengrajin tua membocorkan resep mesiu baru buatan Zhong Hao, ia tidak takut. Demi menjaga kerahasiaan, Zhong Hao tidak memberitahukan cara memurnikan kalium nitrat dari nitrat tanah kepada mereka. Ia menguasai sendiri metode tersebut dan mengekstraknya dengan tangannya sendiri.
Zhong Hao tersenyum kepada Yang Huaiyu dan berkata, “Mesiu ini belum banyak berguna bagi kalian sekarang. Paling-paling, kalian hanya bisa menggunakannya untuk membakar sesuatu. Setelah aku berhasil menemukan cara memanfaatkan daya ledaknya yang besar untuk membuat senjata api yang sesuai, tentu saja bagian Pasukan Penjaga Barat tidak akan terlewatkan.”
Yang Huaiyu memberi hormat dengan merangkapkan tangan. Wajahnya tampak sangat bersemangat ketika berkata, “Kalau begitu, adikmu ini berterima kasih lebih dahulu kepada Kakak Zhong. Aku sudah tahu bahwa Kakak Zhong selalu murah hati dalam bertindak!”
Alasan Zhong Hao mengatakan bahwa mesiu itu belum banyak berguna bagi Pasukan Penjaga Barat adalah karena senjata mesiu pada masa Dinasti Song Agung terutama digunakan untuk membuat senjata pembakar, gas beracun, tabir asap, dan beberapa senjata taktis sederhana lainnya. Mereka belum dapat membuat senjata yang mengandalkan daya ledak untuk membunuh musuh.
Zeng Gongliang, pejabat wilayah Kaifeng pada masa Dinasti Song Agung, pernah menyusun sebuah kitab berjudul Ikhtisar Pokok-Pokok Seni Perang pada masa pemerintahan Qingli. Di dalamnya, ia menjelaskan secara terperinci proses pembuatan dan cara penggunaan lebih dari sepuluh jenis senjata, seperti panah api, meriam api, panah bersumbu api, bola penyulut api, bola api berduri, burung api bermulut besi, burung api bambu, bola api petir, bola asap, serta bola asap beracun.
Setiap senjata memiliki cara pembuatan yang berbeda, begitu pula kegunaan dan tujuan taktisnya.
Pada masa ini, senjata mesiu terutama digunakan untuk menciptakan tabir asap, gas beracun, api, efek pemedih mata, bersin, pingsan, dan berbagai efek taktis lainnya.
Dinasti Song Agung memiliki belasan jenis senjata mesiu untuk beragam tujuan, tetapi tidak satu pun yang mengandalkan daya ledak mesiu untuk membunuh musuh.
Sebenarnya, Zhong Hao juga tahu bahwa bukan Dinasti Song Agung tidak ingin mengembangkan senjata yang dapat membunuh dengan ledakan. Hanya saja, keterbatasan mutu mesiu pada zaman ini membuat mereka sulit menghasilkan senjata yang mengandalkan daya ledak untuk membunuh musuh.
Daya rusak senjata api terutama bergantung pada ketepatan dan kesesuaian ilmiah resep mesiu serta seberapa besar kinerja mesiu dapat dimanfaatkan. Setelah itu barulah mekanisme peluncuran dan pemicunya menjadi faktor penting.
Pada masa Dinasti Song, mesiu memang telah mengalami perkembangan yang cukup besar. Namun, takarannya masih belum memiliki perbandingan yang benar-benar baku. Bahan-bahannya beraneka ragam dan tingkat kemurniannya belum memadai, sehingga kinerja mesiu belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya. Karena itulah, senjata mesiu pada masa ini hanya digunakan untuk membuat senjata pembakar atau melepaskan gas beracun dan tabir asap. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang mengherankan.
Zhong Hao pernah meminta seseorang membeli kitab Ikhtisar Pokok-Pokok Seni Perang, lalu membacanya dengan teliti. Kitab itu menguraikan secara terperinci kinerja, pembuatan, dan penggunaan berbagai jenis senjata. Mesiu pun dicatat dengan cukup lengkap. Perbandingan bahan mesiu pada masa ini masih sangat rumit. Misalnya, mesiu untuk meriam api dibuat dari empat belas macam bahan, sedangkan mesiu bola berduri menggunakan sepuluh macam bahan. Bukan hanya jenis bahan yang dicatat, perbandingan rinci masing-masing bahan pun dituliskan.
Para cendekiawan Dinasti Song memang gemar menulis buku dan mendirikan aliran pemikiran demi meninggalkan nama bagi generasi mendatang. Hal itu masih dapat dipahami oleh Zhong Hao. Namun, ia benar-benar tidak mengerti mengapa hal sepenting pembuatan senjata, yang menyangkut kepentingan militer dan negara, juga ditulis dalam buku. Bukankah resep mesiu seharusnya dijaga mati-matian? Mengapa malah ditulis dalam kitab? Apakah mereka takut bangsa Xia dan bangsa Khitan tidak mampu mempelajarinya?
Zhong Hao merasa resep mesiunya sendiri sama sekali tidak boleh diketahui orang luar, terutama Zeng Gongliang. Konon, Zeng Gongliang memiliki hubungan yang cukup baik dengan calon mertuanya kelak. Karena itu, ia harus waspada terhadap orang tersebut. Kalau tidak, dengan sifat Zeng Gongliang, mungkin tidak lama kemudian resep itu telah tersebar dan diketahui semua orang.
Senjata mesiu Dinasti Song Agung saat ini belum mampu membunuh dengan daya ledak karena keterbatasan mutu mesiu. Sementara itu, Zhong Hao memiliki mesiu dengan daya ledak yang cukup besar. Ia merasa seharusnya mengembangkan senjata yang mengandalkan ledakan untuk membunuh musuh. Menggunakan mesiu sekuat itu hanya untuk membantu pembakaran, melepaskan gas beracun, dan menghasilkan tabir asap sungguh merupakan pemborosan.
Granat tangan dan ranjau darat merupakan pilihan yang bagus. Keduanya seharusnya tidak terlalu sulit dikembangkan. Tentu saja, bom peledak—senjata pembunuh paling sederhana yang mengandalkan ledakan—juga tidak boleh dilupakan.
Namun, ketika Zhong Hao benar-benar mulai mengerjakannya, ia baru menyadari bahwa kondisi dasar pada zaman ini terlalu terbelakang. Banyak hal sulit diwujudkan.
Setelah diteliti oleh sejumlah pandai besi, akhirnya mereka berhasil membuat selongsong besi cor yang mudah pecah dan dapat digunakan untuk membuat granat tangan. Namun, mekanisme pemicu untuk meledakkan senjata mesiu itu kembali membuat Zhong Hao hanya dapat terbelalak.
Mekanisme pemicu berjangka, pemicu benturan, pemicu batu api, dan berbagai alat pemicu ledakan lain dari zaman setelahnya sama sekali belum tersedia. Bahkan membuatnya pun sangat sulit. Untuk sementara, Zhong Hao tidak berdaya.
Dengan terpaksa, Zhong Hao hanya dapat menggunakan cara sederhana: menyalakan sumbu serat api untuk meledakkan granat tangan.
Ia merasa bahwa mekanisme pemicu benturan dan pemicu batu api masih mungkin diwujudkan setelah dilakukan penelitian lebih lanjut. Hanya saja, untuk saat ini belum ada cara mengatasinya. Karena ranjau darat terutama mengandalkan pemicu benturan, pengembangannya untuk sementara tidak diperlukan.
Zhong Hao dan beberapa pengrajin tua itu memusatkan seluruh perhatian untuk meneliti dan menguji granat tangan, senjata ledak yang dapat membunuh musuh.
Mereka memasukkan mesiu ke dalam selongsong besi cor yang telah terbukti mudah pecah, lalu mengisinya dengan serpihan besi, paku besi, duri besi, dan berbagai benda tajam lainnya. Di bagian atas selongsong disisakan sebuah lubang kecil untuk memasang sumbu. Dengan demikian, lahirlah sebuah senjata ledak sederhana yang dipicu dengan api dan untuk sementara dapat disebut granat tangan.
Zhong Hao memandangi senjata berselubung besi itu. Meskipun bentuknya sangat jelek, hatinya tetap dipenuhi harapan.
Di luar Perkampungan Jingqiang, jauh dari tempat latihan barak pasukan tempur, Zhong Hao mencari sebuah lokasi untuk melakukan percobaan.
Di dalam perlindungan yang telah disiapkan, ia menyalakan serat api di ujung granat, lalu melemparkannya sekuat tenaga. Setelah itu, ia segera menjatuhkan diri ke dalam perlindungan bersama beberapa pengrajin tua.
Mereka menunggu cukup lama sebelum akhirnya terdengar bunyi dentuman tumpul.
Setelah dentuman itu, Zhong Hao dan para pengrajin tua merangkak keluar dari perlindungan dan maju untuk memeriksa hasilnya.
Hasil ledakan selongsong besi itu sangat tidak memuaskan. Selongsong tersebut hanya jebol dan membentuk sebuah lubang, tanpa pecah menjadi kepingan-kepingan. Namun, daya kejut ledakannya tetap cukup besar. Orang-orangan jerami di sekitarnya tercabik-cabik oleh gelombang udara ledakan.
“Mintalah para pandai besi membuat selongsong besinya sedikit lebih tipis. Sumbu serat apinya juga dipendekkan satu cun,” kata Zhong Hao setelah mengamati hasil ledakan itu kepada beberapa pengrajin tua.
Para pengrajin tua segera mencatat semua perintahnya.
Zhong Hao kemudian menjelaskan kepada mereka beberapa teknik untuk membuat mesiu berbentuk butiran, lalu meminta mereka mencoba membuatnya bersama-sama.
Mesiu hitam berbentuk butiran baru muncul setelah senjata api berlaras seperti senapan mulai digunakan secara luas.
Karena mesiu dibuat dalam bentuk butiran, terdapat cukup banyak udara di antara butiran-butiran tersebut. Hal ini membuat pembakaran mesiu menjadi lebih sempurna ketika terjadi ledakan. Selain itu, api menyebar di permukaan butiran, sehingga kecepatan pembakaran mesiu meningkat secara drastis. Dengan mempersingkat waktu reaksi, daya ledaknya pun menjadi lebih besar. Peningkatan daya mesiu dapat memperbesar daya dorong dan meningkatkan ketepatan sasaran.
Penggunaan mesiu berbentuk butiran juga mengurangi sisa pembakaran di dalam laras secara signifikan. Keandalan senjata pun meningkat, kemungkinan laras tersumbat berkurang, waktu yang diperlukan untuk membersihkan laras menjadi lebih singkat, dan pengisian mesiu berbentuk butiran juga lebih cepat. Dengan demikian, kecepatan menembak dapat meningkat pesat.
Tentu saja, Zhong Hao saat ini belum memiliki kondisi yang memungkinkan untuk membuat senapan atau senjata api berlaras lainnya. Namun, mengembangkan mesiu berbentuk butiran tetap berguna. Bahkan jika digunakan pada granat tangan, mesiu butiran juga dapat memperbesar daya ledaknya secara signifikan.
Selain itu, pada masa ini sebagian besar mesiu disimpan di dalam tong kayu. Sekalipun bubuk mesiu telah dihancurkan sehalus mungkin, ukuran partikel bahan-bahannya tidak mungkin benar-benar seragam. Jika bubuk mesiu terus terguncang di dalam ruang tertutup seperti tong kayu, partikel yang lebih besar akan naik ke atas, sedangkan partikel yang lebih kecil akan mengendap di bawah. Ketika digunakan, perbandingan bahan pun menjadi tidak akurat dan daya ledak maksimalnya sulit dicapai.
Setelah diangkut dalam jarak jauh, belerang sering mengendap di dasar tong kayu. Sebelum digunakan, mesiu harus diaduk kembali hingga tercampur rata. Jika tidak, daya ledaknya akan sangat terpengaruh. Mesiu berbentuk butiran dapat mengurangi masalah ini secara drastis.
Bubuk mesiu memiliki berbagai kekurangan tersebut, sementara pembuatan mesiu berbentuk butiran sebenarnya tidak terlalu sulit. Zhong Hao merasa, jika ada cara untuk memperbesar daya ledak mesiu, tentu saja cara itu harus diteliti dan diuji.
Sebenarnya, membuat mesiu butiran cukup sederhana. Mesiu dicampur dengan air dan sebagian bahan perekat, kemudian dipadatkan menjadi lempengan. Setelah itu, lempengan tersebut dihancurkan menjadi butiran dan dikeringkan. Tentu saja, jika dikerjakan dengan teliti, ada banyak hal yang harus diperhatikan. Ini juga merupakan pekerjaan yang membutuhkan ketekunan dan waktu.
Untuk benda seperti mesiu, mengerjakannya dengan lebih sungguh-sungguh tidak akan pernah salah. Semakin halus dan teliti pembuatannya, semakin besar pula daya ledaknya.
(Bersambung.)